
"Entah, aku juga tidak tahu siapa dia? Aku hanya feeling saja jika dia orang yang aku cari," jelas Amera. Sembari menikmati minuman yang sudah ada di atas meja bar depannya.
"Amera bentar!" Bella menepuk bahu Amera. Dan, langsung saja pergi. Tanpa bilang apapun pada Amera.
Amera hanya diam, menatap Bella pergi. Dia tahu pasti itu kekasih Bella yang menghubunginya. Lagian Bella sudah terbiasa saat pergi ke club malam. Dia selalu sajarah di ganggu kekasihnya. Selalu di hubungi, bahkan di minta untuk pulang.
Amera menghela napasnya. Dia kembali menyentuh gelas minuman yang ada di depannya. Tepat di atas meja bar. Amera masih setia duduk di sana. Amera lalu membalikkan badannya. Kedua matanya fokus menatap sekelilingnya. Kedua mata itu melihat setiap detail laki-laki yang datang. Dia tadi hampir saja berkenalan dengan seseorang. Dan, ternyata dia salah orang. Tapi, entahlah dia salah orang atau tidak. Laki-laki yang berkenalan dengannya tadi dia begitu mencurigakan.
"Hai," sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba mendekati Amera. Sontak Amera yang sibuk mengamati sekitarnya. Kedua matanya melebar seketika. Amera membalikkan badannya. Menatap aneh pada laki-laki di depannya.
Seorang laki-laki menatap ke arahnya. Dia mengulurkan tangan kanannya. Sembari tersenyum tipis padanya. "Boleh kenalan?" tanya laki-laki itu lagi.
Amera masih saja dia, sudah jadi kebiasaan Amera dan Bella selaku pergi ke club malam. Dan, tidak jarang juga. Selalu ada laki-laki mengajak kenalan mereka. Tapi Amera tidak pernah menanggapinya dengan serius. Wajah Amera tampak sangat dingin, jutek. Membuat setiap laki-laki yang ingin berkenalan dengannya tidak bisa berkutik. Percuma saja mereka tidak akan mendapatkan hasil.
"Hai, kenapa kamu diam?" tanya laki-laki itu. Menarik salah satu alisnya.
"Memangnya kenapa?" jutek Amera.
Laki-laki itu menarik tangannya kembali. Meski dirinya sedikit kecewa dengannya.
"Oke, jika kamu tidak mau berkenalan denganku. Tapi, boleh aku duduk disini?" laki-laki itu tanpa menunggu jawaban dari Amera. Dia beranjak duduk dengan wajah yang terlihat sangat tegang. Dia duduk di kursinya tepat di samping Amera.
"Namaku Alex, jika kamu berkenan kenalan denganku," ucap Alex.
Amera masih saja acuh. Dia hanya menarik sudut bibirnya sinis. Kedua matanya memutar malas. Amera menoleh ke samping. Menghindari tatapan laki-laki itu. Kedua mata Bella mulai fokus pada seorang yang baru saja lewat. Dia bersama dengan beberapa laki-laki yang berjalan di belakangnya. Laki-aku itu punya tubuh yang begitu bagus. Badan tegap, kaki jenjang. Tatapan mata yang tajam. Saat dia lewat aura club malam itu jadi berbeda. Semua bahkan menundukkan kepalanya. Saat laki-laki itu melangkah.
Sementara Amera, dia yang tidak tahu dia siapa. Hanya bisa diam, sembari mengamati setiap gerak-gerik laki-laki itu. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri bergantian. Kedua mata itu menyipit, melihat laki-laki itu yang begitu baik pada setiap orang yang menyapanya. Bahkan dia juga ikut menundukkan kepalanya. Saat ada orang yang menunduk saat dia melewatinya.
"Siapa, dia?" tanya Amera lirih. Kedua mata itu menatap begitu kagum dengan wajah tampannya. Dan, sikap sebaiknya membuat kedua mata Amera berbinar seketika.
__ADS_1
"Dia orang penting disini," saut laki-laki yang duduk di sampingnya.
Amera membalikkan badannya. Melihat sosok laki-laki yang dari tadi diacuhkan olehnya.
"Orang penting? Memangnya dia sepenting apa? Kenapa semua orang menundukkan kepalanya saat dia datang?" tanya Amera.
"Dia anak dari ketua mafia. Dia orang jujur. Banyak orang yang mengaguminya. Dia begitu baik. Jujur, dan tidak suka keributan. Beda dengan papanya. Hal itu juga yang membuat semua orang yang melihatnya selalu tunduk. Bahkan dia juga selalu merendah pada semua orang.
"Oo." Amera membalikkan badannya. Dia kembali menatap ke arah laki-laki itu berjalan. Dia terdiam sejenak, Amera mengerutkan keningnya sangat dalam.
