
Happy reading 😘😘😘
Langit terhias lembayung senja, pertanda swastamita telah menyapa. Burung-burung kecil terbang disertai lantunan kalam cinta teruntuk Sang Maha Kasih, turut menyambut petang yang akan berganti malam.
Di bawah naungan langit, aku memanjatkan pinta ... semoga Illahi memberi hadiah terindah di hari ini. Sebab, hari ini usiaku bertambah 1 tahun. Tiada terasa, ternyata kini usiaku 21 tahun.
Ting
Suara notif pesan yang berasal dari benda pipih kesayanganku.
Jeng, sudah siap belum?
Belum
Selepas maghrib, aku jemput ya. Jangan lupa ajak Asti dan Azizah!
Sebenarnya, kita mau ke mana sich Ri?
Ke suatu tempat.
Ke mana?
Rahasia.
Siapa aja yang ikut selain kami?
Damar, Dimas, Hasan beserta kekasih mereka.
Ok. Kami siap-siap dulu, Ri.
.
Selepas maghrib, Fahri benar-benar menjemput kami. Entah, sahabatku itu akan membawa kami ke mana ....
Selama di perjalanan, Fahri memutar lagu naff yang berjudul Akhirnya Ku Menemukanmu. Entah mengapa, ada desiran di dalam dada tatkala mendengarkan lagu itu.
Ada yang masih ingat lirik lagu tersebut? Atau, mungkin ada yang belum pernah mendengarnya?
Baiklah ... akan ku tulis sepenggal liriknya.
Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
__ADS_1
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
.
So sweet banget 'kan lagunya? Gadis mana pun jika mendengar lagu tersebut dari bibir sang kekasih, pasti hatinya akan berbunga-bunga.
Sayang, belum ada pria yang mempersembahkan lagu itu untukku. Untuk seorang gadis yang memiliki banyak sekali kekurangan. Aku yakin, Fahri memutar lagu itu karena ... dia memang suka liriknya, tanpa terselip maksud apapun.
Fahri menghentikan mobilnya ketika sampai di sebuah rumah makan yang terletak di sebelah utara kota Jogja. Rumah makan tersebut menyajikan menu makanan serba jamur.
Setelah menaruh mobilnya di parkiran, Fahri memandu kami berjalan menuju tempat duduk yang sudah ia pesan.
Damar, Dimas, dan Hasan memperkenalkan kekasih mereka masing-masing sebelum kami duduk di kursi yang telah disediakan.
Fahri mulai mencatat beberapa menu makanan dan minuman yang akan ia pesan untuk kami.
"Jeng, kamu ingin pesan apa?" tanya yang terucap dari bibir Fahri.
Bukannya menjawab pertanyaan Fahri, aku malah membalasnya dengan pertanyaan yang absurd.
"Menunya nggak ada yang tanpa jamur, ya?"
Konsepnya saja rumah makan serba jamur, bagaimana mungkin menyajikan menu makanan selain jamur. Mungkin itulah yang terlisan di dalam hati Fahri saat ini.
"Kamu nggak suka jamur, Jeng?"
Aku mengangguk samar. "Iya, Ri."
Mendengar jawaban dariku, raut wajah Fahri berubah sendu dan menyiratkan rasa kecewa.
"Maaf ya, Ri ...," lirihku. Melihat raut wajah Fahri yang sendu, membuatku tak enak hati. Aku merasa bersalah padanya.
"Kenapa, malah kamu yang meminta maaf, Jeng?" Fahri melontarkan tanya disertai seutas senyum yang terkesan dipaksa.
Aku bergeming dan sedikit menundukkan wajah.
"Telur dadar, mau?" sambung Fahri.
"Iya, aku mau," jawabku sembari mengangguk.
.
.
Setelah menunggu selama satu jam, semua menu makanan yang dipesan oleh Fahri, telah tersaji di meja. Fuyunghai jamur, sup jamur, jamur goreng penyet, jamur krispi, dan telur dadar yang ternyata ... juga berisi jamur.
"Gimana, Jeng? Nggak suka ya?" Fahri kembali melontarkan tanya tatkala melihatku memainkan sendok dan garpu tanpa mencicipi telur dadar yang sudah ia pesan untukku.
__ADS_1
"Su-suka, kog." Aku berdusta.
"Kog nggak dimakan?"
"Itu, anu ... a-aku--"
"Coba dech, cicipi jamur krispi ini! Pasti kamu suka, Jeng ...," pinta Fahri sembari menaruh jamur krispi di piringku.
"Iya, Mbak. Enak lho jamur krispinya," sahut Asti lalu memasukkan jamur krispi ke dalam mulutnya.
"Dicoba aja, Nin! Semua menu makanan yang dipesan oleh Big Boss, enak banget lho ...," timpal Hasan.
Dengan ragu, aku mulai memasukkan jamur krispi ke mulutku.
KRESSS
Enak, gurih, dan bikin nagih. Lalu, aku memasukkan jamur krispi ke mulutku lagi ... lagi ... dan lagi.
"Gimana, aku nggak boong 'kan Jeng? Enak jamur krispinya?" tanya Fahri disertai tawa yang tertahan.
"Iya, enak banget."
"Mau nambah?"
"Mmmm ... boleh nambah, ya?"
"Boleh donk. Spesial untuk seseorang yang bertambah usia di hari ini."
Aku mengerutkan kening, berusaha mencerna ucapan Fahri.
"Selamat hari lahir Aninda," imbuhnya disertai senyuman yang merekah.
SPEECHLESS
Lidahku kelu, bibirku terkatup. Sungguh, aku terkesiap tatkala mendengar ucapan yang keluar dari bibir Fahri.
Please Ri, jangan memberi perhatian lebih. Jangan melambungkan anganku, jika kelak ... engkau hempaskan.
Jujur, bukan kebahagiaan yang kurasa ketika Fahri memberi perhatian yang teramat istimewa di hari bertambahnya usiaku. Namun, rasa sedih yang tetiba menyelinap, kala tersadar ... jurang pemisah di antara kami teramat curam.
Bangun Nin. Bangun dari mimpi indahmu di hari ini. Sadarlah, bahwa Fahri memberi perhatian lebih hanya karena ia ingin menyenangkan sahabatnya. Tidak lebih.
"Selamat ulang tahun, Aninda ...," ucapan yang terlisan dari bibir ketiga sahabatku.
Jogja, 28 Agustus 20__. Selamat bertambah usia untuk diriku sendiri.
Aninda Sukma
🍁🍁🍁🍁
Bersambung ....
Mohon maaf jika bertebaran typo 😅😅🙏
Jejak like 👍
__ADS_1
Trimakasih 😘😘😘