
Mas Surya, seorang pemuda yang mendekati sempurna. Wajahnya tampan, berakhlak mulia, dan religius. Sungguh, sosok calon imam yang selama ini aku pinta pada-Nya.
"Jadilah sang surya yang mampu menyinari langkah kehidupanku, Mas." Harapanku saat itu ....
.....
Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat. Dua hari lagi saat itu akan tiba. Pertemuan yang insya Allah sebagai awal jalinan kasih kami.
Entah mengapa, hari ini gumpalan awan hitam tetiba menutupi senyum sang surya. Diiringi kilatan petir yang menyambar. Firasat apa ini? Mengapa dadaku serasa sesak. Hatiku kembali perih. Perasaan ini pernah manyapa tatkala kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupku, almarhum bapak dan Fadhil.
Ya Allah, jaga dan lindungilah orang-orang yang hamba sayangi.
"Mbak Anin ...." Sapaan Asti membuyarkan lamunanku.
"Asti? Ada apa Dek? Tumben mampir ke kios?" tanya yang keluar dari bibirku disertai seutas senyum. Aku menatap manik mata Asti yang mengembun, seakan menyiratkan duka.
"Mbak ...."
Tetiba Asti memelukku dengan erat. Aku merasa ada kabar yang ingin ia sampaikan.
"Asti, ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Mbak, yang sabar dan ikhlas!"
Ucapan Asti semakin membuatku cemas. Aku berharap, firasatku kali ini tidak benar.
Asti melepas pelukan. Manik mata yang semula mengembun kini berubah menjadi telaga bening.
"Mbak, mas Surya kecelakaan. Mas Surya ... dia ... sudah tiada."
__ADS_1
JEGLERR
Ucapan Asti bagai petir yang menyambar tubuhku. Aku terdiam dengan netra yang mulai memanas.
Aku benar-benar tidak percaya jika mas Surya pergi secepat ini.
"Tidak ... ini tidak mungkin. Mas Surya masih hidup. Dia sudah berjanji untuk menemuiku. Dia sudah mempersiapkan semuanya untuk menyambut hubungan yang akan terjalin. Ini tidak mungkin ya Allah ...."
Rasa perih karena kehilangan sosok mas Surya, ribuan kali lipat dari pada rasa perih yang pernah menyapa.
"Mbak, relakan mas Surya pergi," pinta Asti sembari merengkuh tubuhku yang serasa tanpa nyawa.
"As, mas Surya masih hidup. Dia hanya pergi sebentar dan akan kembali lagi."
"Mbak .... Mbak Anin harus kuat. Yang tegar, Mbak! Mas Surya benar-benar sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Mbak, Allah lebih menyayangi mas Surya."
Yaa Robb, teramat besarkah dosa-dosaku, sehingga Engkau memberi hukuman bertubi-tubi. Kebahagiaan yang baru saja menyapa kini berganti duka.
"Lebih baik Anin mati saja, Bu." Ucapan yang keluar dari bibirku, sebagai ungkapan keputusasaan atas takdir yang telah ditulis dalam lembar kitab-Nya.
"Nin, istighfar Ndhuk! Ibu mohon jangan berkata seperti itu. Jalan hidupmu masih panjang. Ikhlaskan yang sudah tiada. Percayalah, kelak putri ibu ... akan bertemu dengan jodoh yang lebih baik. Nin, kehendak Gusti Allah itu yang terbaik."
"Tapi Bu, jika kehendak-Nya adalah yang terbaik, mengapa Dia selalu merenggut apa yang ingin Anin rengkuh? Mengapa Dia selalu menorehkan duka?"
Ibu memeluk tubuhku erat. Beliau berusaha menguatkan putrinya yang rapuh ini. "Nin, Allah tidak pernah memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya. Yakinlah, setelah badai ujian yang selalu menerpa, kelak akan hadir kebahagiaan yang tiada pernah disangka-sangka."
"Ibu ... maafkan Anin. Maafkan kelemahan iman putri Ibu." Tubuhku berguncang hebat disertai derai air mata duka yang semakin deras mengalir.
....
Malam telah larut. Namun kedua mataku enggan terpejam. Rentetan ujian yang datang silih berganti bagaikan film yang diputar ulang.
__ADS_1
Haruskah aku menyerah pada takdir cinta yang tiada pernah berpihak?
Haruskah aku berhenti menyulam mimpi-mimpi indah?
Haruskah aku memilih mengucap kata selamat tinggal pada dunia yang fana ini?
Meski berusaha untuk tetap kuat dan tegar menghadapi kenyataan yang tidak pernah selaras dengan asa, nyatanya ... tubuhku semakin ringkih.
Sejak mas Surya tiada, setiap malam ... mataku sulit terpejam. Hanya bisa terpejam setelah bersujud pada-Nya di sepertiga malam dan melantunkan kalam cinta.
"Nin, sudah tiba waktunya. Kembalilah ke alam keabadian."
Aku berusaha menepis suara-suara yang entah dari mana asalnya. Tubuhku bergetar, nafasku seolah akan habis. Aku merasa nyawaku akan terlepas dari raga.
"Tidak. Jangan sekarang ya Robb. Bagaimana nasib ibu, Asti, dan Azizah bila hamba pergi."
Aku terus berperang dengan zat yang tiada berwujud. Hingga peluh membanjiri seluruh tubuh.
Mungkinkah saat itu telah tiba???
Dalam dekap rukuh, aku terbaring di atas sajadah dengan nafas yang mulai teratur meski sekujur tubuhku dingin dan serasa lemas.
Bukan hanya sekali atau dua kali, aku merasa nyawa ini akan terlepas dari raga. Aku terus berusaha untuk tetap hidup karena janji yang pernah terikrar. Janjiku kepada almarhum bapak yang sampai saat ini belum mampu terpenuhi. Menjaga, melindungi, serta melukis senyum di wajah ibu dan kedua adikku.
....
🍁🍁🍁🍁
Bersambung .....
Mohon maaf jika bertebaran typo 😊🙏
__ADS_1