
Amera menggelengkan kepalanya. Dia tidak peduli dengan laki-laki tadi. Sekarang, dirinya harus pergi menemui boss dari pada harus meladeni laki-laki tak jelas tadi.
Sampai di depan ruangan sang boss. Amera menghentikan langkahnya. Dia terus mengetuk pintu yang terbuat dari kayu itu. Amera terus berdiri. Menunggu jawaban dari boss untuk masuk. Namun, alat pendengarannya yang tajam, tak sengaja mendengar ucapan sang boss di dalam.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Mike, boss Bella dan Amera. Dan, bahkan Amera dan Mike juga tidak tahu. Siapa anggota lainya. Semuanya di rahasiakan. Tapi, semua juga punya kartu identitasnya sendiri.
"Gimana, kamu sudah mendapatkan informasi tentang Mafia di timur?"
"Saya sudah dapat semua datanya. Jika kamu ingin melihat semuanya. Kamu bisa buka sendiri baca semuanya. Aku juga sudah simpan semua file di sini."
"Baiklah, kamu kerjakan lagi. Terus mata-matai dia. Jangan biarkan dia pergi," ucap Mike.
"Tapi, bukannya kamu pacaran dengan anaknya?"
"Semua rencananya gagal," ucap penuh dengan penyesalan dari Mike.
"Gimana bisa?"
"Bella tahu semuanya. Dia marah padaku, dan sekarang dia juga sangat membenciku."
"Kamu tidak jelaskan padanya. Jika itu hanya misi."
"Tidak sempat aku menjelaskan padanya. Dia sudah terlanjur marah. Bahkan tidak mau bertemu denganku lagi," ucap Mike. Terdengar dari suaranya. Dia terlihat sangat menyesal.
"Sekarang, gimana hubungan kalian, berakhir?"
"Iya," ucap penuh penyesalan.
__ADS_1
Amera yang menyebar percakapan itu. Dia terdiam, dia bingung harus membela siapa sekarang. Semuanya ternyata salah paham. Tapi, Mike juga salah. Dia menyakiti Bella tanpa perasaan sama sekali. Dia juga tidak pernah bilang semua masalahnya pada Bella.
"Ini, hubungan jika tidak ada saling terbuka," ucap Amera. Semuanya terkahir hanya karena salah paham.
Amera menghela napasnya. Dia kembali mengetuk pintu ruangan kerja Mike. Kedua mata Amera terus saja mengetuk pintu itu. Meski dirinya tahu pasti mereka akan bingung sudah ketahuan berbicara itu.
"Masuklah!" pinta Mike.
Amera membuka pintu itu. Dia perlahan masuk ke dalam ruangan Mike. Laki-laki di depan Mike. Dia menggekrkan kepala dan tubuhnya, menoleh ke belakang. Melihat sosok Amera yang berjalan ke arahnya.
"Dia ...." Laki-laki itu mengingat Amera tadi orang yang dia tabrak di depan.
"Kamu kenal dengannya?" tanya Mike, melirik ke arah laki-laki yang ada di depannya.
"Dia tadi jalan melamun. Dan, aku gak sengaja menabraknya," jelas laki-laki itu. Dengan wajah yang penuh emosi melihat Amera.
"Dia Amera, anggota intelijen. Jadi jangan buat masalah dengannya. Jika kamu masih ingin hidup. Dia itu wanita yang sangat licah,"
"Anggota?" tanya Raka tidak percaya.
"Iya, kamu bisa akibat di kartu anggotanya. Lagian setiap anggota tidak pernah menunjukan identitas mereka. Tidak ada yang menunjukan bagaimana mereka bekerja. Mereka sangat pandai menyembunyikan rahasia," jelas Mike.
Raka menarik sudut bibirnya. Entah kenapa dia masih belum percaya dengan apa yang di katakan Mike. Raka bangkit dari duduknya. Dia berjalan mendekati Amera.
"Mana kartu anggotamu?" tanya Raka. Mengulurkan tangannya pada Amera.
Amera menarik sudut bibirnya. Dia memutar matanya malas. Dengan terpaksa harus menuruti apa yang Raka katakan. Dia memberikan kartu anggotanya. Menunjukan jika itu dirinya. Seketika Raka terbungkam. Ternyata benar jika wanita di depannya anggota intelijen.
