
Melihat Dion yang tak berdaya lagi. Amera di bantu dengan Bella dan Alex. Dia membawa Dion di asrama. Terpaksa, Amera membiarkan tempat tidurnya di pakai oleh Dion. Dion yang sudah mabuk berat. Dia belum juga sadar. Bahkan, bibirnya terus memanggil nama Adella. Meskipun kedua mata terpejam. Tapi ingatan tentang Adella selalu terbayang jelas di otaknya.
Amera terdiam saat dia tak sengaja melihat air mata Dion. Dia tahu Dion pasti begitu mencintai kekasihnya. Tapi, ada apa dengan kekasihnya. Berbagai pertanyaan muncul di kepala Amera. Dia menatap ke arah Alex yang masih duduk di sofa bersama dengan Bella.
Amera kembali menatap Dion. Dia menghela napasnya. Memutuskan untuk melangkah mendekati Dion yang masih terbaring di ranjangnya. Amera melepaskan sepatu Dion. Dia membuka kancing kemeja bajunya. Sedikit menunjukan dada bidangnya. Amera sengaja melakukan itu Agar Dion tidak merasa gerah. Amera menatap sekilas wajah Dion. Entah apa yang terjadi padanya. Rasa kasihan muncul di pikirannya. Dia merasa sangat Bersalah dengan Dion.
"Adella," panggil Dion. Dia meriah tangan Amera. Menarik tangannya, hingga tubuh Amera ikut tertarik. Terjatuh tepat di atas dada bidangnya. Amera menatap sangat dekat wajah Dion. Detak jantungnya mulai tak normal. Napasnya semakin berantakan. Aliran darahnya merangkak begitu cepat dari ujung kaki ke kepalanya. Wajahnya memerah malu. Melihat jelas setiap ukiran wajah Dion yang begitu tampan.
"Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi, aku hanya ingin bersama denganmu. Adella, jangan pergi!" ucapan itu yang terus muncul di bibir Dion. Dia mencengkeram sangat erat tangan Amera. Dia menganggap itu adalah Adella. Dion bahkan tidak mau melepaskan tangan Amera.
Sementara Alex dan Bella, dia berjalan menuju ke kamar tidur Amera. Mereka langsung membalikkan badannya. Saat melihat adegan itu di depannya.
"Maaf!" ucap Alex.
Amera terkejut. Dia mencoba perlahan melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Dion. Setelah berhasil melepaskan. Amera segera keluar dari kamarnya.
"Alex, aku mau tanya padamu. Kita bicara di luar," ucap Amera. Dia berjalan keluar lebih dulu dari kamarnya. Disusul oleh Alex dan Bella.
"Tanya apa?" ucap Alex. Dia kembali duduk di sofa. Amera duduk di sofa sedikit jauh dari Alex.
__ADS_1
"Siapa Adella?" tanya Amera terus terang.
Amera menghela napasnya. "Aku tadi terus mendengar Dion memanggil nama Adella. Apa dia kekasih Dion?" tanya Amera.
Alex melirik ke arah Bella dan Amera bergantian. Dia merasa sangat berat mengatakan itu pada mereka. Alex merasakan kesedihan yang dialami Dion sekarang. Alex menarik napasnya dalam-dalam, menahannya sejenak. Lalu mengeluarkan napasnya dari sela-sela bibirnya.
"Iya, dia kekasih Dion. Bahkan mereka akan menikah satu minggu lagu. Sebelum kejadian itu terjadi," jelas Alex.
"Kejadian?" Amera memicingkan salah satu matanya. "Memangnya kejadian apa?" tanya Amera.
"Adella meninggal dunia, dia tertembak saat kerusuhan di kota kemarin. Dan, Dion belum bisa menerima hal itu. Dia terus menganggap jika Adella masih hidup. Setiap hari dia selalu mabuk. Dia tidak pernah berhenti terus mengucapkan nama Adella," jelas Alex. Dia memejamkan kedua matanya kesekian detik. Lalu membuka matanya kembali.
