
"Dimana aku?" tanya Dion, kedua matanya melebar sempurna. Saat melihat dia tidak ada di kamarnya sendiri. Kedua bola mata itu mulai berkeliling. Melihat sekitarnya. Kamar yang terlihat sangat asing. Begitu kecil, dan ruangan yang terlihat sangat pengap baginya. Dia tidak terbiasa dengan kehidupan ini. Apalagi Dion yang terlahir sebagai orang kaya.
Dion menautkan kedua alisnya. Dia beranjak duduk, sembari tangan kanan memegang kepalanya yang terasa sangat berat. Dan, sedikit pusing. Sisa alkohol kemarin membuat kepalanya masih terasa sangat pusing.
Dion berdesis pelan. Dia mengerutkan kedua matanya. Merasakan rasa sakit kepalanya yang hampir saja membuat dirinya terjatuh lagi.
"Siapa yang bawa aku kesini?" tanya Dion. Pada dirinya sendiri.
Dion berusaha untuk segera beranjak dari ranjang itu. Kedua mata masih menelusuri setiap sudut ruangan itu. Tidak ada satu orangpun di sana. Hanya ada dirinya sendiri. Dion segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Dia menarik kakinya yang terasa sangat berat untuk berjalan. Bahkan kepalanya juga masih sakit.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bella. Seketika langkah Dion terhenti. Saat dia mendengar suara seorang wanita. Bola matanya ke atas. Berpikir siapa wanita itu. Kenapa dia bisa ada di rumah seorang wanita? Apa dia yang membawanya kemari.
Dion mencoba mengingat kembali kejadian di bar kemarin malam. Dia menggerakkan kepalanya pelan. Kedua matanya terpejam. Semakin dia mengingat kejadian itu. Kepalanya terasa semakin pusing. Dion hanya mengingat jika ada seorang wanita yang duduk bersamanya kemarin. Dan, dia mencoba untuk menggodanya.
Dion menghela napasnya. Dia membalikkan badannya. Mengangkat kepalanya perlahan. Kedua mata itu mulai fokus pada wanita yang ada di depannya. Dion memicingkan matanya. Dia bukan wanita itu, kenapa bisa ada disini? Kenapa bisa ada wanita yang tidak dia kenal.
"Siapa kamu?" tanya Dion.
Bella tersenyum tipis. Dia melirik ke belakang. Melihat Amera yang masih di kamar mandi. Lalu, Bella kembali menatap ke arah Dion. "Aku, Bella. Kemarin temanku yang bawa kamu kesini," ucap Bella.
"Teman kamu?" tanya Dion. "Siapa dia?" lanjutnya.
"Amera," jawab Bella.
"Amera?" Dion mencoba memeras otaknya kembali. Untuk berpikir siapa Amera. Apa dia wanita kemarin malam? Dia bahkan tidak tahu siapa nama wanita itu. Dia juga tidak ingin tahu siapa dia. Itu bukan urusannya.
__ADS_1
"Amera? Apa dia yang menggodaku kemarin?" tanya Dion lagi.
"Iya," saut Amera. Dia baru saja keluar dari kamar mandi. Tersenyum simpul, berjalan dengan langkah pelan mendekati Dion.
Dion berdengus kesal. Kedua mata itu menatap tajam ke arah Amera.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan. Kenapa kau membawaku kesini. Rumah kecil ini." kesal Dion.
"Memangnya kenapa?" tanya Amera. Menarik kedua alisnya ke atas secara bersamaan.
"Kamu kemarin mabuk. Aku tidak tahu rumah kamu mana. Lagian, jika aku dan Alex pergi ke rumah kamu. Sama saja aku cari mati. Gimana kalau keluarga kamu mengira aku yang membuat kamu seperti ini," jelas Amera sedikit meninggikan suaranya.
Dion terdiam sejenak. Dia tidak tidak sadar statusnya. Benar apa yang dikatakan wanita itu. Dion yang merasa sedikit bersalah menyalahkan dia. Dia tertunduk, tanpa berani mendapat Amera.
"Iya, sekarang aku lapar." Dion mengusap perutnya yang terasa sangat lapar.
