Ijinkan Aku Menghapus Lukamu, Tuan Mafia.

Ijinkan Aku Menghapus Lukamu, Tuan Mafia.
penyerangan


__ADS_3

Bab 22. Penyerangan


 


“Kalian pikir kalian bisa berpesta dengan meriah?” beberapa orang menyerbu markas Dellon. Sementara Dellon bukanya dia keluar menunjukan dirinya. Dia segera masuk ke dalam. Dia sudah menyiapkan beberapa sniper. Dan, juga menyaipakan penembak jitu yang tak kalah naiknya. Mereka bersembunyi di balik tamu yang datang. Sementara para sniper, tersebar di setiap penjuru rumah besar miliknya. Sementara Dion dia melihat kekacauan yang ada di depan matanya. Seketika ingatannya mulai muncul tentang Adella. Gimana saat Adella terbunuh. Begitu sakitnya dirinya saat melihat kenyataan itu. Dion memejamkan matanya. Dia menggerakkan kepalanya pelan. Dia tidak bisa menahan rasa sakitnya yang luar biasa.  Amera melihat tingkah Dion yang terlihat sedikit aneh baginya. Amera mengerutkan kedua matanya. Mengamati raut wajah Dion yang terus melawan rasa traumanya.


Sepertinya memang Dion sangat trauma dengan kejadian itu, Rasa bersalah Amera semakin menjadi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kenyataan sudah terjadi. Dan, dirinyalah yang membunuh kekasihnya.


“Dan, Dion. Anak ketua mafia yang saat ini dia masih Trauma dengan kejadian kekasihnya.” Seorang laki-laki dengan tubuh tegap. Dia berjalan sembari menodongkan senjatanya tepat di kepala Dion. Sementara Dion masih memejamkan matanya. Kedua tangannya memegang kepala. Dan badan sedikit tertunduk. Dion berusha menyakinkan pikiranya. Dia melawan rasa trauma itu. Tapi tetap saja tidak bisa.


“Apa kamu mau menyusul pacarmu?” tanya laki-laki itu dengan senyum yang begitu mengerikan. Dia terlihat aura membunuh yang megelilingi laki-laki itu. Dia begitu berambisi ingin membunuh setiap orang yang ada di sana. Karena tidak ada yang membawa senjata. Semuanya hanya diam, saat semua pasukan geng mafia dari Timur menyerbu rumah Dellon. Dengan menodongkan senjata pada mereka semua.


“Ini akan jadi neraka buat kalian semua. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian,” tawa laki-laki itu sangat keras. Dia begitu sombongnya mengatakan hal itu. Tanpa tahu siapa yang mereka hadapi. Semua bahkan sudah di atur oleh Delmon.


Delmon terkenal sebagai ketua mafia yang sangat sadis dan mengerikan. Dia bahkan punya pikiran yang cerdik dalam tak tik menyerang. Bahkan dia tidak punya masalah sama sekali membunuh siapa saja yang tidak sepaham dengan pikirannya. Dion bahkan tidak berani menentangnya. Hanya saja tentang Adella, orang tua Dion setuju. Hanya karena Afella juga anak dari ketua mafia di Barat, Namun dia sangat pendiam dan tidak seperti kakaknya yang lainya. Meneruskan jejak ayahnya menjadi anggota mafia.

__ADS_1


Amera yang sedari tadi hanya melihat kejadian itu. Dia juga tidak ingin jika Dion terbunuh di depannya. Amera dengan rasa penuh percaya diri. Tanpa takut sama sekali siapa yang di hadapi olehnya. Dia melangkah mendekat, menarik sudut bibirnya tipis.


“Kenapa kamu begitu sombonya? Kamu bukan Tuhan yang menentukan hidup mati seseorang. Jangan terlalu sombong dengan ucapan yang bisa berbalik pada diirmu sendiri,” Amera berjalan semakin dekat. Meski laki-laki itu juga menodongkan senjata ke arahnya. Dia tetap tidak gentar sekalipun. Langkahnya semakin pasti. Kedua matanya juga lurus menatap kedepan.


“Jangan mendekat, atau akujuga akan membunuhmu disini, wanita cantik.” Laki-laki itu, menatik senjatanya. Bersiap untuk menembak. Tetapi Amera masih saja tidak takut. Dengan kecepatan tangan secepat kilat dia meraih tangan laki-laki di depanya. Memutar tangannya, memukul ke pergelangan tangan laki-laki, memutar pergelangan tangannya, seolah sengaja ingin mematahkan pergelangan tangan itu. Perlahan senjata itu mulai jatuh dari tangannya.


