
Happy reading 😘😘
Kidung asmara mengalun indah diiringi kemerduan orkestra alam, membawa bayang kekasih menari di bawah naungan langit berhias rupa sang dewi malam disertai gemerlap cahya bintang.
Meski malam semakin larut, Anin masih saja terjaga. Ia termenung menatap keindahan lukisan sang Pencipta yang membentuk rupa ... kekasih hatinya, Reyhan Handyka Kurniawan.
Betapa teramat bersyukurnya Anin, sebab Illahi mempertemukan ia dan Reyhan dengan cara yang sangat indah dan tentunya tiada pernah terduga.
Pandangan netra Anin beralih pada kotak kado yang ia simpan di atas meja. Bibirnya melengkung, wajahnya dihiasi binar-binar cinta.
"Aku akan membuka kotak kado pemberianmu ... sekarang Rey," monolognya sambil meraih kotak kado tersebut.
Perlahan, Anin membuka kotak kado yang sudah berada di pangkuannya. "Masya Allah. Tasbih dan Al ma'tsurat. Ini 'kan kado yang aku minta ...," pekiknya girang. Netra Anin berbinar, senyumnya merekah.
Mungkin, bagi orang lain ... kado ulang tahun yang diberikan oleh Reyhan untuk Anin, hanyalah hadiah yang teramat sangat sederhana. Namun tidak bagi Anin. Baginya, hadiah pemberian Reyhan teramat spesial.
Anin merasa sangat bahagia sebab baru kali ini ia mendapat kejutan dan kado istimewa di hari spesial dari seorang Adam yang berstatus sebagai kekasihnya, Reyhan Handyka Kurniawan.
Anin mengecup tasbih dan Al ma'surat tersebut lalu membawanya ke dalam dekapan. "Trimakasih Rey ... trimakasih. Semoga Allah meridhoi cinta kita," ucapnya sebelum memejamkan mata.
....
Langit bertudung awan putih berteman sinar sang mentari, disertai bayu yang berhembus lembut. Seperti biasa, Anin menjalankan tugasnya sebagai seorang karyawan yang diberi kepercayaan penuh oleh Bu Marta.
"Anin ...." Terdengar suara bariton yang teramat familiar. Kepala dipaksa memutar ke arah asal suara meski bisik hatinya menolak.
"Nin, aku merindukanmu ...," sambungnya. Manik mata terbingkai binar kerinduan. Tangan terulur untuk merengkuh tubuh gadis yang pernah ia putus secara sepihak melalui sambungan telepon.
Anin menepis tangan pria yang kini berdiri di hadapannya. "Nu, untuk apa kamu datang, hah?" tandas Anin disertai raut wajah tidak suka.
"Aku datang karena sangat merindukanmu, Nin. Aku sadar, aku salah karena telah memutus hubungan cinta kita," lirihnya.
__ADS_1
"Nin, aku kembali untukmu ...."
Anin tersenyum miring. Tangan mengepal. Rasa amarah dan kecewa yang telah ia hempas kini hadir kembali.
"Asal kamu tau Nu, aku tidak pernah mengharapkanmu kembali. Bagiku, kamu nggak pernah ada --"
"Nin, beri aku kesempatan! A-aku datang untuk memperbaiki hubungan kita --"
"Tidak Nu, aku tidak mau," tandas Anin.
"Nin, aku bahkan tidak datang sendiri. Aku datang bersama Bunda ...." Danu menatap wajah sang mantan kekasih dengan intens. Binar matanya menyiratkan makna yang entah. Entah ia tulus atau hanya memainkan sebuah drama yang penuh kepalsuan.
"Meski kamu datang bersama siapa pun, aku nggak akan peduli, Nu. Lebih baik, jangan pernah ... menemui ku lagi. Anggap, kita tidak pernah menjalin hubungan apapun! Bukankah kamu malu mempunyai seorang kekasih sepertiku?"
