
"Gimana? Apa yang harus kau lakukan sekarang?" tanya Amera. Dia tak hentinya terus menghela napasnya.
"Memangnya kamu melakukan apa?" Bella semakin bingung. Dia mengerjapkan kedua matanya. Menggaruk kepala belakang yang tak gatal itu.
Amera menggerakkan tubuhnya. Dia dia menatap ke arah Bella. "Aku menandatangani kontrak. Aku harus membuat Dion jatuh cinta," ucap Amera.
"Apa?" Bella seketika melotot mendengar hal itu. Kedua bola kata itu hampir saja keluar dari kerangkanya. Mendengar kabar yang begitu mengejutkan baginya.
"Kamu yakin?" tanya Bella.
"Iya, aku yakin," ucap Amera. Dia menghela napasnya frustasi. Sembari menundukkan kepalanya yang terasa sangat pusing itu.
"Gimana bisa? Terus bagaimana jika kamu tidak bisa membuat Dion jatuh cinta?" tanya Bella. Dia meriah satu gelas minuman diatas meja. Meneguknya sejenak, merasa tenggorokannya sudah mulai lega. Dia kembali menatap Amera
"Bentar, jelaskan! Gimana kamu bisa sampai harus menandatangani ini." Bella terus memojokkan Amera untuk bicara.
Amera memejamkan kedua matanya. Menarik napasnya dalam-dalam, menahannya, lalu mengeluarkan secara perlahan. "Aku tidak tahu, harus berbuat apa lagi," ucap Amera. Dia membuka kelopak mata dengan bulu mata lentik memenuhi dua kelopak matanya.
"Laki-laki paruh baya itu. Meminta pengawalnya untuk memberitahumu. Jika aku harus datang ke ruangannya. Sampai aku disana. Aku disodorkan perjanjian yang membuat kepalaku terasa meledak sekadang," Amera memegang kepalanya. Sembari terus menggelengkan kepalanya.
"Kamu mana mungkin bisa membuat Dion jatuh cinta. Kamu tahu sendiri, bagaimana Dion. Bahkan di otak Dion selalu terpikirkan Adella, gimana caranya aku bisa mengganikan posisi Adella di hatinya." Amera menghela napasnya. "Mana mungkin posisi puluhan tahun bisa tergantikan selama beberapa hari. Dion denganku saja tidak respon. Dia begitu dingin pada wanita."
"Terus sekarang kamu harus bagaimana?"
"Aku harus segera pergi. Besok, aku akan masuk ke dalam rumahnya. Dia hari lagi akan ada pesta disana. Tapi, sekarang yang paling penting aku harus ijin dengan boss. Gimana bisa aku mendapatkan ijin darinya?" Amera semakin bingung.
Bella mengerutkan bibirnya. Dia ikut berpikir untuk membantu temannya itu. Seketika Bella mulai teringat sesuatu. "Oh, ya! Ra, aku baru ingat. Tadi, bos mencari kamu. Dia bilang sesuatu padaku. Katanya kalau kamu pulang, harus menghadapi dengannya. Ada tugas baru yang harus kamu selesaikan."
__ADS_1
Amera berdesis pelan. "Tugas?" Kedua bola mata Amera memutar. Dia terlihat begitu lelah. Di lain sisi harus menyelidiki kematian ayahnya. Disisi lain, dia juga harus melakukan tugasnya seperti biasa.
"Baiklah, setelah ini. Aku akan datang menemuinya," ucap Amera. Kedua mata Ka arah. Menatap lekat wajah Bella. Dia tahu temannya masih terluka. Tapi, kali ini dia bahkan terlihat biasa saja.
"Bella, kamu tidak apa-apa bertemu dengannya? Dia tidak melukai kamu, kan?" tanya Amera.
Bella mengulurkan sebuah senyuman tipis di wajahnya. "Mana mungkin aku terus berlarut dalam sakit hati itu. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Lebih baik, melupakan semua yang terjadi. Sekarang, aku lebih fokus melakukan tugas.
"Memangnya dia beri kita tugas apa?" tanya Amera penasaran.
"Kita datang bersama saja, ke ruangannya nanti. Tadi dia menghampiri aku. Aku tidak mau bicara dengannya. Jadi, aku tutup pintu. Dan, bicara dari balik pintu," kata Bella. Menjelaskan semuanya.
