
Happy reading 😘😘😘
Seusai acara lamaran, keluarga Anin berkumpul untuk membicarakan acara akad nikah yang telah diputuskan jatuh pada tanggal 14 Maret 20.., selang satu hari setelah ulang tahun Reyhan. Seluruh keluarga menyetujui tanggal tersebut, terkecuali Anto, kakak ipar Anin.
Anto masih berpegang teguh pada keyakinan leluhur. Ia bersikeras supaya Anin mengganti tanggal pernikahannya sesuai dengan wejangan orang pintar. Anto berpendapat bahwa orang Jawa semestinya memilih tanggal pernikahan dengan berpedoman pada primbon Jawa. Pendapat Anto memang tidak salah. Namun, Anin menolaknya dengan halus. Ia berusaha memberi pengertian pada Anto bahwa keluarga Reyhan sangat tidak menyetujui jika tanggal pernikahan mereka diganti pada tanggal 13 Maret, bersamaan dengan tanggal lahir Reyhan.
Anto murka.
"Wes sakarepmu, kelak jika terjadi sesuatu, jangan salahkan mas iparmu ini, Nin." Anto meninggikan intonasi suara. Netranya nyalang. Dadanya kembang kempis seolah menahan amarah yang serasa ingin meledak.
"Mas, apapun yang akan terjadi pada kami ... sudah kehendak Illahi. Jalan hidup kami telah tertulis di lembar buku takdir. Jadi, kita tidak boleh mendahului apa yang telah digoreskan oleh Illahi dalam kitab-Nya," tandas Anin. Ia berusaha untuk bersabar menghadapi Anto yang selalu ingin dipatuhi.
Hening ....
"Panitia pernikahan sudah dibentuk atau belum?" Anto memecah keheningan dengan melontarkan kalimat tanya.
"Saya tidak membentuk panitia pernikahan, Mas --"
"Apa? Jadi, kamu tidak membentuk panitia pernikahan? Ck, bagaimana bisa acara pernikahan, kamu samakan dengan layatan," sarkas Anto.
"Mas, tidak seharusnya Mas Anto berbicara seperti itu! Pernikahan kami hanya akan dilaksanakan secara sederhana. Bukannya Anin tidak ingin membentuk panitia, tapi kemampuan Anin hanya sebatas ini, Mas. Membentuk panitia membutuhkan dana --"
"Kamu 'kan bisa meminta bantuan kakak-kakakmu, termasuk aku," ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan Anin.
Anin menghela nafas dalam lantas membuangnya dengan kasar. Ia harus ekstra sabar mengatasi kakak iparnya yang satu ini, Anto alias Maryanto.
Anto seringkali tidak konsisten dengan semua ucapannya yang terdengar bijak. Apalagi jika berhubungan dengan uang. Meminta bantuan dana untuk membentuk panitia? merupakan hal yang teramat sia-sia. "Mas Anto terkadang mengeluh mengenai keuangan keluarga, bagaimana bisa ... aku meminta bantuan yang berwujud cuan," gumam Anin.
__ADS_1
Meski Anto berkata nylekit, Anin tetap tidak terlupa untuk mengucap kata terimakasih, sebab kakak iparnya itu telah memberi uang sebesar lima puluh ribu. Anin menggunakan uang pemberian Anto untuk mengurus surat-surat di KUA. Cukupkah uang sebesar itu?? 😊
Anin sangat mengerti kehidupan keempat kakaknya. Sehingga ia tidak tega jika harus meminta bantuan pada mereka. Apalagi jika bantuan yang Anin butuhkan berupa sejumlah uang.
Meski Arjun dan istrinya terlihat seolah memiliki harta yang berlebih, tetapi semua itu wang sinawang. Anin tidak berkeinginan meminta. Namun jika diberi, Anin tidak akan menolaknya.
Sebelum memasuki hari H, berbagai ujian datang menghampiri. Mulai dengan cibiran pedas yang dilontarkan oleh Anto, kemarahan Arjuna pada Anto sehingga ia mengancam tidak akan menjadi wali nikah jika kakak iparnya itu menghadiri acara akad nikah, dan kecelakaan yang dialami oleh Reyhan ....
Anin hanya bisa ber pasrah pada Illahi. Ia ungkap kesedihan dan keresahannya pada Zat Yang Maha Berkehendak. Anin berdzikir dan melangitkan pinta di setiap sujudnya. Ia lantunkan ayat-ayat cinta untuk menguatkan hati dan menjernihkan pikiran. Anin teramat berharap, semoga Allah memberi keridhoan.
....
Rintik gerimis di pagi ini, tidak menyurutkan niat yang telah terpatri di dalam hati.
Reyhan beserta rombongan tiba di masjid satu jam sebelum acara akad. Mereka disambut hangat oleh keluarga Anin. Lantas mereka dipersilahkan untuk duduk di dalam masjid.
Netra Reyhan tidak berkedip tatkala calon kekasih halalnya berjalan memasuki masjid dengan didampingi oleh Parti, Asti, dan Azizah.
Tiba saatnya, Reyhan mengucap kalimat kabul. Meski teramat gugup, Reyhan mampu mengucapkannya dengan sangat lancar.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aninda Sukma binti almarhum Martowo Winarno dengan maskawin yang tersebut, tunai.”
"Bagaimana saksi, sah?"
Para saksi menjawab pertanyaan bapak penghulu dengan kompak.
"Sahhhhhhh ...."
"Alhamdulillah."
__ADS_1
Sebelum Reyhan dan Anin menandatangani buku nikah, bapak penghulu melantunkan doa untuk kedua mempelai.
Kalimah syukur tak henti-hentinya terlisan di dalam hati sepasang pengantin baru ... Reyhan dan Anin. Binar bahagia membingkai wajah keduanya.
Seusai acara akad nikah, sepasang pengantin baru itu berbaur dengan para tamu untuk berfoto bersama.
Tidak ada resepsi yang meriah. Hanya akad nikah dan acara sederhana yang di gelar di rumah keluarga Reyhan.
Setelah para tamu berpamitan, Reyhan dan Anin membersihkan tubuh mereka dengan guyuran air shower.
...
Malam ini merupakan malam yang teramat indah bagi Reyhan Handyka Kurniawan dan Aninda Sukma. Kini keduanya telah menjadi pasangan yang halal.
Anin terlihat begitu gugup kala Reyhan mendekat. Irama denyut jantungnya pun terdengar bertalu-talu.
Seolah mengerti yang diinginkan oleh Reyhan, Anin berucap dengan bibir gemetar, "Mas, besok saja ya! A-aku capek.".
Reyhan mengacuhkan ucapan Anin dengan mengulas senyum yang teramat manis. Ia mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang.
Lalu terjadilah apa yang semestinya terjadi ....
Rembulan tersenyum malu-malu, menyaksikan penyatuan raga yang bernilai ibadah.
Sakinah bersamamu, Rey ....
🍁🍁🍁🍁
END ....
__ADS_1
Trimakasih dan banyak cinta ❤😘