
"Tuan, wanita yang anda cari mencari anda." Salah satu pengawal datang melaportsnyang itu semua. pada Delmon. Dengan badan sedikit tertunduk.
"Bawa dia masuk!" pinta Delmon.
"Baik, tuan!" pengawal itu segera membalikkan badannya dan pergi lagi. Dia segera membantu Amera untuk bertemu dengan laki-aki paruh baya itu. Seorang pimpinan dari ketua mafia. Tapi Amera belum tahu siapa Delmon.
"Ayo, segera masuk, tuan sudah menunggu." pengawal itu membukakan pintu untuk Bella masuk ke dalam.
"Baik, aku juga tidak punya waktu lama," ucap Amera.
Amera segera berjalan menuju ke sebuah ruangan. Mereka berjalan melewati lorong rumah yang sangat luas dan bagus. Dia menuju ke sebuah ruangan yang tiba-tiba terbuka dengan sendirinya rak buku yang ada di sampingnya. Amera sedikit canggung untuk masuk.
Dia dengan satu tarikan napasnya. Amera melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dia berjalan semakin ke dalam. Pandangan matanya terbatas. Ruangan di dalam tidak begitu terang. Dia berjalan dengan sangat hati-hati. Hingga menuju sebuah cahaya terlihat secukupnya. Hanya cukup untuk menerangi satu kotak kecil meja Delmon saja.
Amera mengerutkan keningnya. Saat dia melihat sosok laki-laki yang duduk membelakangi dirinya. Dia terlihat sangat gugup. Amera memegang tangannya. Dia berusaha untuk tetap tenang.
Amera menghela napasnya. "Apa tuan ingin bertemu dengan, saya?" tanya Amera. Berdiri tepat di belakang seorang laki yang duduk di kursi putar membelakangi dirinya.
Amera menghela napasnya. Kedua mata itu berkeliling melihat setiap sudut ruangan. Ruangan yang tidak terlalu terang. Hanya ada penerangan suasananya. Sepertinya memang laki-laki di depannya tidak suka terlalu terang.
"Iya, aku ingin kamu baca perjanjian itu," pinta laki-laki itu tanpa membalikkan badannya. Salah satu asistennya. Dia sudah menyiapkan sebuah kertas di dalam map. Amera menggigit bibir bawahnya. Amera mulai gugup. Dia tidak tahu perjanjian apa yang harus ditandatangani. Apa yang harus dilakukan?
Dalam satu tarikan napasnya. Amera memberanikan dirinya mendekat ke arah meja. Kedua matanya melihat kertas putih itu. Bertuliskan sebuah perjanjian, bermaterai.
"Perjanjian apa?" tanya Amera memberanikan dirinya.
"Kamu menikah dengan anakku. Tapi, kamu harus membuat dia jatuh cinta padaku. Aku butuh waktu kamu 1 bulan. Dalam waktu satu bulan. Kamu harus bisa membuat anak aku bisa dekat denganku. Dan, setuju menikah denganmu,"
Amera memicingkan matanya. Dia tersneyum tipis. Rasanya ingin sekali tertawa mendengar ucapan perjanjian itu. "Apa untungnya perjanjian ini?" tanya Amera. Menarik salah satu alisnya. Dia menggerakkan kepalanya pelan menoleh ke arah asisten laki-laki itu.
Laki-laki itu membalikkan badannya. Memutar kursinya. Amera menatap kearah laki-laki itu. Melihat siapa laki-laki di depannya. Dia melebarkan matanya. Terdiam, tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya.
__ADS_1
"Kamu masih ingat denganku?" tanya Delmon. Ya, laki-laki paruh baya yang duduk, sembari tersenyum picik itu, adalah ayah dari Dion. Seorang ketua mafia.
Amera mengerjapkan matanya. "Iya, aku masih sangat ingat!" ucap Amera.
"Baiklah, kalau kamu masih ingat. Sekarang, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan," ucap Delmon.
"Kamu ingat apa yang aku katakan kemarin. Aku akan bantu kamu masuk ke dalam rumahku. Kamu bisa dekat dengan Dion. Dan, kamu juga bisa menyelidiki siapa pembunuh kakak kamu. Itu, kan, yang kamu inginkan?" tanya Delmon.
Amera terdiam, dia menatap surat perjanjian itu. Dia melangkah lebih dekat. Meriah kertas perjanjian itu. Kedua mata itu membaca setiap detail tulisan yang ada di kertas itu. Dia membacanya dalam hati. Selama beberapa menit selesai membaca. Amera meletakkan kembali kertas perjanjian itu di atas meja. Dengan sangat ragu, Amera mengambil bolpoin di atas meja.
