Ijinkan Aku Menghapus Lukamu, Tuan Mafia.

Ijinkan Aku Menghapus Lukamu, Tuan Mafia.
Siapa laki-laki itu?


__ADS_3

“Amera, kenapa kamu diam?” Tanya Bella. Mengerutkan keningnya, sembari menatap ke arah Amera. Raut wajah Amera terlihat begitu serius. Tatapan matanya mulai memancarkan api dendam. Kedua tangannya mengepal sangat erat, hembusan napasnya semakin kasar. 


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Bella. Dia tidak berhenti terus bertanya, meskipun Amera masih terdiam. Dengan tatapan mata kosong. 


“Bella.” Panggil Amera.


“Ada apa?” tanya Bella. 


“Ini beneran, kan? Bukannya ini bar yang biasa kita nongkrong.” Amera masih mengingat betul club malam itu. Dimana dia dan Amera selalu, menghabiskan waktunya di sana. Apalagi saat mereka sedang ada masalah hati.


Amera berdesis pelan. Dia menarik napasnya dalam-dalam, menahannya, sembari kedua mata fokus menatap club malam di depannya. Sebuah pintu masuk yang terlihat banyak sekali lalu lalang orang keluar masuk dari sana. Dan, juga ada dua penjaga di depan pintu. Untuk memastikan tidak ada orang yang mambawa senjata saat masuk. Amera menghela napasnya perlahan. 


“Iya, memangnya ada apa? Kenapa orang itu memberikan alamat ini padamu.” Bella mengerutkan keningnya bingung. 


“Entalah!” 


“Gimana kalau kita masuk?” tanya Bella. Dia melirik kea rah Amera, kedua mata wanita itu masih fokus menatap kedepan. Sama sekali tidak tertarik dengannya yang sedari tadi berdiri di sampingnya. 


Amera menepuk lengan tangan Bella. “Ayo, kita masuk sekarang,” ucap Amera. Dalam satuntarikan napasnya, Amera mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam bar itu. Bella yang masih berdiri, menatap Amera pergi, dia bingung dengan sikap Amera. Melihat Amera sudah melewati pemeriksaan dari dua penjaga di depan sebuah club malam pusat kota. 


“Amera, tunggu!” teriak Bella. Dia segera berlari mengikuti Bella. Langkahnya terhenti saat dua penjaga itu menghadang dirinya. 


Bella berdengus kesal. “Aku tidak bawa apapun, kenapa harus di periksa,” keluh Bella. 


“Sudah aturan disini. Anda harus menurut apa yang sudah jadi aturan disini,” kata salah satu penjaga itu.


“Oke, baiklah!” Bella terlihat sangat pasrah dia mengangkat kedua tangannya di atas kepala. Dia membiarkan mereka memeriksa dirinya menggunakan alat yang ada di genggaman penjaga itu. 


Setelah lolos dari pemeriksaan, Bella segera lari masuk ke dalam. Sementara Amera. Dia berdiri menatap ke arah beberapa orang yang sedang menikmati musik dj di depannya. Amera mengguanakn gaun yang di baluk dengan jaket tebal berwarna hitam. Melihat seorang laki-laki yang membuat dirinya merasa curiga di sana. Laki-laki itu bahkan terus melirik ke arahnya. Dia merasa sangat bibgung dengan tingkahnya. 

__ADS_1


“Bella, sekarang aku ingin bilang satu hal padamu,” ucap Amera tanpa melirik ke samping. Dia tak sadar jika Bella belum berdiri di sampingnya. 


“Bella,” panggil Amera. “Bella, kenapa kamu diam saja?” tanya Amera. Merasa tidak ada jawaban juga dari Amera. Dia melirik ke belakang. Kedua matanya melebar sempurna saat dia tidak melihat Bella di sampingnya. 


“Kemana dia?” wajah Amera seketika mulai panik. Dia membalikkan badannya. Lalu, mulai bernapas lega. Saat melihat Bella yang berlari ke arahnya. Sampai di depannya, Bella menepuk pundak Amera satu kali, sembari mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.”


“Dari mana saja?” Tanya Amera. 


“Kamu jalan terlalu cepat tadi,” ucap Bella. Sambil mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan. 


Amera menghela napasnya lega. Dia kembali menatap kedepan. Senyum tipis terukir di bibirnya. “Bella, kamu tahu apa yang ada di pikiranku?” Tanya Amera. Kedua matanya tak bisa di bohongi. Perlahan tubuhnya juga ikut menikmati music dj yang ada di depan.


