Ijinkan Aku Menghapus Lukamu, Tuan Mafia.

Ijinkan Aku Menghapus Lukamu, Tuan Mafia.
Kabur


__ADS_3

Setelah pulang dari luar, membeli makanan dan beberapa minuman di supermarket. Amera segera kembali masuk ke dalam asrama. Tetapi kedua kata itu mengamati bagian luar ruangan. Dia melihat di asrama kali ini sangat sepi. Tidak ada orang sama sekali. Sepertinya mereka sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Dan, Amera juga tidak melihat jelas ada teman sesame agen di sana.


Amera menghela napasnya lega. Dia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Langkah kaki itu semakin cepat. Dengan kedua tangan memeluk barang belanjaannya yang terlalu banyak. Seperti biasa. Dia selalu belanja stok makanan banyak untuk beberapa hari. Tidak hanya untuk dirinya tetapi juga Bella.


Amera membuka pintu ruangannya. Dia berjalan masuk ke dalam dapur. Meletakkan barang belanjaannya di atas meja.


“Kamu sudah kembali?” tanya Dion, mendengar suara pintu terbuka. Dia berjalan mendekati Amera yang masih di dapur.


“Iya, kamu mau makan apa?” tanya Amera.


“Makan mie instan saja. Selagi aku masih disini. Aku bisa makan mie. Jika aku pulang. Tidak akan ada makan itu di rumahku,” kata Dion. Dia berdiri di samping Amera.


“Baiklah, kita buat sama-sama. Nanti jika kamu pulang, kamu juga bisa buat sendiri.” Amera mengeluarkan semua belanjaannya.


“Kamu bantu aku masukan buah-buahan ini ke dalam kulkas. Tapi, kamu cuci dulu,” pinta Amera. Ion segera membawa beberapa buah-buahan yang di belik oleh Amera. Dia mencucinya di wastafel dapur. Sementara Amera memasukan beberapa minuamn dan snack ke dalam kulkas lebih dulu. Setelah itu berdiri di samping Dion. Membantu Dion mencuci buah. Tangan kanan Amera mengambil salah satu buah. Tanpa sengaja dia memegang Dion yang ingin mengambil buah juga. Amera mengangkat kepalanya. Dia terdiam menatap kedua mata Dion.


 “Maaf, aku gak sengaja.” Amera tersenyum, lalu menundukkan kepalanya.


Amera salah tingkah. Dia segera menyuci dengan cepat buah yang masih tersisa. Setelah selesai. Amera segera memasak mie. Dan, Dion yang penasaran cara membuatnya. Dia berdiri di belakang Bella. Jarak Dion sangat dekat dengan punggungnya. Hembusan napas Dion terasa menusuk di belakang lehernya. Amera terdiam, dia semakin grogi. Amera menarik napasnya dalam-dalam. Bella berusaha untuk tetap tenang. Sesekali Amera melirik ke belakang. Wajah Dion tepat di sampingnya. Jantung Amera berdetak lebih cepat dari biasanya.


Ada apa denganku? Apa aku punya penyakit jantung. Kenapa hanya seperti ini saja jantungku sudah tidak normal, gerutu Amera.


“Ini bagaimana cara buatnya, apa hanya memasukan mie kedalam air?” tanya Dion. Pipi kanan Dion dengan pipi kirinya sangat dekat. Keringat dingin mulai bercucuran, Bella tidak bisa berkutik sama sekali. Dia bahkan terdiam tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya.


Apa yang di lakukan Dion, apa dia sengaja menggodaku. Astaga, kenapa aku jadi seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhku. Semua tubuhku terasa kaku. Napasku tak beraturan saat bersama dengannya.


“Amera, kamu kenapa?” tanya Dion. Dia melirik ke arah Amera. Amera melirik ke arah Dion kesekian detik. Membuat  kedua mata mereka saling menatap beberapa detik. Sebelum Amera tidak bisa menahan jantungnya yang hampir saja copot. Amera memalingkan wajahnya.


“Bagaimana? Apa yang harus aku lakukan. Jika Dion masih berada diposisi seperti ini. Bisa mati berdiri. Sepertinya besok aku harus periksa ke dokter. Aku tidak bisa biarkan jantungku seperti ini. Sepertinya memang aku punya penyakit jantung.” Bella tidak berhentinya menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba untuk tetap tenang tidak terlalu jauh terbawa perasaan.


“Apa kamu sakit,” tanya Dion. Dia melangkah mundur ke belakang. Dan, Amera seketika langsung menghela napasnya lega. Akhirnya dia bisa bebas dari perangkap yang jelas kenapa dirinya. Ini baru pertama kali bagi Amera merasakan perasaan aneh yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


Dion memegang Amera. Sontak membuat Amera terkejut. Dia menepis tangan Dion dari keningnya. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Amera. Melangkah mundur beberapa langkah menjauh dari Dion.