"Apa yang dia katakan?" tanya Amera. Dia membalikkan badannya lagi. Dan, segera menatap ke arah Alex.
"Apa yang kamu katakan tadi? Dia bukan orang sembarangan? Dia anak ketiga mafia?" Kedua mata Amera melebar seketika. Dia baru tersadar dengan ucapan itu. Anak ketua mafia. Sontak membuat dirinya terkejut dan tak menyangka dirinya bertemu dengan anak ketua mafia di kota ini. Bahkan berada di satu tempat yang sama.
"Kenapa kamu terus menatapku?" laki-aki berdiri tepat di depan Amera. Amera yang kebingungan. Dia membalikkan badannya penuh keraguan. Aura mencangkam mulai menyelimuti sekitarnya. Entah kenapa sekarang dirinya mulai gugup. Amera menggerakkan tubuhnya, perlahan dia mengangkat kepalanya. Bersiap menatap seorang yang ada di depannya.
Amera melebarkan matanya. Dia melihat jelas wajah tampan laki-laki itu di depannya.
"Amera, Amera, maaf lama. Tadi aku ...." ucapan Bella terhenti saat dia baru saja sadar jika ada laki-laki di sekitar Amera. Bella menatap ke samping kiri. Dia melihat sosok Alex duduk di sana. Dan, kembali menatap kedepan. Seorang laki-laki dengan tubuh tegap berdiri tepat di depan Amera.
"Dia Siapa?" tanya Bella. Senyum tipis mulai terukir di bibirnya. Kedua mata Bella ikut berbinar melihat sosok laki-laki tampan di depannya.
"Dia begitu tampan," ucap Bella.
"Iya, dia sangat tampan," saut Amera. Dalam satu tarikan napasnya. Amera mulai menghilangkan rasa gugupnya. Dia bangkit dari duduknya. Kedua matanya memberanikan dirinya menatap sosok laki-laki tampan di depannya. Amera mengangkat tangannya, mengulurkan tangan kanannya ke arah laki-laki di depannya. Amera menarik salah satu alisnya ke atas.
Bella menghela napasnya. Di Menatap bingung dengan sikap Amera yang tiba-tiba jadi posesif pada laki-laki. Baru pertama kali dalam hidup Bella. Dia melihat Amera mengajak kenalan laki-laki lebih dulu. Bella memincingkan matanya. Dia ingin tertawa, tapi Bella berusaha terus menahannya.
Wajah laki-laki itu tampak sangat dingin. Dia hanya menatap wajah Amera. Menakutkan kedua alisnya. "Apa?" tanya laki-laki itu.
__ADS_1
"Tuan, boss bilang. Jika anda diminta untuk pulang." salah satu penjaga, melangkah dua langkah ke depan menghampiri laki-laki itu.
"Bilang padanya, aku tidak akan pulang. Aku akan tetap disini. Kalian pergi saja. Aku tidak mau ada yang menggangguku," pinta Dion.
"Tapi--"
"Tapi, kenapa? Sudah pergi saja. Jika aku kenapa-napa atau aku mabuk nanti aku akan telpon kamu," ucap Dion.
"Nanti jika Boss marah bagaimana, tuan."
"Pergi atau aku pecat kamu," tegas Dion.
"Baik, tuan!" beberapa bodyguard laki-laki itu melangkah mundur. Lalu membalikkan badannya pergi meninggalkan tuannya.
"Dion," sapa Alex.
Dion menoleh, dia menatap ke sumber suara.
"Alex?" Dion mengerutkan salah satu alisnya.
"Kamu kenapa disini? Kamu kenal dengan wanita ini?" tanya Dion bingung
"Tidak!" Alex menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak kenal denganku. Tapi, jika kamu mau berkenalan denganku. Aku mau kenalan denganmu," potong Amera. Dia tersenyum tipis. Tatapan matanya mulai menggoda, Amera menarik salah satu alisnya.
"Kenapa aku harus kenalan denganmu?" tanya Dion heran.
"Ayolah!" ucap Amera. Meski dirinya merasa sangat muak dengan pribadinya sekarang. Ini bukan Amera yang dikenal. Amera yang terkenal cuek jadi seorang wanita percaya diri sok cantik di depan Dion. Entah apa yang ada di pikirannya. Sementara Bella hanya diam, dia merasa semakin bingung dengan apa yang dilakukan Amera.
__ADS_1
Apa sebenarnya yang Amera rencanakan? Apa sebenarnya dia kenal dengan Dion? Dan, kenapa dia merubah sikapnya menjadi lebih agresif? Apa Amera punya sesuatu yang dirahasiakan pada Bella?