“Amera, jangan bilang jika kamu mau kedepan.” Bella menatap ke arah Amera. Baru saja berhenti berbicara. Bella melebarkan matanya melihat Amera yang sudah melepaskan jaketnya. Memberika jeket itu padanya. Di balik jaket hitam, Amera menggunakan gaun seksi berwarna merah. Gaun yang begitu pendek di atas lututnya, dengan bagian tangan terbuka tanpa lengan. Gaun merah itu menunjukan setiap lekukan tubuhnya. Tanpa persetujuan dari Bella, Amera berjalan  masuk ke dalam kerumunan orang yang berjoget menikmati setiap alunan music dj. Dengan nuansa gemerlapnya lampu discotik. 


Ella menghela napasnya kesal. Dia menggelengkan kepalanya peln. Saat melihat temannya sudah beraksi lebih dulu. Bella segera berjalan masuk ke dalam kerumumanan orang yang menikmati music dj. Dia meraih tangan Amera. Menariknya dari sana. 


“Bella, apa yag kamu lakukan,” ucap Amera kesal.


“Memangnya akau datang disini utuk ini. Tidak, aku berbaur dengan mereka agar aku tahu salah satu dari mereka orang yang aku cari atau bukan,” pekik Amera. Dia meluapkan kekesalannya pada Bella. 


Amera menarik tangannya dari cengkeraman tangan Bella. Dia menepuk pundak Bella satu kali.  “Apa yang aku lakukan, kamu tidak usah khawatir. Aku akan segera kembali. Lebih baik, kamu duduk saja di samping meja bar. Aku aka kesana nanti,” ucap Amera. Memelankan suaranya. Dia berbicara dengan badan sedikit condong kedepan. 


“Tapi ….” Bella memegang tangan Amera.


“Jangan lhawatir.” Amera melepaskan tangan Bella.


“Lihat laki-laki di ujung sana. Aku akan coba dekati dia cari tahu dia siapa?” kata Amera. 


“Tapi, bagaimana jika kamu salah orang?” Tanya Bella. 

__ADS_1


“Salah orang juga tidak, masalah. Lagian aku hanya cari informasi Bella,” gerutu Amera. 


Bella, menghela napasnya. Dia teroaksa harus membiarkan Amera melakukan apa yang dia inginkan. Bella menganggukkan kepalanya. Tanda dia setuju dengan apa yang di katakan oleh Amera. 


Amera tersenyum tipis. Dia menepuk bahu Bella dua kali. “Kamu tunggu aku,” ucap Amera. Dia segera membalikkan badannya. Dan, kembali masuk ke dalam kerumunan para pecinta music dj yang sekarang masih terus menggerakkan tubuhnya. Menikmati setiap alunan musicnya. Amera melnggak lenggokkan tubuhnya. Sembari berjalan menuju ke seorang laki-laki yang juga sedang menikmati musik. 


“Hay,” sapa Amera. Dia melayangkan senyuman manisnya. Sembari menarik ke dua alisnya ke atas secara bersamaan. 


Laki-laki di depannya mengerutkan keningnya, dia mencoba menatap wajah Amera. Dia saat kedua matanya yang hampir tertutup. Sepertinya laki-laki itu sudah mabuk. Membuat Bella sedikit mengerutkan hidungnya. Saat bau alcohol menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya.


Amera terlihat tak betah berada di sana. Dia mencoba untuk tetap bertahan. “Emm … boleh, aku pinja ponsel kamu?” Tanya Amera terus terang. 


“Untuk apa?” Tanya laki-laki itu. 


“Pinjam sebentar saja.”


“Baiklah.” Laki-laki itu segera mengambil ponselnya di dalam saku celana miliknya. Dia memberikan ponsel itu pada Amera.


Amera dengan cepat, dia memberikan nomer ponselnya. Lalu menghubungi nomor ponselnya sendiri.


Setelah sudah terdengar bordering. Amera segera memberikan kembali ponselnya pada laki-laki di depannya. 


“Terimakasih,” ucap Amera. Sembari mengukirkan senyuman manisnya untuk menggoda para buaya. 


Amera segera pergi dari sana. Dia berjalan menghmapiri Bella. Dan, duduk sampingnya. Sembari memesan minuman untuknya. 


“Kamu sudah pesan minuman?” Tanya Amera pada Bella. 


“Aku menunggumu,” jawab Bella.

__ADS_1


“Dia tadi siapa? Kenapa kamu mendekati laki-laki itu? Apa dia laki-laki yang kamu maksud?” tanya Bella.


__ADS_2