Amera menepuk bahu Bella dua kali. "Jangan terus merasa sedih. Lupakan dia yang menyakitimu. Sekarang mulai hidup baru. Kita lebih baik dibukukan diri kita terus bekerja dan bekerja." Amera memberikan nasehat sok bijak padanya.
"Jadi, kita harus apa sekarang? Gimana jadinya aku harus tinggal disini sendiri. Apalagi saat kamu tidak ada disini? Aku pasti sangat kesepian,"
"Entahlah," ucap Bella yang tidak mau lagi menghiraukan ponselnya.
"Angkatlah, Gimana kalau itu penting?" ucap Amera.
"Tidak perlu, itu gak terlalu penting." Bella bangkit dari duduknya. Dia segera pergi meninggalkan Amera. Dia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Hatinya yang masih merasa kesal. Dia mengambil ponselnya, melihat layar ponsel yang masih menyala. Dan, benar saja panggilan telepon dari Mike. Membuat dirinya merasa sangat muak. Bella membuang ponselnya di atas ranjang. Dia tidak mau mengangkat telpon darinya
"Bella, kamu ada masalah apa?" tanya Amera. Dia yang bingung dengan keadaan Bella. Amera membentuk pintu kamar Bella. Sembari terus memanggil namanya.
"Tidak ada masalah, sekadang jamu pergilah ke kantor," teriak Bella dari dalam ruangan kamarnya.
"Tapi, gimana denganmu nanti?" tanya Amera.
__ADS_1
"Jangan pedulikan aku. Jika kamu sudah tahu tugasnya. Kita segera pergi. Aku juga mau keluar nanti. Cari tempat tinggal juga. Aku tidak mau tinggal di asrama kecil ini sendiri. Apalagi jika aku harus berhubungan dengan Mike. Aku tidak mau," tegas Bella.
Amera berdesis pelan. "Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi, kamu beneran gak apa-apa, kan?" tanya Amera memastikan.
"Iya, kamu tenang saja," teriak Bella
Amera segera keluar dari tempat tinggalnya. Dia berjalan dengan langkah perlahan. Meskipun hatinya tidak sanggup jika harus meninggalkan Bella sendiri. Dia khawatir jika Bella akan berbuat nekat nantinya. Apalagi ini adalah patah hati pertama kali baginya. Pasti sangat sakit.
Amera yang berjalan dengan tatapan mata kosong. Dia tak sengaja menabrak seseorang di depannya. Lengan tangannya terasa sangat sakit. Dia berdesis kesal. Sembari memegang lengannya. Amera mengangkat kepalanya. Menatap tajam laki-laki di depannya.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap laki-laki itu. Terus mengucapkan kata maaf padanya.
"Kalau jalan kaki mata," umpat kesal Amera.
Laki-laki di depannya mengerutkan keningnya bingung. "Bentar, jalan pake kaki, bukan pake mata. Lagian aku sudah minta maaf. Jika kamu masih marah itu juga terserah kamu," ucap laki-laki itu.
Amera menggerakkan giginya. Dia menahan emosinya. Melihat laki-laki itu yang terlihat berani dengannya. Dia merasa sangat muak. Lagian, siapa dia? Kenapa dia datang dan tidak punya sopan satu sama sekali dengannya.
"Sekali lagi, aku minta maaf! Jadi wanita jangan terlalu galak, kamu mana bisa cari laki-laki nanti," ledek laki-laki itu.
"**** ... siapa sebenarnya dia? Kenapa dia berani sekali berbicara seperti itu padaku?" geram Amera. Hembusan napasnya semakin kasar. Aliran darahnya mulai mendidih. Ingin rasanya mencabik bibirnya. Tapi, dengan cepat laki-laki itu pergi dari pandangan matanya.
"Bentar, laki-laki itu tadi ...?"
"Aku sepertinya pernah melihatnya. Bentar, dia tidak asing. Tapi, dimana aku melihatnya." Amera mengerutkan keningnya sangat dalam. Dia memutar otaknya untuk bekerja keras mengingat siapa laki-laki tadi. Amera kemeja kan matanya.
"Tapi, dimana aku bertemu dengannya? Kenapa aku jadi lupa seperti ini?" gerutu Amera.
__ADS_1