
"Lupakan! Aku tidak ingin kenal denganmu," ucap Dion. Dia membalikkan badan dan segera pergi meninggalkan Amera. Sementara Alex dia segera pergi Mengikuti kemana Dion melangkah.
Mereka adalah teman dekat. Semenjak kematian kekasihnya. Alex tidak pernah bertemu lagi dengan Dion. Bahkan dia tidak bisa masuk ke rumahnya. Kekuasaan ayahnya membuat semua orang tidak berani bertemu disana. Ayah Dion selalu melarang orang lain untuk datang ke rumahnya. Kecuali dia adalah anggota mafia. Atau, dia juga keluarga dari Dion. Apalagi kekasih Dion. Kematiannya menjadi misteri.
Amera mengerutkan bibirnya, menarik sudut bibirnya tipis. Otaknya terus berpikir bagaimana cara meluluhkan hati laki-laki itu. Entah kenapa sekarang dia punya feeling sangat kuat dengannya.
"Bella, apa kamu sepemikiran denganku?" tanya Amera, tanpa menatap ke arah Bella. Pandangan matanya terus mengamati setiap langkah Dion.
Bella memutar matanya. Dia mencoba berpikir sejenak. "Maksud kamu?" tanya Bella bingung.
"Kamu ingat, laki-laki paruh baya yang memberiku alamat ini," ucap Amera.
"Iya, aku ingat!" jawab Bella. Lalu dia terdiam sejenak. Memutar otaknya untuk berpikir sangat keras. Dan, benar saja. Bella mulai teringat, siapa laki-laki itu. Dia punya bodyguard. Dan, hal sama juga ada di depannya. Bodyguard yang bersama laki-laki tadi juga sama dengan kemarin. Apa mungkin?
Bella mengangkat kepalanya menatap ke arah Amera. Dia menepuk bahu Amera. Sembari berbisik pelan padanya. "Aku ingat sekarang!" ucap Bella.
"Gimana?" tanya Amera.
"Bukannya bodyguard yang bersama laki-laki itu tadi. Sama seperti yang bersama laki-laki paruh baya itu," ucap Bella.
"Iya, benar!" jawab Amera.
"Benar, aku punya rencana, kamu lihat saja rencanaku. Jika aku gagal nanti. Kamu harus bantu aku," ucap Amera. Tatapan matanya tidak berhenti terus menatap kemana Dion berada. Bahkan Dion yang sudah duduk di salah satu tempat duduk di ujung. Di sesekali melirik ke arah Amera. Dion tahu jika dirinya sedang di perhatikan wanita yang ditemuinya tadi.
"Kamu ada rencana apa?" tanya Bella.
Amera menggerakkan kepalanya pelan. Dia menoleh, menatap ke arah Bella. Senyum tipis penuh intrik terukir manis di bibirnya. "Kamu lihat saja nanti. Aku akan menunjukan sisi lain dari diriku," kata Amera. Di Menaik turunkan alisnya.
Bella melihat Bella yang berbeda. Dia merasa ada rencana gila yang sedang dipikirkan olehnya.
Amera tanpa pikir panjang lagi. Ide gila sudah merasuki pikirannya. Dia berjalan dengan penuh percaya dirinya. Melangkahkan kaki mendekati Dion dan Alex yang duduk berdua. Sembari menikmati wine yang ada di atas meja. Tidak ada satu wanitapun yang menemani minum. Apalagi Dion tidak suka terlalu dekat dengan wanita. Dia type orang yang setia dengan satu pasangan. Kehilangan orang yang paling dia cintai adalah pukulan yang sangat besar bagi kehidupannya. Hatinya hancur. Dia tidak ada daya untuk bertahan hidup.
**
__ADS_1
"Hai, boleh aku duduk disini?" tanya Amera. Memotong pembicaraan Dion dan Alex. Dia spontan duduk di samping Alex. Sembari tepat di depan Dion. Kedua mata Amera terus menatap ke arah Dion.
"Tidak perlu!" ucap jutek Dion.
"Kenapa? Kamu lagi patah hati, ya?" tanya Amera mencoba basa-basi.
"Itu bukan Urusanmu," tegas Dion.
"Emm ... gimana kalau aku bantu kamu obati patah hati," kata Amera.
"Dasar tidak waras." Dion memutar matanya malas. Dia tidak pedulikan Amera. Dion mengambil lagi satu gelas wine yang baru saja dia tuangkan. Amera meraih gelas itu dari tangan Dion. Dia meneguk perlahan wine yang di rambutnya.
"Apa yang kamu lakukan?" kesal Dion.
Amera mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Dia meletakkan gelas kosong di atas meja.
