
Setelah pesta selesai. Amera di minta untuk tinggal di rumah Delmon. Bahkan pengawal tuan Delmon sudah membantu dia untuk mengambil semua barang-barangnya. Pernikahan akan segera di mulai. Dia masih begitu ragu saat harus menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak di cintai olehnya. Bahkan laki-laki itu juga tidak membencinya. Setelah tahu kenyataan. Semuanya berubah, Deon yang awalnya baik padanya. dia kini mulai menghindar. Dia tidak menyangka jika Amera mau menerima tawaran ayahnya untuk menikah dengannya.
Amera yang merasa snagat bisa berada di kamarnya dari tadi. Dia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Berjalan perlahan menuju ke dapur. Beberapa kali pandangan mata Amera tertuju pada pengawal yang begitu banyak tersebar di setiap sudut ruangan.
"Rumah ini sepeti penjara!" kesal Amera dalam hatinya. Dia menghela napasnya. Dengan percaya diri berjalan melewati beberapa pengawal yabg berjaga.
Setelah berhasil mengambil satu gelas air. Amera melangkahkan kakinya meninggalkan dapur menuju ke ruang tamu. Langkahnya terhenti. Kedua alisnya saling tertaut. Saat dia mengerti sosok laki-laki yabg sedang duduk sendiri.
"Itu, Dion?" gerutu Amera. Dia melangkah dengan sangat hati-hati. Menciba memastikan jika benar itu Deon.
"Dion!" Panggil Amera. Memulai berbicara dengan Dion.
"Dion, apa yang kamu lakukan?" tanya Amera. Dia tak sengaja bertemu Deon yang duduk sendiri di ruang keluarga. Dia hanya diam sembari melamun. Entah apa yang di pikirkan laki-aki itu. Bahkan ponsel yang tergeletak atas meja itu terus berbunyi. Dion bahkan tidak memperhatikannya. atau, sengaja dia tidak mau mengangkat panggilan telfon dari seseorang.
Merasa tidak ada jawaban dari Deon. Amera melangkahkan kakinya. Dia berjalan mendekati Deon. Menepuk pundak laki-laki itu. Sontak membaut Deon terkejut. Deon menoleh ke kanan. Dia melihat sosok Amera yang berdiri di sampingnya. Dengan tangan kanan memegang satu gelas air putih.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Deon kesal.
"Aku tanya dari tadi. Kamu gak jawab. Memangnya apa yang kamu pikirkan," Amera duduk di samping Dion.
"Gak ada!" jutek Dion.
"Apa kamu masih memikirkan mantan kekasihmu?" tanya Amera.
"Tidak!" ucap Dion. Dia memalingkan pasangan matanya acuh.
"Aku pergi dulu." Dion bangkit dari duduknya. Dia segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Amera sendiri.
"Tunggu!" ucap Amera. "Apa kamu marah denganku karena pernikahan itu."
__ADS_1
"Tidak, tidurlah! Jangan terlalu di pikirkan. Aku juga akan menerima apa yang ayah aku katakan. Aku tidak akan menolaknya. Tapi, bukan berarti aku suka denganmu." kata Dion. Tanpa menunggu jawaban dari Amera. Dion melangkahkan kakinya pergi. Dia berjalan menjauh dari Amera.
Amera menghela napasnya. Dia mengerutkan bibirnya. Beranjak duduk di sofa belakangnya. Sembari meneguk minuman yang sedari tadi di genggaman tangan kanannya.
"Apa aku salah jika aku menikahinya. aku hanya ingin tahu tentang kakakku. Jika benar dia pembunuh kakakku. Seperti apa hang aku pikirkan. Maka aku harus masuk ke dalam kehidupannya. Untuk membuktikan semuanya." gerutu Bella. Berdesis pelan. Jemari tangan lentik itu perlahan meletakkan satu gelas air putih di atas meja.
