I Want Live In Your World

I Want Live In Your World
Manipulasi ke Dua


__ADS_3

Aku menyebutkan semua yang ku inginkan. Taman yang kuinginkan dipenuhi oleh bunga dari berbagai dunia dan ada beberapa pohon buah - buahan, serta ada sebuah ayunan.


Alerd tersenyum puas dan kemudian dia berbalik dan menatap halaman yang luas.


"Sepertinya itu memerlukan waktu yang sedikit lama," Alerd.


Aku mengira Alerd akan memanggil bawahan atau siapapun untuk memenuhi keinginanku namun ternyata hanya dengan menggerakkan mata dan tangannya,tanaman hias liar yang ku tanam sudah tersingkir, dan digantikan oleh bunga indah dari berbagai dunia.


Aku sangat takjub, dan tersenyum riang melihat hal tersebut, namun aku berusaha menghentikannya.


"Berhenti, jangan gunakan kekuatan untuk membuat sesuatu. Ini adalah manipulasi namanya,"ucapku memegang tangan Alerd.


"Kenapa? Apa kau takut kekuatan yang ku gunakan terlalu berlebihan? Apakah kau menghawatirkan aku?" tanya Alerd bertubi - tubi.


"Hmm, tidak juga aku hanya takut dengan menggunakan kekuatanmu, kau akan memintaku untuk membayar padamu," kataku lagi.

__ADS_1


"Kamu memang sangat cerdas, tentu saja semua ini tidak percuma, kau harus membayar ku." Ucap Alerd kini mendekatkan wajahnya padaku. Tanpa sadar tanganku menamparnya, hingga pipinya memerah.


"Maaf, aku tidak sengaja, aku takut padamu.."ucapku gugup.


"Takut? kenapa dengan wajahku?" tanya Alerd.


"Bukan begitu, aku takut kamu melakukan sesuatu, anu,...apa,...itu" kini aku semakin gugup dan sulit mengendalikan diriku.


"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang terlalu jauh tanpa persetujuan darimu, aku bukan pria mesum seperti yang kau pikirkan," ucap Alerd yang kini memegang daguku, dan tersenyum lembut.


"Ah, aku akan membuatkan teh untukmu, sebaiknya aku bergegas," ucapku menepis tangan Alerd dari daguku.


Aku melihat Alerd tersenyum puas. Kini ia kembali menata tamanku.


Di dalam jantungku berdebar, rasanya tidak karuan. Dan rasa yang tidak bisa ku lupakan adalah perasaan malu karena bersikap terlalu percaya diri.

__ADS_1


"Terserah deh, itu bukan salahku. Semua adalah kesalahannya karena mendekatiku, dan terlalu baik padaku. Lagi pula apa salahnya jika menjaga harga diriku, aku tidak mau jika ....." aku berhenti sejenak.


"Sudahlah, sebaiknya aku bersikap seperti biasa saja. Oke tehnya sudah jadi," ucapku berusaha untuk tidak mengingat apa yang terjadi, terutama pada perasaan malu ku.


Aku berjalan ke arah Alerd, dan dari kejauhan Alerd sudah menoleh ke arahku. Lalu ia membuat gazebo dan mengedipkan matanya. Aku tidak tahu apa maksudnya, dan langsung ke arah gazebo tersebut lalu meletakkan teh di sana. Karena takut salah faham, dan salah tingkah lagi aku memutuskan untuk duduk di gazebo tersebut.


Saat melihat tanaman yang di tanam Alerd hatiku begitu sangat tenang, dan rasanya damai. Aku mengarahkan pandangan ke setiap sudut sampai berhenti pada Alerd yang ternyata terus memperhatikanku. Ia terus tersenyum, dan aku langsung menunduk, dan saat itu aku mendengar Alerd terjatuh. Aku pun langsung mendekatinya.


"Apa yang ingin kau lakukan lagi, sehingga terjatuh?" tanyaku membangunkannya.


"Apa kau terluka?" tanyaku mencoba mengangkat tangannya, ingin membantunya berdiri.


"Aku ingin memberikan sentuhan terakhir di dalam karyaku," ucapnya. "Namun sepertinya ini bagian yang tersulit bagiku," Alerd merasa kecewa pada dirinya sendiri. Aku melihat apa yang ingin Alerd buat, ternyata itu adalah sebuah Ayunan.


"Sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu," aku mencoba menuntunnya ke gazebo.

__ADS_1


__ADS_2