Amera menatap ke arah Bella. Kedua mata mereka saling tertuju. Seolah mereka saling berbicara dalam hati. Amera dan Bella ingat tentang kejadian itu. Amera kembali menatap Alex. Dia menarik napasnya, berusaha untuk tetap terlihat santai di depan Alex. Agar tidak terlalu mencurigakan.
Sekarang dia sadar kenapa dirinya tidak bisa melihat Dion menangis. Sekarang dia juga paham, kenapa hatinya merasa sangat bersalah pada Dion. Ternyata dialah pembunuh orang yang paling di cintai. Orang yang paling berharga di hidup Dion.
Amera menelan ludahnya susah payah. Dia terdiam tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. Bella terus menatap ke arah Amera. Dia tahu perasaan Amera sekarang.
"Apa kamu beneran suka dengan, Dion?" tanya Alex. Seketika kedua mata Amera melebar sempurna. "Suka?" tanya Amera.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa berpikir hal itu?" tanya Amera.
"Aku melihatnya," ucap Alex.
Amera hanya tersenyum tipis. Tanpa bertanya apapun lagi tentang Adella. Bahkan dia hanya membahas tentang dirinya. Mencoba mengalihkan pembicaraan itu dari Alex.
Hampir beberapa jam mereka berbincang sampai larut malam. Alex memutuskan untuk pergi dari sana. Sebelum boss Amera dan Bella tahu. Mereka membawa masuk laki-laki ke dalam asrama wanita. Mereka pasti akan marah. Dan, pasti mengusir Alex dan Dion. Melihat Dion yang masih belum sadarkan dirinya. Amera duduk di samping ranjangnya. Dia tidur dengan posisi duduk, dan kepala di atas ranjang. Sementara Bella berbaring di ranjangnya sendiri. Bella sudah meminta Amera untuk tidur dengannya. Tetapi, Amera menolak. Dan, memutuskan menunggu Dion sampai dia sadar.
"Adella, Adella, tetaplah disini. Tetaplah disampingku," ucap Dion. Dia masih menutup matanya. Tertidur pulas di ranjang.
"Kamu tahu, aku tidak bisa tanpamu. Aku tidak bisa jika hidup tanpamu. Aku tidak tahu bagaimana harus melangkah." Amera menatap ke arah Dion yang masih terus mengigau. Dia melihat jelas air mata itu perlahan keluar membasahi pipi Dion.
"Baru kali ini aku melihat laki-laki menangis," gerutu Amera.
"Begitu beruntungnya Adella dicintai laki-laki yang tulus seperti dia. Apalagi Dion terlihat sangat tulus padanya. Dia bahkan tidak pernah berhenti menyebut namanya. Meskipun dia tidak sadarkan dirinya." Amera meraih kursi, meletakkan di samping ranjang. Dia beranjak duduk, tangan kanan menyangga dagunya. Kedua mata masih terus menatap wajah tampan Dion.
Amera tidak pernah berhenti kagum dengannya. Amera menghela napasnya. Dia segera menyadarkan dirinya. "Aku tidak boleh suka dengannya. Tidak, ingat tujuan kamu Amera." Amera duduk tegap. Dia melihat kedua tangannya diatas dadanya. Sembari menyandarkan punggungnya.
Amera memejamkan kedua matanya. Dia berusaha untuk tertidur dengan keadaan duduk di kursi. Kedua mata Amera tidak bisa tertutup rapat. Dia membuka matanya kembali. Menatap wajah Dion. Entah kenapa Dia masih merasa bersalah dengannya. Tapi, disisi lain. Dia juga harus menyelidiki siapa Dion. Amera mengingat jelas apa yang laki-laki paruh baya itu katakan. Dia pasti ada hubungannya dengan kakakku? Tapi, aku membunuh pacar nya. Sekarang perbuatannya impas atau aku yang salah? Amera terus berpikir sangat keras. Tidak berhenti Amera terus menggerutu tak jelas.
__ADS_1
"Amera, tidak boleh sampai suka dengannya. Lagian, aku harus selidiki dulu. Apa benar dia ada hubungannya dengan kematian kakakku? Apa benar dua yang membunuh kakakku? Jika memang benar. Aku terlanjur suka dengannya. Aku tidak akan bisa membalas dendam padanya.