Dion berjalan mendekati Amera. Kedua matanya menyipit ketika melihat apa yang ada di depannya. "Ini apa?" tanya Dion. Dia belum pernah makan mie sebelumnya. Bahkan keluarganya yang tidak pernah membiarkan Dia makan mie instan. Keluarga Dion selalu menerapkan hidup sehat.
"Ini mie, makanan aku sehari-hari sama Bella. Kamu belum pernah makan?" tanya Amera.
Dion menggelengkan kepalanya. Dia yang penasaran dengan rasanya. Dia beranjak duduk di lantai. Sama seperti Bella yang sudah duduk duluan. Dia bahkan sudah makan lebih dulu. Tanpa pedulikan Amera dan Dion yang masih saling bicara.
"Apa ini enak?" tanya Dion.
"Coba saja, kalau kamu tidak suka. Aku akan belikan kamu makanan di luar," saut Amera.
__ADS_1
Dengan penuh keraguan. Dion mencoba makan mie instan yang ada di depannya. Dia mengangkat tangannya, makan dengan garbu, dan perlahan mulai masuk ke dalam mulutnya. Seketika kedua mata itu melebar sempurna. Gimana bisa, rasanya terbayar enak. Dion yang belum pernah makan ini. Tidak tahu rasa aslinya ternyata membuat lidahnya terasa ingin sekali makan lagi.
Dion yang sudah kelaparan. Dia makan begitu layaknya. Membuat Bella dan Amera saling memandang kesekian. Lalu kembali menatap ke arah Dion. Amera menelan ludahnya susah payah. Dia menggelengkan kepalanya. Saat melihat Dion makan sangat lahap seperti orang tidak pernah makan sebelumnya.
**
Sementara di sebuah ruangan yang amat luas. Nan, minim sekali cahaya. Seorang laki-laki paruh baya sedang duduk di kursi dengan ukiran klasik di bagian penyangga. Dia menghisap rokok yang ada di tangannya. Wajah yang penuh dengan ambisi.
"Boss, tuan belum pulang," ucap seorang penjaga.
"Dia kemana?" tanya Delmon, laki-laki paruh baya. Seorang ketua mafia yang sangat disegani di penjuru kota. Bahkan namanya sudah merambah sampai luar negeri. Tapi, tidak ada yang tahu sosok Delmon sebelumnya. Mereka hanya tahu namanya, Delmon lebih suka bekerja dari balik layar. Dia tidak suka terjun langsung menangani para musuhnya.
"Kemarin dia pergi ke club malam," jawab bodyguard Delmon.
"Sesuai rencana," ucap lirih Delmon. Bodyguard itu mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan Delmon.
"Sesuai rencana apa, tuan?" tanya bodyguardnya.
"Kamu cari wanita kemarin. Dan, segera bawa dia menghadap padaku. Aku ingin bicara dengannya," pinta Delmon.
"Baik, tuan!"
"Segera lakukan sekarang. Tapi, tunggu jika Dion sudah pulang. Kamu minta wanita itu segera datang ke rumah ini. Tunjukan padanya. Dimana aku," pinta Delmon. Dia menarik sudut bibirnya. Sebuah rencana yang disusun sangat rapi olehnya sudah berhasil dia dapatkan. Sekarang, anaknya sudah dekat dengan wanita itu. Tidak disangka olehnya. Rencana itu begitu cepat.
"Saya, permisi keluar dulu, tuan!" kata bodyguard Delmon. Dia segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan itu. Beberapa pengawal lain berdiri di belakang Delmon. Mereka tidak ada yang berani ikut campur. Jika itu bukan tugasnya.
__ADS_1
Sekarang, aku harus membuat rencana lagi. Akan aku jadikan mereka sesuatu yang menguntungkan. Aku tidak peduli siapa Amera? Apa tujuannya? Yang terpenting sekarang. Pernikahan 1 minggu lagi tidak boleh batal. Boleh diundur tapi tidak boleh dibatalkan. Karena semuanya sudah diundang olehnya.
Apa pernikahan itu akan terjadi? Apa Dion mau menikah dengan Amera sesuai dengan keinginannya?