
Happy reading 😘😘😘
Pasir waktu berjalan begitu cepat. Tiada terasa, tahun telah berganti. Namun, aku masih tetap tenggelam dalam duka. Sakit raga dan sakit batin membuatku semakin ringkih. Hingga suatu ketika, ibu menangis karena melihatku yang tiada daya. Untuk memasukkan air ke dalam mulut, aku sudah tidak sanggup apalagi makanan. Ibu panik, kemudian beliau menghubungi Asti yang sedang bekerja.
Alhamdulillah, setelah lulus sekolah ... Asti mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang percetakan undangan. Perusahaan tempat Asti bekerja, menjalin hubungan kerjasama dengan Goresan Jingga. Goresan Jingga juga merupakan perusahaan yang bergerak di bidang percetakan.
"Asti, piye iki mbakyumu? Badannya lemas sekali," tutur ibu disertai tangis yang belum mereda.
"Ibu yang tenang ya! Asti akan segera membawa mbak Anin ke rumah sakit PKU." Asti berusaha menenangkan ibu meski dia sendiri terlihat sangat cemas.
Maaf ... hanya kata itu yang terlisan di hati saat bibir tidak bisa berucap.
Asti memesan becak untuk membawaku ke rumah sakit. Tidak sampai setengah jam, kami sampai di RS PKU. Asti segera membawaku ke UGD.
Seorang dokter cantik dengan balutan jilbab mulai memeriksa tubuhku. Senyum terbit di bibirnya tatkala mengetahui penyakitku.
"Mbak saya sakit apa, Dok?" tanya yang terucap disertai kecemasan.
"Sakit manah." Dokter cantik yang bernama Anisa itu menjawab pertanyaan Asti seraya bercanda.
Seolah mengerti apa yang kini sedang menderaku, Dokter Anisa memberi wejangan. "Jangan terlalu stres, Mbak! Supaya asam lambungnya tidak naik lagi. Bersandarlah pada Allah. Sebab, Mbak Anin sendiri yang bisa mengobati penyakit ini."
Aku hanya bisa membalas ucapan Dokter Anisa dengan anggukan kepala disertai seutas senyum.
Dokter Anisa memberiku suntikan dan meresepkan obat.
Sepulang dari rumah sakit, aku merasa lebih baik. Entah obat apa yang diresepkan oleh Dokter Anisa, sehingga bibirku bisa kembali berucap dan lambungku terasa lebih nyaman.
Bukan hanya sekali atau dua kali, aku masuk ke UGD karena penyakit yang sama.
"Nin, pasrahkan semua kepada Allah! Yakinlah, bahwa Allah telah mempersiapkan jodoh yang terbaik untukmu. Allah lebih mengetahui skenario yang terbaik bagi hamba -hamba-Nya. Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui," tutur ustadz Ilham seraya menasehatiku.
"Nin, perjuanganmu masih panjang. Tugasmu di dunia ini belum selesai. Jangan menyerah karena ujian yang terus saja mendera. Tetap lanjutkan hidupmu dengan berbekal iman serta ketaqwaan. Berusahalah memantaskan diri untuk menyambut insan yang kelak akan menjadi jodohmu."
Kata-kata yang terucap dari bibir ustadz Ilham bagaikan embun yang menyejukkan hati. Aku mulai tersadar dari khilaf dan dosa.
....
Sejak pertemuanku dengan ustadz Ilham, aku kembali menjadi Anin yang kuat dan tegar. Yang yakin akan kasih sayang Allah.
"Mbak, aku boleh pinjam fb-nya?" tanya Asti dikala kami duduk santai sambil menonton drakor.
__ADS_1
"Untuk apa, As?"
"Untuk nge add seseorang, Mbak. Dia salah seorang karyawan yang bekerja di Goresan Jingga. Orangnya ramah dan nggak banyak bicara. Wajahnya ... lumayanlah. Mirip oppa Korea." Asti menjawab pertanyaanku disertai senyuman yang merekah.
