
"Tapi, sayangnya aku sama sekali tidak tertarik dengan anda tuan," ucap Amera. Sembari melayangkan senyuman tipis di wajah Dion.
"Jangan terlalu percaya diri jadi wanita. Aku sama sekali tidak pernah tertarik denganmu." Dion memalingkan pandangan matanya. Dia menatap ke sembarang arah. Dirinya Tidak mau terus berhubungan dengan wanita. Seolah di hatinya masih penuh dengan kekasihnya. Dia masih belum bisa melupakan kekasihnya. Meski maut memaksakan. Di hati Dion tidak bisa tergantikan oleh wanita lain.
"Apa anda tidak waras?" tanya Amera.
"Mungkin kamu yang tidak waras." Dion menggekrkan kepalanya pelan. Dia menatap tajam ke arah Amera. Mendekatkan wajahnya. Amera tertegun, kedua mata itu membulat sempurna. Menatap sangat dekat wajah tampan Dion di depannya. Hembusan napas Dion terasa berdesir di wajahnya. Kepalanya mulai terbuai dengan harum tubuh Dion.
"Kamu itu wanita. Jangan terlalu merendahkan dirimu." Amera mengerjapkan kedua matanya bingung. Seketika tatapan kagum berubah jadi tatapan tak suka dalam hitungan detik saja.
"Hello, tuan. Siapa yang merendahkan diri. Lagian, tidak ada yang tertarik dengan anda."
"Kalau begitu jangan menikah denganku."
"Menikah?" Amera terdiam seketika. Dia mengerutkan bibirnya. Pandangan mata sedikit tertunduk.
Apa yang di katakan olehnya? Apa aku benar akan menikahinya? Apa ini adalah awal aku untuk masuk ke keluarga mafia ini. Aku bisa membuktikan pembunuhan kakakku.
"Kenapa kamu diam?" tanya Deon.
"Tidak, hanya saja aku tidak tahu jika kita akan menikah," ucap lirih Amera.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku yakin jika kamu berencana dengan ayahku untuk menikah denganku." Deon menatap kedua mata Amera yang kebingungan.
"Tapi, ingat. Meskipun memang benar ayah ingin menikahkan aku denganku. Aku tidak akan bisa mencintai Linda." tegas Deon. Dia memegang kedua lengan Amera. Mencengkeram lengannya sangat erat.
Amera menghela napasnya. Dia mendorong tubuh Deon menjauh darinya. "Lupakan! Aku juga tidak suka denganmu. Kamu tenang saja." Amera melajutkan langkahnya. Meninggalkan Deon yang masih diam di belakang. Menatap punggung Amera yang perlahan pergi menjauh. Pandangan matanya seketika menyipit. Saat dia melihat sosok yang sangat dia kenal. Dua mobil melaju dengan sangat kencang. Dari arah kanan dan kiri. Amera bahkan masih tidak sadar. Dia berjalan pelan menyeberang jalan di depannya.
"Amera!" teriak Deon. Dia berlari suara tenaganya. Meraih lengan tangan Amera. Hingga jatuh tersungkur di atas aspal tepat tubuh Amera terselamatkan dalam pelukan hangat tubuh Deon. Tangan kiri Deon memegang kepala belakang Amera yang hampir terbentur dengan pinggiran trotoar.
"Kamu gak papa?" tanya Deon. Amera masih memejamkan kedua matanya. Tubuhnya gemetar ketakutan.
"Apa aku sudah mati sekarang? Bahkan aku belum tahu siapa pembunuh kakakku!" geram Amera lirih.
"Amera..." panggil Deon.
__ADS_1
"Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Deon lagi.
"Aku masih hidup?" tanya Amera lirih. Dia takut mem gak matanya. Takut melihat kenyataan tentang dirinya.
"Apa kamu malaikat yang mencabut nyawaku?" tanya Amera.
"Buka matamu, aku Deon." kesal Deon. Dia mengerutkan wajahnya. Menahan rasa sakit di tangannya. Benturan keras yang mengenai tangannya. Membaut luka di lengan tangannya.
Amera perlahan membuka kedua matanya. Dia mengangkat kepalanya. Menatap ke arah Deon secara perlahan. Kedua mata Amera membulat seketika. Saat dia melihat sosok laki-laki yang ada di depannya.