“Maaf, tapi aku hanya memastikan kamu sakit atau tidak?” ucap Dion.

__ADS_1


“Aku gak apa-apa.” Bella memalingkan wajahnya. Wajah Amera mulai memerah seketika.


“Kamu beneran tidak apa-apa?” Dion yang penasaran dengan Amera. Dia berusaha untuk menatap wajah Amera. Dion memegang bahu Amera. Langsung di tepis olehnya.


“Jangan sentuh aku!”


“Jadi buatkan aku mie atau tidak?” tanya Dion.


Amera menghela napasnya. Dan, segera berdiri tegap. Tanpa menatap Dion. Dia segera kembali buat mie.


Setelah membuat Mie. Amera segera masuk ke dalam kamarnya. Dia sengaja makan di dalam kamar agar tidak bertemu dengan Dion lagi untuk sementara waktu. Dia tidak bisa harus terus menatapnya. Jantungnya benar-benar tidak aman saat dekat dengannya. Sementara Dion makan di luar sendiri. Dia bingung dengan sikap Amera yang awalnya dia yang terus mendejatinya. Dan, sekarang wanita itu menjauh darinya. Apa dia memang sengaja ada maunya.


**


“Kamu, tetap disini atau mau pulang?” tanya Amera. Melihat Dion yang duduk di sofa. Seakan laki-laki itu terlihat sangat nyaman di tempatnya.


“Memangnya, kamu mau antar aku pulang?” Tanya Dion.


Amera memincingkan matanya. Dia sedikit mengerutkan wajahnya. Melihat ekspresi wajah Dion yang berbeda. Kenapa dia jadi berani berbicara itu dengannya.


“Kamu punya kaki. Bisa jalan sendiri pulang. Karena kamu sudah sadar. Kamu malam ini akan aku bantu keluar dari sini,” ucap Amera.


“Tidak, apa kamu sudah buatkan dia makanan?” Dion menurunkan kedua kakinya dari atas meja. Dia duduk tegap badan sedikit condong kedepan. Kedua mata mengamati setiap gerak gerik Amera. Tatapan mata Dion mampu membuat Amera terdiam. Memalingkan wajahnya.


“Aku sudah belikan makanan untuknya, Tapi, semenjak kejadian tadi dia belum juga keluar dari kamarnya.”


“Dia patah hati?” tanya Dion.


“Entahlah!”


“Sudah, sekarang lebih baik kamu berdiri,” pinta Amera.


“Gak, mau!”


“Buruan,” pekik Amera. “Sebelum ada orang yang tahu kamu disini. Aku bisa dalam masalah. Sekarang kamu segera keluar,” pinta Amera.

__ADS_1


“Iya, iya ….” Kesal Dion. Dia bangkit dari duduknya. Dan, berjalan pelan mendekati Amera.


“Ada apa?” tanya Dion.


Dia bersiap untuk segera berjalan keluar lebih dulu. Memastikan di depan tidak ada orang sama sekali.


Merasa sudah aman. Amera segera kembali dia meraih tangan Dion untuk keluar dari sana.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Dion, dia menarik tangan Dion dari cengkeraman Amera.


“Kamu tidak melihat Amera dulu, kenapa kamu tiba-tiba menarik tanganku?” tanya Dion kesal.


“Kamu mau pulang, nggak?” tanya Amera.


“Iya, tapi biasa saja. Nggak, usah narik-narik tanganku. Dan, jangan coba sentuh aku,” kesal Dion. Amera memicingkan salah satu matanya. Memutar matanya malas mendengar ucapannya. Amera mengerutkan bibirnya. Saat dia mendengar jelas suara derap langkah yang mendekat ke arahnnya.


“Buruan pergi.” Amera membalikkan badan Dion. Dan, mendorong tubuhnya untuk segera pergi dari sana.


“Eh.. Siapa itu?”


“Mampus, udah buruan kamu pergi.”Amera mendorong punggung Dion.


“Bentar,”


“Apa lagi?”


“Tunggu, siapa itu.” Seorang penjaga malam di sana. Memergoki dirinya dan Dion. Wajah Amera mulai panik.


“Udah, lebih baik buruan pergi.”


“Aku mau tanya padamu,” ucap Dion, dia menolak untuk pergi.


“Nanti saja, sudah jangan tambah masalah untukku.” Amera memegang tangan Dion.


Dia menarik tangannya kabur dari tempat itu. Amera berlari sekuat tenaganya. Dia keluar dari gerbang asrama. Mata Dion melirik kea rah Amera. Dia mengingat saat dia di possisi yang sama dengan Adella. Namun, saat itu Dion yang menarik tangan Adella.

__ADS_1


“Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu terus menatapku? Jangan bilang kamu tertarik padaku? Atau, aku aneh, kah?”


 


__ADS_2