Ikrar Cinta Sehidup Sesurga

Ikrar Cinta Sehidup Sesurga
Kamu Milikku & Aku Milikmu


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Meski jengah, Anin menerima panggilan telepon dari sahabatnya itu.


"Ada apa lagi Ri?"


"Jeng, aku sudah sampai di depan. Gang menuju rumah Danar sebelah mana ya?"


"Danar, Fahri sudah sampai di depan. Dia tanya gang menuju rumahmu di sebelah mana. Lebih baik, kamu jemput dia gih!" ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Fahri.


"Okey Nin." Danar beranjak dari posisi duduknya. Lantas ia mengayunkan kaki untuk menjemput Fahri.


Manik mata Anin mulai mengembun ketika ia menyadari tatapan netra Reyhan yang semula penuh cinta, kini berubah ... bagaikan sebilah pisau yang menghujam.


....


"Maaf, aku datang terlambat ...," ucap Fahri sebelum masuk ke dalam rumah Danar.


"Fahri ... selamat datang big boss." Damar menyambut kedatangan sahabatnya dengan senyuman merekah. Ia beranjak dari tikar lalu memberi pelukan singkat.


"Loh, mana yang lain?" Fahri mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Dimas dan Hasan belum datang. Andrew ijin nggak bisa datang karena sedang membuat adonan katanya ...."


"Membuat adonan?" Dahi Fahri mengerut.


"Biasalah, membuat adonan ala sepasang kekasih yang sudah halal," sahut Damar disertai tawa yang tertahan.


Fahri terkekeh kala mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Damar. "Owhhh, kirain membuat adonan kue donat atau kue ulang tahun untuk Danar. Ternyata yang dimaksud itu tho ...."


Pandangan netra Fahri beralih pada gadis yang menutup rikmanya dengan balutan jilbab berwarna ungu muda. Netra berbinar, bibir menyunggingkan seutas senyum kala bersitatap dengan Anin. Sahabat yang pernah ia lambungkan angannya, lantas ia hempaskan begitu saja hingga segumpal daging yang berada di dalam tubuhnya remuk.

__ADS_1


"Jeng," lirih Fahri. Netra tak dibiarkan beralih dari wajah gadis yang terbingkai sendu.


Anin terdiam. Ia alihkan pandangannya ke sembarang arah untuk menghindari tatapan Fahri yang menyiratkan makna.


Reyhan menghempas rasa sesak yang mendera dengan meraup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya perlahan. Terselip rasa ragu setelah ia mendengar celotehan Andrew dan sebutan 'Jeng' untuk Anin yang terlisan dari bibir Fahri.


"Mungkinkah di antara Anin dan Fahri pernah terjalin hubungan melebihi persahabatan??" Kalimat tanya yang hanya terucap di dalam hati.


Anin menghela nafas dalam sebelum membuka suara ... memecah keheningan yang tercipta.


"Maaf, aku pamit dulu ya. Ada keperluan yang mendesak." Anin ber-alibi. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Fahri. Anin teramat takut jika Reyhan semakin salah faham.


Anin dan Reyhan beranjak dari tikar lantas mengucap salam sebelum keduanya melangkah pergi.


"Dan, siapa pria yang bersama Anin?" tanya yang terlisan dipenuhi rasa ingin tau. Pandangan netra pria berkaca mata itu tak sedikit pun beralih dari objek yang sedari tadi mengusik fikirannya.


"Dia Reyhan. Calon suami Anin," jawab Danar dengan setengah berbisik. Namun masih bisa di dengar oleh Anin.


Entah apa yang dipikirkan oleh Fahri setelah ia mengetahui bahwa Anin sudah move on darinya. Bahkan pria yang menggantikan tempatnya di hati Anin memiliki wajah rupawan. Lebih handsome bila dibandingkan dengan dirinya ataupun Danu.


....