"Kamu naksir dia, As?" tanyaku tanpa berpaling dari televisi.
"Enggaklah. Hanya mas Hanan yang Asti cinta dan tidak akan ada yang lain," tandas Asti.
"Terus, ngapain juga nge add cowo lain?"
"Ya, siapa tau ... dia jodohnya mbak Anin."
"Wessss, nggak usah mulai lagi As!" Aku menjapit hidung Asti dengan gemas.
"Salah sendiri belum move on dari mas Surya. Sudah beberapa pria yang mbak Anin tolak. Asti yakin, mbak Anin menolak mereka bukan tanpa alasan."
Aku menghembuskan nafas kasar sebelum membalas ucapan Asti. "Kamu benar As. Mbak Anin menolak mereka bukan tanpa alasan. Jujur, mbak Anin kurang suka dengan pribadi dan penampilan mereka."
"Asti faham kog karakter pria yang Mbak Anin suka. Insya Allah setelah berkenalan dengan teman Asti yang bernama mas Rey, mbak Anin akan segera membuka hati," sahut Asti disertai seutas senyum yang menyiratkan makna.
"Terserah, As. Aku mau boboks." Aku beranjak dari posisi duduk lalu berjalan menuju kamar. Meninggalkan Asti yang masih setia dengan lengkungan di bibirnya.
....
Setelah kami berteman melalui fb, Reyhan sering meninggalkan jejak like dan memberi komentar di setiap statusku. Dia juga selalu membaca cerbung yang aku tulis di fb.
Aku dan Rey saling bertukar nomer handphone. Obrolan kami meningkat dengan saling berkirim pesan melalui sms.
Nin, aku boleh mampir ke rumahmu? (Pesan yang dikirim oleh Reyhan)
Boleh, Rey.
Alhamdulillah. Aku sudah sampai di masjid. Rumahmu di sebelah mana?
Masjid apa, Rey?
Masjid Fathul Jihad.
Ke utara sedikit, Rey.
Ok, siap.
Entah mengapa, jantungku berdentum-dentum setelah membaca pesan dari Reyhan. Ada sesuatu yang tetiba menyelinap di relung rasa. Padahal, melihat wajahnya saja belum pernah. Ajaib bin lucu 'kan? 😊
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam ...." Aku membalas ucapan salam yang terucap dari bibir pria yang kini sudah berdiri di depan rumah. Wajahnya sesuai yang digambarkan oleh Asti. Mirip oppa Korea.
"Anin, ya?" tanyanya disertai lengkungan bibir.
"I-iya. Reyhan kah?" tanyaku ragu.
"Iya, aku Reyhan. Reyhan Handyka Kurniawan." Reyhan mengulurkan tangannya.
"Aninda Sukma," sahutku sembari membalas uluran tangannya.
Ternyata, Reyhan tidak datang sendiri. Dia ditemani oleh temannya yang berjumlah lima orang.
Aku mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumahku yang teramat sangat sederhana.
"Silahkan duduk! Maaf, gubugku hanya seperti ini," ucapku seraya mempersilahkan Reyhan dan teman-temannya untuk duduk.
"Akh, sama seperti gubugku Nin," sahut Reyhan sambil mendaratkan tubuhnya di atas tikar, diikuti oleh kelima temannya.
"Di mana Asti?"
"Asti sedang keluar, Rey. Kamu mencarinya?"
"Nggak, Nin. Yang aku cari, mbakyunya Asti."
DEG DEG DEG
Ya Allah, pegangi hatiku ....
🍁🍁🍁🍁
Bersambung .....
Mohon maaf kemarin ICSS tidak UP, karena othornya sok sibuk. Bocil ngambek setiap bundanya memegang hp. 😅😅🙏🙏
Mohon maaf juga jika bertebaran typo 😅🙏
Klik ❤ untuk favoritkan karya
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Tinggalkan jejak like 👍
__ADS_1
Terima kasih ❤❤😘😘😘