__ADS_1
Raka menoleh ke belakang. Dia menatap ke arah Mike. Kedua mata menyipit. Mengingat apa yang pernah Mike katakan dulu. "Bentar, apa dia wanita yang kamu katakan padaku dulu?" tanya Raka.
"Kamu pernah bilang padaku. Jika ada anggota intelijen yang sangat mematikan. Dia seorang wanita, pandai dalam segala jenis senjata. Dan, dia juga bagi dalam hal bela diri. Semua jenis bela diri dia kuasai," ucap Raka. Kedua matanya melebar. Dia masih belum menyangka jika ornag yang du tenuinya ini afalah wanita yang di carinya. Dia ingin kerja sama drnganjya. Dan, apa boleh buat. Sekarang dirinya harus bekerja sama dengannya nanti.
Raka menarik sudut bibirnya. Dia mengamati dari ujung kepala sampai kakinya. Melihat wanita yang ada di depannya ini begitu galak.
"Ia belajar dari mana," tanya Raka bingung.
"Dia anak dari anggota, dia punya kakak juga anggota intelijen. Tetapi ...." ucapan Mike terhenti. Dia menatap ke arah Amera. Ingin mengatakan yang sebenarnya pada Amera. Tapi, dia merasa sangat takut jika melukai hati Amera. Amera juga selalu marah jika dia membahas tentang kakaknya.
"Kakak aku meninggal. Dia dibunuh oleh salah satu dari anggota geng mafia. Aku yang akan menyelidiki sendiri kakak kematian kakak aku. Dan, tidak ada ikut campurnya dengan kelian," tegas Amera. Dia bahkan begitu tenang saat mengatakan hal itu.
"Jangan katakan ini pada siapapun lagi. Masalah kakak aku itu masalahku. Jangan ikut campur. Dan, jangan penasaran kenapa kematiannya. Apa tujuannya," ucap Amera. Dia mencoba menarik sudut bibirnya. Tersenyum simpul di depan Raka dan Mike. Kedua laki-laki itu hanya diam. Mereka sama-sama merasa bersalah pada Amera.
"Maaf, bukan maksud aku membahas tentang kehidupanmu. Aku juga tidak tahu tentang itu," ucap Raka. Raut wajahnya berubah seketika. Tampak sedikit sayu.
"Baiklah, Amera. Sekarang kamu duduk dulu. Ada yang ingin aku katakan pada kalian berdua," pinta Mike. Meminta Amera dan Raka untuk duduk kembali.
Amera menganggukan kepalanya. Dia segera beranjak duduk. Raka duduk di samping Amera. Mereka mulai menatap kompak ke arah Mike.
"Tugas?" tanya Amera. Raut wajah Amera masih saja dingin.
"Iya, tugas untuk kalian. Sebenarnya aku ingin memberikan tugas pada kamu dan Bella. Tapi, Bella sekarang masih tidak baik-baik saja. Jadi aku minta Raka untuk temani kamu," jelas Mike. Dia berbicara pada Amera.
"Aku bisa melakukan sendiri,"
"Tidak!" tegas Mike. "Ini bukan tugas ubtuk satu ornag. Lagian kamu juga harus bekerja sama dengan ornag kain. Jika kamu sendiri. Jika dalan bahaya siapa yang menolong kamu. Siapa yang membantumu memberi arahan. Dan, siapa juga yang akan menjaga dari belakang kamu. Aku tahu kamu bisa sendiri. Tapi, semuanya tidak bisa di lakukan sendiri. Harus ada team." Mike menjelaskan semuanya pada Amera. Dia tidak mau jika tugas hanya di kerjakan sendiri. Paalfu mengulang kisah lalu tentang kakak Amera. Dia begitu percaya diri melakukan tugasnya sendiri. Tanpa tahu siapa yang di hadapannya. Sampai sekarang bahkan kasus itu tidak terungkap. Dan, Amera juga bertahun-tahun berlayar bela diri. Dia belajar menguatkan dirinya sendiri. Untuk tetap bertahan hidup. Dia juga berusaha untuk menjadi wanita tangguh yang bisa menghadapi semua sendiri. Tanpa orang tua. Tanpa perlindungan dari siapapun.
__ADS_1
"Tugas apa? Dan, Apa yang harus kita lakukan? Membunuh. Atau, aku harus memberi pelajaran pada seseorang?" tanya Raka.