Saat ingin menandatangani. Pikirannya mulai kamu mundur. Dia setuju atau tidak. Bahkan pikirannya sangat berat harus memikirkan kematian kakaknya. Dia juga merasa bersalah dengan Dion. Sudah membunuh pacarnya yang paling dia cintai. Terus apa yang harus dilakukan. Masuk ke dalam kehidupan Dion. Kamu membuat dia suka. Menghancurkan hatinya lagi. Dalam hati kecil Amera tidak tega harus menyakiti Dion lagi.
Amera memegang bolpoin. Dia Mencengkeramnya sangat erat. "Jika kamu tidak setuju tidak masalah. Aku akan mengurungkan lagi niatku untuk menikahkan kalian," ucap Delmon.
"Maaf, tapi ini situasi tidak tepat.Adfa lagi? Bukannya kekasih Dion baru saja meninggal. Dion tidak akan mudah membuat aku jatuh cinta. Apalagi hanya 1 bulan waktu yang sangat singkat. Melupakan orang yang disayang karena kematian tidak akan pernah bisa terlupakan.
"Satu bulan? Gimana aku harus dekat dengannya. Bahkan aku saja tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Aku juga tidak pernah tahu dia," ucap Amera. Dia terlihat begitu bingung.
"Kamu tahu dia. Kamu juga pernah bertemu dengannya." Amera memicingkan matanya bingung. Dia tidak tahu siapa yang dimaksud olehnya. Dia terus memutar hatinya berpikir kembali siapa yang dimaksud oleh laki-laki paruh baya itu.
"Kemarin kamu ketemu dia di club malam?" tanya laki-laki itu.
"Oo... Maksud kamu Dion?" tanya Amera.
"Iya, Dion."
Amera mengerutkan wajahnya. Dia merasa sangat malu sekarang. Bahkan dia baru mengenal Dion kemarin. Tapi jika dia harus menikah dengan Dion gimana ceritanya. Apa bisa aku membuat dia jatuh cinta.
__ADS_1
"Gimana?" tanya laki-laki itu.
"Baiklah! Aku akan terima. Sudah sesuai dengan perjanjian," ucap Amera penuh percaya diri.
"Baiklah! Lakukan sesuai dengan. Apa yang kamu inginkan. Jangan buat dia terluka. Jangan buat dia marah. Jangan memaksa dia, atau bahkan menggunakan kekerasan," ucap laki-laki paruh baya itu mencoba untuk menyakinkan.
"Baik!"
Amera menganggukan kepalanya. Dia dengan penuh percaya diri. Dia merasa jika dirinya sangat pantas untuk dicintai. Dia juga cantik, tidak mungkin jika Dion tidak luluh dengannya nanti.
"Sekarang, boleh aku pergi?" tanya Amera.
Laki-laki di depannya hanya mengedipkan matanya. "Kamu antarkan dia pergi!" pintanya. Pada salah satu pengawal yang ada di belakangnya.
"Baik, tuan!" jawab tegas pengawal itu.
Tidak perlu dibantu, aku juga bisa pulang sendiri." Amera membalikkan badannya dan seger alergi dari sana.
"Tidak, kamu harus dijaga oleh salah satu pengawal. Aku tidak mau jika kamu juga berbuat nekat, kamu kabur Atau kamu sengaja akan membatalkan pernikahan itu."
"Aku tidak akan kabur, kamu tenang saja," jawab Amera.
"Aku antarkan kamu, sesuai dengan perintah. Jangan menolaknya," kata pengawal itu.
Amera menghela napasnya kesal. Dia mau tidak mau harus menurut apa yang dikatakan oleh pengawal Delmon. Dia juga tahu pasti Kan marah nantinya pada pengawal ini jika dia tidak mau menuruti apa yang dikatakan olehnya.
Amera menghela napasnya, dia berjalan lebih dulu. Kali ini dirinya mulai hafal jalan keluar dari rumah itu. Meskipun dia juga tidak berani kencang untuk keluar sendiri dari rumah besar itu.
Amera mulai teringat suatu. Dia dari kemarin hanya melihat Delmon, serta anaknya. Tapi saat dia datang ke rumah itu. Kemana ibunya? Apa dia sudah meningga? Atau, dia masih hidup? Tapi, kenapa dia tidak ada?
__ADS_1