Anin membalas tatapan Reyhan disertai helaan nafas berat. Sesak. Dada Anin serasa sesak jika harus terbuka tentang rasa yang pernah singgah dan kenangan indah yang pernah tertoreh di lembar kisahnya bersama Fahri. Antara Anin dan Fahri memang tidak pernah terjalin hubungan yang melebihi ikatan persahabatan. Namun diakuinya, ia dan Fahri memang sangat dekat dari SMP, sehingga tidak sedikit teman satu sekolah mereka menganggap bahwa keduanya memiliki hubungan spesial.


"Rey, percayalah! Aku dan Fahri hanya bersahabat. Apa yang diucapkan oleh Andrew hanya sebuah gurauan --"


"Jika hanya sebuah gurauan, kenapa Fahri memanggilmu dengan sebutan 'Jeng' ?" Reyhan sedikit meninggikan intonasi suara. Ia benar-benar terbakar api cemburu. Pria mana yang tidak cemburu jika ada lelaki lain yang memanggil kekasihnya dengan sebutan tak lazim.


"Rey, aku juga nggak pernah tau, bahkan nggak mau tau, kenapa Fahri memanggilku 'Jeng'," tandas Anin.


"Okey, aku mengakui bahwa kami sempat dekat, tapi bukan kedekatan sebagai seorang kekasih melainkan hanya sebatas sahabat. Lagi pula, aku dan Fahri berada di dalam hierarki yang berbeda. Dia putra seorang pejabat sedangkan aku hanya seorang gadis yatim yang harus berjuang melawan kegetiran hidup dan mencari nafkah sendiri demi mencukupi kebutuhan serta membiayai sekolah adik-adikku."


Hening ....

__ADS_1


Anin dan Reyhan terdiam. Sepasang kekasih itu larut dalam pikiran dan persangkaan masing-masing.


"Maaf." Bibir Anin bergetar.


"Maaf jika aku selalu membuatmu ragu. Sekarang, terserah padamu Rey. Mau percaya atau tidak, itu semua hak mu. Aku nggak bisa memaksamu untuk selalu percaya dengan segala yang terlisan dari bibirku. Namun, asal kamu tau Rey .... Aku belum pernah mencintai seorang pria sedalam rasa cintaku terhadapmu."


"Benarkah? Tak terkecuali ... Surya? Pria yang selalu menginspirasi tulisanmu."


Anin bergeming. Ia merasa bimbang. Perasaannya terhadap Surya merupakan rasa cinta ataukah wujud dari kedukaan mendalam karena kehilangan sosok calon imam yang mendekati kata sempurna? Anin belum sepenuhnya mampu memahami perasaannya sendiri. Ia mengakui, nama Surya masih lekat di dalam ingatan dan sulit sekali untuk terhapus.


"Yang ...."


"Maaf --" Suara Anin tercekat. Kelopak netranya di penuhi titik-titik air. Namun ia tahan agar titik-titik air yang sudah menganak di kelopak matanya itu tidak terjatuh dan menjelma menjadi telaga bening.


Reyhan menghela nafas dalam. Ia tidak tega melihat wajah sang kekasih terbingkai kabut duka.


"Yang, aku sangat mempercayaimu. Maaf jika pertanyaan yang terlontar dari bibirku melukai hatimu." Reyhan meraih tangan Anin lalu menggenggamnya dengan erat.


"Rey --"


"Kita buka lembaran baru. Jangan mengingat lagi masa yang telah berlalu. Kamu hanya milikku dan aku hanya milikmu," tutur Reyhan disertai senyuman khas yang menawan.


Kesetiaan bermula dari kebersamaan, berkembang karena pengertian, dan bertahan karena rasa saling percaya. SG.


🍁🍁🍁🍁


Bersambung....


Maaf jika banyak typo bertebaran β˜ΊπŸ™


Semangati author remahan kulit kacang ini dengan meninggalkan jejak like


Beri komentar, gift, atau vote jika berkenan mendukung ICSS β˜ΊπŸ™

__ADS_1


Trimakasih dan banyak cinta untuk Sobat ICSS πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’ž


__ADS_2