Ijinkan Aku Menghapus Lukamu, Tuan Mafia.

Ijinkan Aku Menghapus Lukamu, Tuan Mafia.
Sebuah Pesan


__ADS_3

Kedua mata Amera membulat seketika saat dia melihat Bella berdiri tepat di depan Alex. Amera yang merasa Alex hanya memanfaatkan temannya. Dari, pertama dia tahu Alex. Dia terlihat memang suka dekat dengan wanita. Amera tidak mau jika Bella jadi korban Alex. “Bella, kamu dari mana?” Tanya Amera, dia meraih tangan Bella. Kedua matanya menatap tajamke arah Alex.


“Jangan coba-coba dekati temanku,” pekik Amera.


“Lagian siapa juga yang mendekati temanmu, aku hanya bantu dia tahu kenyataan tadi.” Dion menghela napasnya. Kedua mata Amera masih terus menatap tajam Dion.


Amera melirik ke arah Bella. “Apa benar?” Tanya Amera memastikan.


Bella menganggukan kepalanya. “Iya.”


Bella memegang tangan Amera. Menarik tangan Amera segera pergi dari sana. Tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya untuk Alex yang masih berdiri di belakang. Menatap kepergiannya.


“Ada apa?” Tanya Amera bingung dengan sikap Bella.


“Bella, apa kamu ada masalah?”


“Jika kamu memang ada masalah, kamu katakan saja. Jangan di pendam sendiri.” Amera sedikit menundukkan kepalanya. Dia mengamati setiap ukiran wajah Bella. Kedua mata yang sedikit bengkak dan memerah.


“Bentar!” Amera memegang lengan tangan Bella. Dia menghentikan langkahnya. Kedua mata itu mulai mengamati setiap gerak-gerik Bella. Dia selalu menghindar saat Amera mencoba mengamati wajahnya.


Amera mencengkeram semakin erat lengan tangannya. “Katakan padaku sekarang, apa yang terjadi denganmu?” tanya Amera.


“Memangnya aku kenapa?” Bella memalingkan wajahnya.


“Bella, tatap mataku. Kenapa kamu selalu menghindari tatapan mataku.” Amera memegang rahang Bella. Dia menghadapkan wajahnya tepat di depannya.


“Kamu nangis?” ucap Amera.


“Nggak!” jawab datar Bella.


“Sekarang aku Tanya padamu. Aku siapamu? Kamu anggap aku sahabat atau tidak. Selama ini kita selalu bersama. Selalu berbagisuka dan duka. Tapi, kenapa sekarang akmu hanya diam. Dan, tiba-iba menangis tanpa berbicara apapun padaku?” ucap Amera. Sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


“Bella, aku tahu kita bukan saudara kandung. Tapi kamu sudah aku anggap saudaraku. Jika kamu ada apa-apa katakan saja padaku.” Lanjut Amera.


“Bentar, bentar, apa Alex yang menyakiti kamu?” Tanya Amera. Dia mengerutkan ujung matanya. Menunggu jawaban dari Bella. Sebelum dirinya berpikir untuk kembali dan segera memberi pelajaran pada Alex.


“Tidak! Semua bukan salahnya. Hanya saja aku ingin sendiri. Kita bisa bicara nanti di dalam,”jelas Bella. Doia berani mengangkat kepalanya. Berusaha sekuat hatinya untuk menarik sudut bibirnya mengukirkan sebuah senyuman tipis di wajahnya.


“Baiklah, kalau begitu kita masuk,” pinta Amera. Dia menarik lengan tangan Bella untuk segera masuk ke dalam asrama kecil miliknya.


Bella melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Lalu mengunci pintu kamarnya. Sementara Amera yang bingung dengan keadaan Bella. Dia hanya bisa diam. Menatap Bella yang berjalan tanpa sepatah katapun padanya.


Amera menghela napasnya. Dia hanya diam menatap pintu kamar Bella yang sudah tertutup. Tanpa berani memaksa Bella untuk segera cerita padanya.


“Ada apa dengannya?” Tanya Dion. Berjalan menghampiri Amera.


“Entahlah, dia tiba-tiba seperti itu. Padahal tadi baru saja keluar dengan Alex,” jawab Amera. Tanpa menatap ke arah Dion.


“Apa yang di lakukan Alex?” Tanya Dion. “Apa dia menyakitinya?”


Amera berdengus kesal. Dia membalikkan badannya menatap ke arah Dion.


“Sekarang, kamu mau pulang kapan?” Tanya Amera, menarik dua kelopak matanya ke atas. Mmebuat kedua mata itu melebar sempurna.