"Itu dulu, saat aku khilaf. Dan sekarang, aku sangat berharap kita bisa seperti dulu --"
"Pergilah Nu! Aku tidak ingin melihatmu lagi. Trimakasih atas luka yang pernah kamu torehkan ...." Ucapan Anin menghujam tepat ke jantung Danu, pria berdarah biru yang selalu egois dan memutuskan segala sesuatu tanpa berempati pada hati yang tersakiti.
"Baiklah Nin, aku akan pergi. Mungkin, memang Fahri-lah yang bisa membuatmu bahagia, bukan aku." Danu berlalu pergi dengan membawa rasa yang hanya diketahui oleh dirinya dan Sang pemilik hati. Danu mengira, bahwa Fahri-lah yang mengganti posisinya saat ini sebagai kekasih Aninda Sukma, sang mantan yang pernah ia sia-siakan.
"Saya sudah memaafkan putra Bunda sejak lama. Tetapi maaf, saya tidak bisa memenuhi keinginan Danu."
Rahma mengulas senyum dan membalas ucapan Anin dengan suaranya yang terdengar lembut, "tidak apa-apa Nduk. Kamu berhak menolak ataupun menerima Danu kembali. Meski, bunda berharap ... kamu-lah yang menjadi menantu bunda."
Sungguh, karakter ibunda Danu sangat berbeda dengan kedua putranya. Anin sangat berempati pada Rahma tatkala menatap sorot netra beliau yang menyiratkan duka ... terpendam.
Setelah mengucap salam, Rahma berlalu pergi dari hadapan Anin.
Anin menghempas tubuhnya di bangku. Ia tidak pernah mengira jika Danu akan datang kembali menggali luka lama.
"Ya Allah, jagalah hati hamba. Jangan biarkan rasa untuk Reyhan terkikis hanya karena kenangan di masa lalu," pinta yang hanya terlisan di hati.
__ADS_1
"Nuwun sewu, Mbak."
Anin terlonjak kala mendengar suara seorang pria blonde yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.
"Turis bisa ngomong Jawa," gumamnya. Seolah mendengar suara Anin yang hanya terdengar sangat lirih, pria blonde itu menyunggingkan seutas senyum.
"Mbak, kulo badhe nyuwun pirso. Regi miniatur sepeda, miniatur becak, lan miniatur andhong, pinten nggih?"
(Mbak, saya ingin bertanya. Harga miniatur sepeda, miniatur becak, dan miniatur andhong, berapa ya?)
Netra Anin berotasi sempurna. Bibirnya sedikit terbuka karena teramat kagum pada bule yang sangat fasih berbahasa Jawa itu.
"Mbak, kog mboten dijawab?" tanyanya dengan sedikit mengerutkan dahi.
"Owhh, ngapunten Mister ... eh Mas." Anin tersenyum kikuk. Lantas ia menyebutkan semua harga miniatur yang di tanyakan oleh Joko alias Jeffry. 😁
Selama bekerja di kios Bu Marta, Anin seringkali bertemu dengan para pengunjung dengan berbagai karakter. Anin tidak pernah mengeluh, meski terkadang ... ia menghadapi pengunjung yang hanya gemar ber tanya-tanya tanpa membeli satu pun barang dagangan yang tersedia.
Anin teramat bersyukur, sebab Reyhan tidak pernah mempermasalahkan pekerjaannya. Cinta Reyhan benar-benar tulus dari dalam hati dan tanpa syarat. Ia mencintai Anin dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
"Hal terindah dalam hidupku adalah menemukan seseorang yang mengetahui segala kekurangan dan kelemahanku. Namun masih menerima serta menganggapku luar biasa."
Aninda Sukma
🍁🍁🍁🍁
Bersambung ....
Mohon maaf jika si othor kurang bisa mendalami kisah Anin. Lebih mengena menggunakan POV Anin atau POV othor nich??? Othor remahan manut readers 😁
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like.
__ADS_1
Beri komen, gift, atau vote jika berkenan.
Trimakasih 😘😘😘