Ikrar Cinta Sehidup Sesurga

Ikrar Cinta Sehidup Sesurga
Pemikiran Seorang Reyhan


__ADS_3


Kata-kata yang terucap dari bibir mas Dira bagai petir yang menyambar tubuhku hingga hancur.


Aku berusaha menahan dada yang menyesak dan hati yang kembali remuk.


Rey ... setelah aib keluargaku tersingkap, bagaimana nasib cinta kita?


Aku ikhlas ya Robb ... jika hati ini kembali patah. Mungkin, inilah jalan takdir yang Engkau gariskan untukku .... 💔


"Re-Rey, kita pamit sekarang ya!" pintaku dengan suara yang bergetar.


"Iya Nin. Kita pamit sekarang," sahut Reyhan disertai senyuman yang menyiratkan makna. Entah apa yang dipikirkannya tentangku ... aku pasrah.


"Maaf Mas Dira, Mas Deni, kami harus pamit sekarang," tutur Reyhan. Aku dan Reyhan beranjak dari sofa, diikuti oleh Mas Deni dan Mas Dira.


"Loh, kog buru-buru?" tanya yang terucap dari bibir mas Deni.


"Iya Mas, kami diminta ... berkunjung ke rumah saudara saya yang juga bertempat tinggal di MG," kilah Reyhan.


"Owhhh, ternyata saudara Mas Reyhan juga ada yang bertempat tinggal di MG?"


"Iya Mas Den."


"Nama kampungnya apa, Mas?"


"Kalau nama kampungnya saya lupa, Mas. Yang saya hafal hanya jalannya." Lagi-lagi Reyhan berkilah.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya Mas! Jaga Anin!" tutur Mas Deni sambil menepuk pundak Reyhan.


"Iya Mas. Saya pasti akan selalu menjaga Anin," tandas Reyhan.


"Nin, sampaikan salam kami untuk ibu dan keluarga."


"Iya Mas Den. Insya Allah, nanti saya sampaikan salamnya. Asalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam ...." Mas Deni dan mas Dira membalas ucapan salamku.


Dengan membawa hati yang remuk, aku berlalu pergi dari hadapan mas Deni dan mas Dira, diikuti oleh Reyhan.


....


Reyhan melajukan kuda besinya di bawah naungan langit yang berhias awan putih.


Selama di perjalanan, kami saling terdiam. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Aku benar-benar pasrah kepada-Mu Robb. Reyhan berhak menentukan pilihan, melanjutkan hubungan kami atau menyudahinya.


"Nin, kita mampir ke Kyai Langgeng ya?" Suara Reyhan yang lembut sukses membuat dadaku berdesir dan degup jantungku terdengar bertalu-talu.


"I-iya Rey."

__ADS_1


"Kamu turun dulu!"


"Tu-turun?"


"Iya. Kita sudah sampai."


"Loh ...."


"Mau turun atau ... kita nggak jadi mampir, hmmm?"


"Iya, a-aku turun."


.


.


Setelah Reyhan menaruh kuda besi kesayangannya di parkiran, kami berjalan beriringan memasuki salah satu tempat wisata yang terkenal di kota Magelang, Taman Kyai Langgeng.


"Kamu ingin naik wahana apa, Nin?"


"Nggak, Rey. Aku nggak ingin naik wahana apapun."


"Baiklah, kita duduk dulu ya?"


"Heem Rey."


Aku dan Reyhan mendaratkan tubuh kami di bangku taman.


"Nin, kenapa malah menangis, hmm ... ?" Reyhan menatap manik mataku yang telah menjelma menjadi telaga bening.


"Maaf." Hanya kata itu yang mampu ku ucapkan.


"Nin, bukankah ... kita harus saling terbuka? Kamu percaya aku 'kan? Ungkapkan segala keluh kesahmu! Ceritakan padaku, segalanya tentangmu dan tentang keluargamu!" pinta Reyhan. Pandangan netranya tidak beralih sedikitpun.


Aku meraup udara dan menyeka wajah yang telah basah sebelum kembali membuka suara.


"Iya Rey. Aku percaya kamu."


Dengan tanpa ragu, pada akhirnya ... aku menyingkap segala coba dan uji yang selama ini mendera. Termasuk aib keluargaku.


"Rey, setelah kamu mengetahui segalanya tentangku dan aib keluargaku ... aku ikhlas jika hubungan yang telah kita jalani ... berakhir sampai di sini."


Reyhan mengulas senyum. "Nin, semua insan yang hidup di dunia ini, pasti tidak terlepas dari cobaan dan ujian. Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti mempunyai aib. Hanya saja, Allah menutupnya."


"Rey ...." Suaraku tercekat. Sungguh, tiada pernah ku duga ... ternyata Reyhan teramat bijak dan dewasa, meski usianya lebih muda satu tahun dariku.


"Nin, cinta yang tulus dari dalam hati ... tidak akan pernah terkikis hanya karena kisah kelam di masa lalu."


Kata-kata yang terucap dari bibir Reyhan laksana bayu yang menyejukkan.

__ADS_1


"Aku akan selalu berada di sisimu, Aninda Sukma."


"Rey ...."


"Nin, cacing di dalam perutku sudah demo. Kita makan bakso tenis, yuk!" Reyhan mengulurkan tangannya.


"Heem Rey," sahutku sembari membalas uluran tangan Reyhan. Kami beranjak dari bangku taman lalu mengayunkan kaki menuju warung bakso.


.


"Bu, bakso tenis dua porsi ya!"


"Siap Mas. Minumnya apa?"


"Es jeruk dua."


Setelah Reyhan memesan dua porsi bakso tenis dan dua gelas es jeruk, kami duduk di atas tikar.


Tanpa menunggu waktu lama, bakso dan minuman yang dipesan oleh Reyhan tersaji di hadapan kami.


"Makan yang banyak Nin, biar nggak mewek lagi!" titah Reyhan seraya bercanda.


"Iya Rey. Kamu juga makan yang banyak, biar kuat menjalani hari bersamaku."


"Setelah makan, kita mau ke mana lagi, Nin?"


"Katamu tadi, kita akan berkunjung ke rumah saudaramu, Rey."


Reyhan tersenyum lebar. "Pffttt ... hhhahhaa. Nggak jadi, Nin. Lain waktu saja. Sebenarnya bukan saudara sih, hanya ... kenalan."


"Jadi, tadi kamu boong ya?"


"Boong sedikit. Lagian, kita semua 'kan bersaudara. Sama-sama keturunan Nabi Adam."


Senyum terbit menghiasi wajahku tatkala mendengar celotehan yang terucap dari bibir Reyhan.


Ya Robb, trimakasih telah menghadirkan sosok Reyhan di dalam hidupku. Dia bukanlah seorang pria yang bergelimang kemewahan. Namun kehadirannya mampu merubah hidup yang semula bertudung mendung kini berhias warna bianglala.


Reyhan Handyka Kurniawan, trimakasih atas cinta dan kesetiaan yang engkau persembahkan untukku. Semoga hati kita senantiasa saling bertaut hingga nafas telah habis.


🍁🍁🍁🍁


Bersambung ....


Mohon maaf jika bertebaran typo 😅🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Beri komentar, gift, atau vote untuk mendukung ICSS 🙏

__ADS_1


Klik ❤ untuk fav karya


Trimakasih 😘😘😘


__ADS_2