
Pov Bella.
Hari menjelang siang. Terik matahari sudah terasa lebih panas dari sebelumnya. Bella berada di luar asramanya. Tepat di tengah teriknya matahari yang mulai menyentuh kulit putihnya tampa terbungkus baju lengan panjang. Bella keluar hanya menggunakan celana pendek di atas lutut, dan kaos pendek yang pas dengan lekuk tubuhnya.
Alex yang tahu Bella di luar. Dia baru saja sampai di depan asrama mereka. Alex seger akeluar dari mobilnya. Berjalan pelan mendekati Bella yang berjalan keluar, entah kemana dia akan pergi. Alex segera berlari mengikuti Bella pergi.
"Bella," panggil Alex. Dia berlari mengikuti Bella. Dia meriah bahu Bella, sontak membaut Bella yang semula bersama sembari melamun. Dia terkejut, memegang tangan Alex, menarik tangannya ke belakang, tubuh Bella memutar. Hingga dia berdiri tepat di belakang Alex. Bella memutar tangan Alex di belakang punggung semakain ke atas. Seolah sengaja ingin mematahkannya.
"Aw--" rintih Alex.
"Alex," Bella segera melepaskan tangan Alex. "Kenapa kamu mengejutkannya?" kesal Bella. Melipat kedua tangannya di atas dadanya. Sembari berdnegus kesal, dan bibir sedikit cemberut.
"Lagian aku sudah panggil namamu. Tapi, kamu tidak menoleh ke belakang," jelas Alex.
"Oo, apa benar?" tanya Bella.
Alex memutar tangannya. Dia menggetakkan tangannya yang masih terasa sakit.
"Jadi wanita kasar sekali," gerutu Alex.
"Memangnya, kenapa?" ucap jutek Bella.
"Mau kemana kamu?"
"Bukan urusan kamu," jawab Bella .
"Tapi, ini urusanku."
"Memangnya kamu siapaku?"
"Aku calon pacar kamu," goda Alex.
Bella menarik sudut bibirnya sinis. "Siapa juga yang mau jadi kekasihnya. Aku sudah punya pacar. Tolong jangan ganggu aku," tegas Bella.
__ADS_1
"Oo, tidak masalah. Belum tentu juga pacar kamu setia." ledek Alex.
"Dia pasti setia," tegas Bella. Dia melotot tajam ke arah Alex.
"Apa buktinya jika laki-laki yang bersama kamu itu setia?" tanya Alex. "Tidak ada laki-laki setia. Jika dia kesepian pasti lah ada yang menemani dia meski hanya sekedar chat atau jalan bersama," ucap Alex.
Bella jadi overthinking dengan kekasihnya. Dia mulai memikirkan apa benar kekasihnya seperti itu? Tapi, jika benar iya. Selama ini dia sibuk, apa dia sibuk dengan wanita lain? Tapi, tidak mungkin. Dia tidak mungkin jika selingkuh. Atau dekat dengan wanita lain. Aku percaya padanya. Lagian aku setia padanya. Dia pasti sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi dia seorang boss. Dia ketua Agen intelijen.
"Aku sebagai laki-laki jujur apa yang aku sendiri rasakan. Dan, apa yang aku ketahui sesama laki-laki pikirannya pasti sama. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa buktikan sendiri. jangan hubungi dia satu hari. Tapi kamu ikuti kemana dia pergi. Kamu pasti akan tahu, seburuk apa kekasih kamu. Jangan bilang padanya jika kamu mengikutinya. Bilang jika kamu sibuk. Tisak bisa menghubunginya selama satu hari," jelas Alex. Dia menarik salah satu sudut bibirnya. Sembari menarik salah satu alisnya ke atas.
Bella menghela napasnya. Dia mencoba berpikir kembali. Apa dia harus pergi atau tidak? Atau, dia harus mengikuti apa yang Alex katakan? Tapi, siapa Alex. Dia baru saja kenal. Kenapa bisa bicara seperti itu denganku? Gerutu Bella dalam hatinya.
Hatinya mulai gundah. Dia berpikir keras anatara takut kehilangan, takut ketahuan kebusukan pacarannya. Dan, takut melihat kenyataan.
"Gimana? Mau buktikan atau tidak?" tanya Alex.
Bella masih saja diam, melihat raut wajah Alex yang terlihat sepertinya dia tahu sesuatu tentang kekasihnya. Tapi, gimana dia tahu jika itu benar kekasihnya. Lagian dia tidak tahu kekasih Bella seperi apa. Dia siapa?
"Lepaskan aku!" pekik Bella. Dia berusaha menarik tangannya kembali.
"Aku tidak akan menyakutimu," ucap Alex.
"Lepaskan! Atau, aku akan teriak sekarang," pekik Bella.