Amera yang jago kungfu. Dia sengaja melakukannya untuk memberi pelajaran pada seorang yang mencoba menganggunya. Amera menendang perut laki-laki di depannya. Hingga terpental jauh ke balakang. Punggung laki-laki itu membentur dinding putih sangat keras. Dia terlihat merintih kesakitan. Sembari memegang perutnya. Laki-laki itu menatap tajam ke arah Amera. Dia berusaha untuk berdiri.


“Kamu pikir kamu bisa menang tanpa senjata?” tanya laki-laki itu. Dia bahkan tidak menyerah sama sekali. Dion yang baru saja sadar dari rasa trauma itu. Dia berusaha mengangkat kepalanya. Kedua matanya langsung tertuju pada Amera. Dia tidak menyangka jika Amera. Disaat pikirannya terpenuhi dengan Adella. Di otak kecilnya. Dion juga mulai memikirkan siapa Amera sebenarnya? Kenapa wanita itu jago bela diri. Dan, bahkan dia paham dengan situasi di sekitarnya.


“Turunkan senjata kalian, kalian tidak tahu jika kalian juga di kepung disini.” Kedua mata Amera berkeliling. Dia mengamati sekelilingnya. Dan, benar saja. Perlahan para pasukan geng mafia yang Delmon kumpulkan mulai berjalan masuk menyerbu beberapa orang yang ada di dalam menggunakan senjata.


“Kalian pikir kalian sudah menang. Kalian tidak tahu siapa yang kalian hadapi.” Bella menendang senjata itu ke atas, dia menangkap senjata dengan tangan kanannya. Memutar senjata itu di jari telunjuknya sembari berjalan mendekati seorang yang menantang Amera tadi. Amera menghentikan putaran senjatanya, dengan tatapan mata tajam, Amera menodongkan senjata tepat di kening laki-laki di depannya.


“Jangan pikir aku wanita lemah yang bisa kamu bunuh. Aku bisa melakukan apapun yang aku lakukan. Aku juga bisa membunuh kamu.” Amera menarik sudut bibirnya sinis. Raut wajah Amera berubah menjadi wanita iblis yang ingin membunuh musuhnya.

__ADS_1


“Siapa kamu sebenarnya?” tanya laki-laki itu, dia masih memegang perutnya. Dengan badan sedikit menuduk. Tendangan keras itu masih terasa nyeri di perutnya.


“Tidak perlu tahu siapa aku, aku bukan dari kalian. Kalian tenang saja,” ucap Amera.


“Sekarang, Tarik mundur pasukan kamu. Atau, aku yang akan menggunakan kekuatan mafia yang di pimpin Delmon untuk melawan kalian. Mengirimkan kalian ke neraka. Seperti apa yang kalian katakan tadi,” Ucap Amera.


“Baiklah, aku akan tarik mundur semuanya. Ingat, aku tidak akan tinggal Diam. Aku akan kembali dengan cara jauh lebih licik dari biasanya.” Laki-laki itu masih penuh percaya diir mengucaokan poerkataan sombongnya.


“Baiklah, kalau begitu. Aku akan simpan semuanya. Aku tidak bisa diam disini. Aku juga akan pastikan kalian semua bisa mati disini.”


“Dan, untuk kamu. Aku akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya. Aku akan membongkan identitasmu. Dan, kamu akan merayuku. Memohon padaku untuk merahasiakannya.” Ancam laki-laki itu.


“Silahkan, jika kamu bisa.” Tantang Amera. Menarik sudut bibirnya sinis.


Amera terdiam seketika, dia menatap tato di tangan laki-laki itu. Dia pernah melihat salah satu foto kakaknya dengan seorang laki-laki yang menggunakan tato yang sama persis dengannya. Amera menyipitkan matanya. Dia ingin sekali berjalan mendekat ke arah laki-laki itu mencoba untuk memastikan. Tetapi semuanya percuma. Dia tak bisa melakukan itu di rumah Delmon. Dia takut jika diirnya yang akan di tuduh sekongkol dengannya. “Tapi, siapa laki-laki itu? Ada hubungan apa dengan kakakku? Apa dia temannya?”

__ADS_1


__ADS_2