I Want Live In Your World

I Want Live In Your World
Menetap


__ADS_3

Saat aku berdiri di bawah pohon di luar kediaman dari samping pagar kediamanku ada sosok yang mengawasi ku. Saat karena telah diperhatikan begitu lama aku pun melirik ke arah orang tersebut. Kulihat wajah tampan yang sudah familiar berdiri di samping pagar.


Saat aku menoleh ia tetap berdiri sembari memegang pedang yang terselip di pinggangnya. Ia mengintruksikan agar aku masuk ke dalam ruangan ku dengan tatapan dinginnya. Namun aku tidak mau kalah. Aku tidak memedulikannya dan terus berdiri di tempatku sampai Panglima Cheng menyerah dan mendekatiku. Saat itu ada seekor hewan yang mirip dengan cicak jatuh ke arah kami.


Aku terkejut dan menghindar, melihat hal tersebut panglima Cheng terus memperhatikan pergerakan ku. Lalu kami kembali terdiam satu sama lain, hingga suasana dingin dihapus oleh kepakan kupu - kupu yang mendekatiku. Namun panglima Cheng langsung menebas mereka semua dengan pedang tajamnya. Aku yang melihat hal tersebut menjadi sangat jengkel, dan meninggalkannya masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu dengan keras.


Kini ruangan di kamar ku sungguh sunyi, dan tersisa kenangan bagaimana wanita paru baya melakukan pekerjaannya. Mengganti gorden sutra, atau merapikan tempat tidur, dan selalu menasehati diriku yang begitu keras kepala. Sesekali Wanita paru baya akan menceritakan dunia yang aku tinggali. Wanita paru baya mengira aku hilang ingatan.


"Sudahlah," ucapku menepis kenangan tersebut, lalu pergi ke dalam ruangan air panas itu untuk berendam. Biasanya wanita paru baya akan menggosok rambutku dan mengolesi minyak rambut yang begitu harum. Aku memejamkan mata dan membayangkan bagaimana belaian halus wanita paru baya tersebut.


"Tidak boleh, sepeti ini sejak kapan aku bersikap manja, aku bisa melakukan semuanya sendiri," ucapku memukul air, dan kembali memejamkan mata. Saat aku kembali memejamkan mata, aku merasakan ada tangan yang mengelus rambutku dan disertai harum minyak rambut menyebar ke ruangan pemandian air panas tersebut.


"Bibi," lirihku sembari membuka mata dan menoleh.


"Untuk sementara aku akan membantumu melakukan semuanya," ucap orang yang mengelus rambutku, yang tidak lain adalah panglima Cheng.

__ADS_1


Aku mencoba menutupi tubuhku dengan tangan disilangkan di depan dadaku.


"Kenapa? Bukankah aku sudah pernah bilang aku selalu melihat semua yang ada pada dirimu, untuk apa malu,"ucapnya lagi.


Aku tidak bisa berbicara lagi, hanya diam ingin marah namun tidak bisa.


"Lagi pula saat kau tidak sadarkan diri, aku melakukan hal yang lebih dari ini untuk menyelamatkanmu, agar tubuhmu menyerap obat yang diberikan dokter.


"Berhenti aku bisa melakukannya sendiri!"ucapku tegas.


"Aku tahu kamu dapat melakukan semuanya sendiri, namun tubuh wanita di duniaku ini rentan, tubuhnya harus dirawat dengan baik, tidak seperti tubuhmu yang berada di duniamu," terus mengoleskan minyak ke rambutku.


"Apa kau sudah tahu alasanmu berada di duniaku?"


"Aku belum tahu,"

__ADS_1


"Kenapa kau ingin mati hanya karena orang lain tidak menyukaimu?" Tiba - tiba panglima Cheng bertanya tentang kehidupan nyata ku.


"Apapun yang terjadi kau tidak boleh mati, karena aku tidak ingin kehilanganmu," tiba - tiba suasana berubah menjadi dramatis.


"Berhenti berpura-pura baik padaku," kataku kini bersikap santai.


"Lagipula untuk seorang panglima tangguh sepertimu apakah kau tidak memilki pekerjaan yang lebih penting dibandingkan mengurus wanita sepeti diriku?" tanyaku berusaha mengubah topik pembicaraan.


"Tugasku begitu banyak hingga aku lupa pada diriku, namun kamu adalah prioritas," ucapnya.


"Sampai kapan kau akan ada berada di ruangan ku?" tanyaku.


"Baiklah, rambutmu sudah selesai sekarang aku akan keluar dari pemandian air panas, pakailah pakaian yang sudah aku pilihkan.


Aku keluar dari pemandian air panas saat sudah memastikan panglima Cheng benar - benar keluar. Dan langsung cepat - cepat memakai gaun putih yang merupakan gaun dalaman yang biasa dikenakan oleh penghuni dunia misterius itu. Lalu aku keluar dan benar saja di samping meja rias sudah ada pakaian yang sudah siap, lalu aku mencoba memakainya namun aku tidak faham. Sampai panglima Cheng yang entah dari mana tiba -tiba membantuku memakai gaun tersebut.

__ADS_1


"Aku akan terus berada di sisimu sampai aku menemukan seorang pelayan setia dan cocok untukmu," ucapnya.


Setelah selesai berganti pakaian aku baru sadar jika pintu kediamanku telah ku kunci dari dalam namun, panglima Cheng masih bisa masuk ke dalam ruangan ku. Aku ingin, berlari menjauhinya namun kainku tersangkut, dan membuatku terjatuh. Memalukan.


__ADS_2