"Kamu benar Deon," tanya Amera. Dia mendekatkan wajahnya. Hembusan napas mereka saling beradu satu sama lain.
Deg!
Detak jantung Deon tiba-tiba berhenti sesaat. Dia menatap wajah cantik Amera yang begitu dekat dengannya. Kedua mata kecoklatan itu sangat jelas di depannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Amera hanya diam. Kedua matanya saling menatap satu sama lain.
Amera menutup bibir Deon dengan telunjuk tangannya. "Sssttt... Jangan banyak bicara," ucap Amera.
Ada apa denganku, aku tidak pernah punya riwayat jantung. Sekarng jantungku mulai tidak normal kembali. Aku harus pergi ke dokter setelah ini.
Amera menarik kedua sudut bibirnya tipis. Senyuman manis terukir di bibirnya. Amera mengangkat kedua tangan perlahan. Menyentuh pipi Deon. Laku menyubitnya beberapa kali.
"Apa yang kamu lakukan?" Deon beranjak duduk. Dia tidak bisa terlalu lama berbaring di sampai bersama wanita yang dia anggap sedikit gila.
"Kenapa pipiku memerah?" tanya Amera heran.
"Apa ada yang salah denganku?" Amera beranjak duduk. Dia melirik ke kanan dan kiri. Memastikan jika dirinya sudah aman sekarang. Amera mengangkat kedua tangannya. Dua memastikan juga tidak ada luka di tangannya.
"Apa ada yang terluka?" tanya Deon.
"Tidak, ada!" Amera menggekrkan kepala pelan. menoleh ke arah Deon. Laki-laki di sampingnya itu masih mengerutkan wajahnya. Sepertinya dia masih menahan rasa sakitnya. Amera memegang tangan kiri Deon.
"Aw--" runtuh Deon.
__ADS_1
"Sakit! Pelan-pelan saja."
"Baiklah, aku hanya ingin melihatnya." Amera melihat luka di lengan tangan Deon yang begitu lebar.
"Kita pergi ke rumah sakit?" tanya Amera. dia membantu deon untuk segera berduri.
"Tidak perlu ke rumah sakit!!" tegas Deon.
"Kenapa?" tanya Amera bingung.
"Bawa aku ke rumah. Obati lukaku di rumah. Aku tidak mau pergi ke rumah sakit. Lagian aku seperti ini karena menolongku. Jadi, sekarang kamu harus bantu aku," ucap Deon. Dia menarik lengan tangan Amera kasar untuk segera pergi. Yak lama sebuah mobil mendekat ke arahnya. Dan, berhenti tepat di depannya.
Seorang laki-laki turun dari mobil. Dia mendekati Deon. "Maaf, tuan! Saya terlambat," ucap laki-laki itu.
"Dari mana saja kamu?" pekik Deon.
"Tadi di jalan ada mobil yang mengikuti kita guan. Jadi harus mengalihkan perhatian mereka. Sehingga kamu bisa lolos laku datang menemui tuan." kelas laki-laki itu.
"Mobil hitam?" tanya Deon memastikan. Dia curiga jika mobil hitam itu sebenarnya ingin membunuhnya. Tapi, dia salah sasaran dan melukai korban lainya.
"Iya, tuan!"
"Ternyata benar, mobil itu lagi." Deon menghela napannya. Bibirnya mengerutkan menahan amarahnya.
"Sekali lagi, maaf tuan!" ucap laki-laki itu
"Baiklah, tidak masalah!" ucap Deon.
"Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pengawal yabg juga kekuar dari mobil.
"Kalian naik semua. Mobil itu mengincar kita. Mereka ingin membunuhku. Lebih baik kita masuk!" Deon menarik lengan tangan Amera ubtuk masuk ke dalam mobilnya. Dan, beberapa pengawal juga ikut masuk ke dalam. Mereka segera pergi meninggalkan lokasi itu.
"Tuan, baik-baik saja?" tanya salah satu pengawal yang duduk di depan.
"Tidak masalah! Hanya luka lecet dikit." kata Deon. Dia melirik ke arah Amera Wanita itu hanya diam di sampingnya.
__ADS_1