“Iya, iya, nanti aku akan pulang,” jawab kesal Dion.


“Iya, iyu lebih baik. Aku takut jika orang-orang suruhan papa kamu datang mencarimu. Aku juga tidak mau di bilang penculik. Atau, sengaja menyembunyikanmu,” kata Amera.


“Iya, nanti akau akan pergi.” Dion membalikkan badannya. Dia beranjak duduk di sofa. Kedua kakinya terangkat, sengaja Dion meletakkan kedua kakinya di atas meja.


“Jangan keluar kemanapun, jika situasi di luar sudah aman. Tidak ada orang yang mencurigakan. Aku akan bawa kamu keluar,” ucap Amera. Menjelakan semua pada Dion.


“Setelah ini aku mau beli makanan. Kamu mau nitip apa?”

__ADS_1


“Terserah,”


**


Hari menjelang malam. Amera memutuskan untuk pergi sendiri keluar dari asrama. Dia tidak membiatkan Dion keluar dari asrama lebih dulu. Jika tahu ketua. Da pasti akan marah. Sementara Bella masih mengurung dirinya di dalam kamar. Amera bahkan belum melihat dia makan atau bahkan minum. Amera tak ingin menganggunya lebih dulu. Dia tahu sepertinya dia terluka karena patah hati. Tidak mau bertanya lebih dulu. Amera membiarkan Bella menenangkan hatinya.


Amera terus berjalan di tengah gelapnya malam. Jalanan sudah terlihat sangat sepi. Sementara Amera, dia yang memakai jaket  hitam. Menutup kepala dengan topi jaket. Dia, berjalan sembari menikmati music dari headset yang menutupi telinga. Serta kedua tangan di masukan ke dalam kantong jaketnya. Berjalan dengan kepala menunduk. Melewati beberapa keramaian yang ada di pusat kota.


 Langkah Amera terhenti seketika saat dia melihat beberapa pasang sepatu hitam berhenti tepat di depannya. Amera mengerutkan keningnya sangat dalam. Dia melepaskan headset miliknya. Mengangkat kepalanya perlahan.


“Siapa?” tanya Amera. Dia menatap beberapa wajah yang sangat asing baginya. Tiga orang laki-laki dengan pakaian serba hitam berdiri tepat di depannya.


“Kamu Amera?” tanya laki-laki itu.


“Kenapa? Ada masalah?” tanya Amera tanpa rasa takut. Dia berlagak dengan tatapan mata meledek dan menantang.


“Tidak, kamu hanya menyampaikan pesan dari boss,” ucap salah satu laki-laki di depannya. Semua wajah laki-laki itu terlihat datar tanpa ekspresi sama sekali.


Amera memutar matanya, mengerutkan bibirnya. Dengan Lidah memutar di antara kedua pipinya bagian dalam. “Pesan apa?” tanya Amera.


“Bilang terus terang, jangan basa-basi denganku. Aku tidak suka terlalu banyak bas-basi. Aku juga tidak punya banyak waktu.” Bella mengangkat tangan kanannya, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Dia bahkan belum makan malam. Dia juga belum melihat keadaan Bella yang masih mengurungkan dirinya di kamar. 


“Besok pagi datanglah ke rumah yang ada di alamat ini.” Seorang laki-laki memberikan sebuah kartyu nama pada Amera. Amera menyipitkan matanya, melihat kartu nama itu. Setelah beberapa detik terdiam. Dia segera mengambil kartu nama itu.


“Memangnya siapa bos kalian? Ada, urusan apa mencariku? Dia menantangku?” tanya Amera, membulatkan bola mata hitamnya.


“Kami tidak ingin menggunakan kekerasan, boss hanya minta kamu segera datang kesana. Ada yang ingin dia katakan padamu,” ucap laki-laki itu.


“Oke, bilang pada bos kalian. Aku akan datang. Aku tidak akan mengecewakan dia.” Amera terlihat sangat percaya diri. Menarik sudut bibirnya tipis.


Ketiga laki-laki itu segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Amera yang masih diam. Berdiri dengan kedua kaki yang terlihat santai. Tangan kanan masuk ke dalam kantong jaket. Dan, tangan kiri memegang kartu nama yang di berikan tadi. Kedua mata membaca detail alamat yang tertera. Bibir terus bergerak seperti sedang mengunyah permen karet.

__ADS_1


“Siapa boss mereka? Kenapa dia ingin bicara denganku? Apa mereka ada masalah? Atau, aku buat masalah pada mereka?”


 


__ADS_2