"Apa sebenarnya yang dia rencanakan. Kenapa dia membunuh kakakku? Tapi, anehnya kenapa Delmon memberi tahumu jika pembunuh itu anaknya? Apa dia juga punya maksud lain?" Amera terdiam. Dia mengigit bibir bawahnya. Merasa ini masalah serius. Dia segera beranjak dari duduknya. Terbesit rencana gila yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Amera memejamkan langkah kakinya. Kedua nata menelisik sekitarnya. Merasa sudah aman, Amera berjalan menuju ke ruangan yang jauh dari tempat tidurnya. Banyak sekali penjaga disana. Bahkan, Dellon terlihat keluar dari kamarnya. Dan, berjalan menuju ke sebuah ruangan yang tak jauh dari kamarnya. Merasa curiga, Amera berjalan lebih dekat lagi. Dia berusaha menghindar dari beberapa penjaga yang berjalan mondar-mandir.
"Sialan banyak sekali penjaga!"
"Tuan, ada seseorang yang mencari anda" ucap penjaga itu. Pada Delmon yang keluar lagi dari ruangan itu. Aku harus menyusun rencana lagi nanti. Aku tidak mungkin masuk ke dalam sana. Apalagi penjaga disana sangat ketat," gumam Amera lirih. Tak mau lagi ingin tahu lebih jauh
Amera seger alergi dari sana. Sebelum ketahuan dan akan membaut masalah baru.
Amera berlari masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa menutup pintunya. Mengunci pintu kamarnya sangat rapat.
Getar ponsel di atas meja itu terngar sangat keras. Amera segera mengambil ponselnya. Menatap layar ponselnya. Dia melihat kontak nama Bella di layar ponselnya.
"Bella, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu telfon malam-malam."
"Bagaimana tugasmu?" tanya Bella.
Amera menghela napasnya. Dia mengusap keningnya sampai ke atas kepalanya. "Atsgaa, Bella. Aku baru saja masuk ke dalam rumah ini. Aku belum tahu semuanya disini. Aku harus melakukannya dnegan sangat hati-hati,"
"Baiklah, akh akan terus memantau," ucap Bella di ujung sana.
"Oh, ya! Kapan kamu menikah? Dengar-dengar kamu akan menikah?" tanya Bella.
__ADS_1
"Dua hari lagi. Aku akan menikah dengan Dion. Dan, kamu harus datang. Aku tidak mau tahu. jangan beralasan apapun."
"Baiklah! Aku pasti datang." jawab Bella.
"Kamu bantu aku,"
"Pasti,"
"Besok, segera pergi ke tempat yang aku kirim tadi. Aku sudah chat alamatnya padamu. Aku tunggu kamu, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa?" tanya Amera mengerutkan keningnya bingung.
"Nanti kamu juga akan tahu. Besok jam 8 pagi. kamu harus sudah ada disana." kata Bella mengingatkan.
"Selalu bikin penasaran. Kenapa kamu tidak bilang siapa yang mau bertemu denganku?" tanya Amera.
"Ini rahasia!" ucap Bella. Sembari terkekeh kecil. "Sudah, lebih baik sekarang kamu istirahat. Aku juga mau pergi ke rumah seseorang."
"Jangan bilang kamu mau bertemu bos yang jelas-jelas dia menyakitimu," kesal Amera. Dia selalu tahu bagaimana sikap Bella saat dia sedang bertengkar dengan kekasihnya. Apalagi jika dia sedang galau.
"Tenang saja, aku sudah memberikan dia pada orang yang kurang mampu. Lebih baik, hidup bahagia seperti ini." kata Bella.
"Ya, sudah! Pergilah, hati-hati. Maaf aku tidak bisa selalu bersama kamu lagi sekarang." kata Amera.
"Tidak masalah! Kamu juga sibuk dengan tugas dan rencanakan. Dan, soal kertas yang kamu tempel di dinding. Sudah aku bersihkan semuanya. Takutnya nanti ketauan tau,"
"Iya, makasih!"
"Siap!" Bella menantikan panggilannya begitu saja. Tanpa bicara panjang lebar lagi pada Amera. Dia tidak mau jika Amera tahu jika dirinya masih sangat sedih setelah kehilangan kekasihnya.
__ADS_1
Amera meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Dia segera membaringkan tjnuhnga dj atas ranjang. Kedua tangan terlentang. Pandangan mata menatap ke atas. Meluaht ukiran balkon yang begitu rapi di atas langit kamarnya. Senyum tipis terukir di bibir Amera.
"Aku harus cari tahu, soapa Delmon. Kenapa dia tahu semua tentang kakakku?" pertanyaan itu muncul lagi di kepala Amera.