Ijinkan Aku Menghapus Lukamu, Tuan Mafia.

Ijinkan Aku Menghapus Lukamu, Tuan Mafia.
Masih marah


__ADS_3

"Aku tidak menyangka kamu memanfaatkan keadaan ini untuk menikah denganku!" kata Deon. Dia melirik tajam ke arah Amera Mereka saling melirik. Tanpa menunjukan pada semua orang jika mereka kenal dan saling bicara. Namun, penyerangan kemarin membuat mereka merasa lebih dekat. Bahkan, Dion merasa jika Amera begitu berani. Dia wanita yang pintar. Dan, tanpa rasa takut sama sekali menghadapi kelompok mafia.


"Aku tidak menyangka wanita agen intelijen seperti kamu pintar juga. Kamu andai menanangai berbagai kasus." jata Dion. Dia merasa sedikit membaut Amera bangga.


"Karena aku memang di tugaskan untuk bekerja.. Bukan untuk kesenagan," ucap Amera.


"Aku pinter. Kenapa aku bisa masuk agen intelijen. Aku juga tidak pernah sama sekali berpikir buruk. Aku juga tidak pernah ingin menunjukan pada siapapun Jadi, jika kamu tidak tahu lebih baik diam'


"Kenapa kamu tidak katakan semuanya. kamu berbohong padaku?" tanya Amera mengeraskan suaranya. "Jika kamu tidak suka denganku. Kamu boleh pergi. Aku tidak akan membantumu menemukan pembunuh kakakmu." kata seorang laki-laki di depannya.


Amera menarik sudut bibirnya tipis. "Dia mau memanfaatkan. Aku tidak habis pikir dengannya. Luar biasa sekali anak dan bapak. Mereka sama-sama ingin mencari manfaat aku ada disini." gerutu Amera dalam hatinya.


Delmon berjalan pelan menghampiri Amera. Dia mengangkat satu gelas minuman di genggaman tangannya. Kedua mata itu menatap pekat wajah Amera yang tampak begitu tegang. Deon bahkan tidak terlihat sama sekali disana.

__ADS_1


"Kemana dia?" tanya Amera. Kedua matanya mulai menelisik melihat sekelilingnya. Amera hanya bisa diam.


"Bagaimana?" tanya Delmon.


"Terserah anda, aku ikuti apa yang anda rencanakan." kata Amera.


"Baiklah! Kamu nurut apa yang aku katakan. Kamu bekerja denganku. Jangan pernah membantah apa yang aku katakan."


Amera menghela napasnya. Dia memberanikan dirinya mengangkat kepalanya. Menatap calon ketua di depannya. Amera menarik usus bibirnya tipis. Jemari tangan itu mulai meraih satu gelas Wine. Dia mengangkat gelas itu ke atas. Tetapi tidak bersulang pada Delmon. Dia meneguk perlahan minumannya.


"Oke, terserah apa katamu! Tapi aku pasti akan membantumu jika kita kerja sama dengan baik." kata Delmon.


"Tuan, ada hal penting. Nada di minta untuk segera kekuar dari sini. Ada seseorang yang menunggu anda di luar!" kata seorang pengawal yang berdiri di sampingnya. sembari berbisik pelan. TAmera juga tidak tahu apa yang mereka katakan. Tapi, dia hanya mendengar suara sedikit samar-samar.

__ADS_1


"Apa mereka datang menyerang lagi?" tanya Delmon.


"Entahlah, sepertinya begitu. Mereka juga menunggu yang lain bergerak cepat untuk menyerang!" Delmon tiba-tiba pergi begitu saja. Meninggalkan Amera.


"Kemana tadi? Dia pergi?"


"Sebenarnya ada urusan apa lagi. Kenapa mereka hanya diam." Kedua mata itu menatap sekelilingnya. Dia melihat sosok Dion yang berbincang dengan seseorang. Dia melangkahkan kakinya mendekati Deon. Tersenyum tipis mencoba untuk menyapanya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Amera.


Demon menoleh ke arah Amera. "Eh.. Kamu, ada apa lagi?" tanya Dion.


"Mau minta apa?" tanya Dion. "Sudah puas kamu bohongi aku?" lanjutnya.

__ADS_1


"Memangnya aku bohongi kamu apa? Apa aku seperi kamu? Yang merahasiakan semua kesedihan. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa?" kata Amera. Menarik kedua alisnya. Sembari tersenyum tipis


__ADS_2