Alex tersenyum tipis. Dia menahan tawanya.
"Bella, Bella, aku hanya ingin menunjukan sesuatu. Ikuti aku, jangan pikir aku akan melecehkanmu. Aku tidak tertarik denganmu," pandangan mata Alex menelusuri setiap lekuk tubuh Bella. Membuat Bella merasa risih. Dia menutupi dadanya dengan tangan kirinya.
"Apa yang kamu lihat," pekik Bella. Meninggikan suaranya satu oktaf.
"Jangan kurang ajar denganku. Jangan suka sentuh orang seenaknya. Apalagi menatap tubuh wanita dengan tatapan menjijikan itu," geram Bella.
"Aku tidak tertarik denganmu. Apalagi punyaku terlalu datar. Tidak menariknya untuk menyentuhnya. Tenang saja, aku hanya ingin kamu tahu sesuatu. Bukanya aku ikut campur urusanmu. Tetapi aku kasihan saja denganmu" jelas Alex.
__ADS_1
Bella mebguntupkan bibirnya kesal. Kedua Matanya melebar sempurna. Tatapan matanya sudah bersiap ingin mencabik-cabik wajah Dion.
"Dasar pikiran kotor," pekik Bella.
"Mau gak?"
"Apa?"
"Ikut denganku?"
"Memangnya, apa yang mau kamu tunjukan padaku?" tanya Bella, dia merasa mulai curiga jika Alex tahu sesuatu. Merasa sedikit penasaran dengan apa yang di katakan oleh Alex. Hati Bella perlahan mulai luluh. Dia merendahkan ucapannya. Kedua mata itu mengamati sekelilingnya. Dia tidak melihat Kae ra keluar dari asrama.
"Kamu juga akan tahu nantinya." Alex tersenyum tipis pada Bella. Meski di balas dengan raut wajah jutek, sinis, dan dingin oleh Bella.
"Lepaskan tanganku, aku akan ikut denganmu. Jangan coba menyentuhku," tegas Bella.
"Dan, perlu kamu tahu. Meskipun punyaku datar. Setidaknya bisa membuat kamu tak berdaya jika aku membukanya," umpat kesal Bella. Dia menarik tangannya paksa dari cengkeraman Alex. Dia melotot tajam, lalu membalikkan badannya. Membelakangi Alex yang masih berdiri di belakangnya.
Alex hanya tersneyum tipis. Dia suka dengan Bella. Setiap ucapannya tidak berhenti membuat dirinya tersenyum. Alex segera berjalan kembali ke mobilnya. "Ikuti aku!" pinta Alex.
Bella menghela napasnya. Dia segera berjalan mengikuti Alex berjalan. Terluas ajari ini Bella mengurungkan niatnya untuk pergi menemui kekasihnya. Entah kenapa dia lebih percaya dengan Alex. Meskipun dia baru saja mengenal. Tapi, setia apa yang Alex katakan. Terlihat sangat menyakinkan dirinya.
Bella masuk kedalam mobil Alex. Mereka pergi ke sebuah restauran terdekat. Sudah hampir lima belas menit perjalanan. Alex menghe tikam mobilnya di parkiran restauran pusat kota. Dia beranjak memastikan mesin mobilnya. Dan, seger melepaskan sabuk pengaman, lalu beranjak turun.
Bella juga segera turun dari mobil Alex. "Ayo, masuk!" pinta Alex. Jantung Bella berdebat sangat cepat. Dia belum mengetahui apa-apa, tapi perasaanya sudah mulai tidak enak. Napas Bella terasa sangat sesak. Dia tidak pernah punya penyakit asma sebelumhnya. Tapi, ini berbeda. Entah apa yang di rasakan olehnya. Kenapa dirinya jadi seperti ini. Bella memegang dadanya. Detak jantungnya berdebar lebih cepat.
"Bella, kenapa kamu diam disitu?" tanya Alex. Bella mengangkat kepalanya.
"Iya, bentar!" ucap Bella. Dalam satu tarikan napasnya. Dia berjalan mengikuti langkah kaki Alex masuk ke dalam restauran itu. Meski dia hanya berjalan di belakang Alex. Sedikit jaga jarak dengannya.
Pandangan mata Bella langsung tertuju pada seorang laki-laki yang sedang berbincang bersama dengan seorang wanita. Mereka terlihat snagat akrab. Bahkan saling tertawa satu sama lain. Laki-laki itu menyentuh ujung bibir wanita di depannya. Mereka makan saling menyuapi satu sama lain.
Tubuh Bella mulai kaku. Napasnya semakin berat. Bagaikan di sambar petir di siang hari. Dia melihat kenyataan yang menyakitkan di depannya.
__ADS_1