Dion meletakkan siku tangannya di atas kedua lututnya. Tatapan mata sinis, tertuju pada Amera. "Apa kamu kebiasaan mengambil milik orang lain," umpat Dion.
"Aku akan temani kamu minum," ucap Amera.
"Bentar, aku pergi dulu, ya." Alex bangkit dari duduknya. Dia menatap kearah Bella. Entah kenapa, dirinya mulai tertarik dengan Bella. Saat pertama kali melihat Bella. Alex yang semula tertarik dengan Amera. Kini berpaling saya melihat Bella yang tak kalah cantiknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Dion.
"Bentar, ada urusan," jawab Alex. Dion hanya diam, sembari menghela napasnya. Membiarkan Alex pergi.
Melihat Alex sudah pergi. Amera bangkit dari duduknya. Dia beranjak duduk di samping Dion. Sembari merangkul lengan tangan Dion. Menyandarkan kepalanya di bahu Dion.
"Lepaskan! Apa yang kamu lakukan?" Dion mulai risih dengan perlakuan Amera. Dia berusaha menarik tangannya dari rangkuman lengan tangan Amera.
"Aku mau pinjam ponsel kamu. Setelah itu baru aku lepaskan!"
"Sial! Mimpi apa aku kemarin harus bertemu dengan wanita sepertimu," umpat kesal Dion.
__ADS_1
"Mimpi indah!" Amera meringis menunjukan gigi putihnya. Sembari mengedipkan kedua matanya menggoda.
"Mimpi buruk!" tegas Dion. Dia menarik tangannya kembali. Tapi, pelukan tangan Amera sangat erat Membuat dirinya tak bisa berkutik lagi.
"Berikan ponsel kamu dulu. Baru aku lepaskan!" ucap Amera.
"Gadis tidak waras sepertimu. Harusnya tinggal di rumah sakit jiwa," kesal Dion.
"Mau, gak?" tanya Amera. Dia mengulurkan telapak tangan kanannya.
Dion berdesis kesal. Dia terpaksa mengeluarkan ponselnya. Dan, memberikan pada Amera.
Amera dengan senang hati, dia segera membuka ponsel tanpa sandi milik Dion. Jemari tangannya dengan lihai menulis nomor ponselnya disana. Dan, menghubungi nomornya sendiri.
Amera memberikan kembali ponselnya. "Makasih!" ucap Amera. Dia tersenyum manis. Dion terdiam sejenak, melihat senyummu begitu manis Amera menjinakkan hatinya beberapa detik. Sebelum rasa sakit itu mulai kembali menghantui dirinya.
Dion memalingkan wajahnya. Dia mengambil satu botol wine. Laku menuangkan ke dalam gelas kosong.
Sementara Amera, dia mengambil ponselnya. Dia melihat nomor telepon Dion di layar ponselnya. "Nanti aku akan hubungi kamu," ucap Amera. Sembari menunjukan layar ponselnya yang masih menyala.
Dion melirik sejenak. Dia memutar matanya malas. Tanpa pedulikan Amera. Dion seger meneguk lagi satu gelas wine. Tatapan mata Dion tiba-tiba kosong. Dia teringat bagaimana saat Adella menyentuh pipinya. Saat dia menganggap tangannya. Sembari mengucapkan selamat tinggal. Hatinya terasa sangat amat sakit. Dion menahan air matanya, dia terus minum wine tanpa menggunakan gelas. Meneguk langsung dari botolnya.
Amera sudah berusaha mencegahnya. Tetap saja, Dion tidak mau berhenti minum. Bahkan dia mendorong tubuh Amera menjauh darinya. Pikirannya sudah dirasuki nama Adella.
"Sudah, cukup. Kamu sudah mabuk," ucap Amera. Dia meriah botol wine di genggaman tangan Dion.
"Pergi!" Dion mendorong tubuh Bella menjauh darinya. Tubuh Dion sudah terlihat lunglai. Bahkan dia tak bisa menyangga kepalanya lagi.
"Adella," ucap Dion. Dia langsung terjatuh di atas sofa hitam. Dengan tangan masih menggenggam satu botol wine.
"Adella, aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu," rintih Dion. Tak terasa air mata itu perlahan mulai menetes dari kedua matanya yang saat ini sudah terbuka.
Amera mengerutkan keningnya. Entah kenapa dia jadi ingat penembakan yang dilakukan olehnya. "Adella? Kenapa dia? Apa dia kehilangan kekasihnya? Apa Adella itu orang yang aku tembak kemarin? Jadi sebenarnya Dion, adalah ...?" Amera menatap setiap ukiran wajah Dion.
__ADS_1