
Happy reading ... ๐๐๐
"Kangen ya, Jeng?" kata-kata itu yang pertama kali Fahri tujukan padaku saat berbincang melalui sambungan telepon setelah sekian tahun kami berpisah.
Setiap kata-kata manis yang keluar dari bibir Fahri seolah menyiratkan makna. Makna yang tidak pernah bisa teraba. Bahkan perhatiannya yang terlalu istimewa, mampu meruntuhkan dinding hati yang beku. G-R .... Kata itu yang sempat terselip di kalbu. Mungkin aku terlalu G-R dan salah mengartikan ucapan serta perhatiannya selama kami bersahabat. Harusnya aku sadar. Aku siapa dan dia siapa. Tidak mungkin 'kan, di kehidupan nyata, aku menjelma menjadi seorang Upik Abu atau ... Cinderella?
"Aku tau, kamu naksir aku, Jeng?" tanya yang kala itu terucap dari bibir Fahri.
"Nggak. Aku nggak--"
"Seandainya kamu naksir aku, sayang sekali! Sudah terlambat. Bukan karena ada gadis lain, tapi--" Fahri menggantung ucapannya. Entah, apa yang akan ia ucap selanjutnya.
"Dari dulu sampai sekarang, aku nggak pernah naksir kamu, Ri. Jangan G-R dech."
Sepenggal obrolan kami seusai menghadiri acara reoni sekolah.
Fahri ... sosok sahabat yang teramat sederhana dan religius. Dia selalu bersikap baik pada siapapun. Mungkin karena terlalu baik, bukan hanya aku yang pernah salah mengartikan perhatiannya. Namun, beberapa gadis yang berteman dengannya pun pernah beranggapan yang sama denganku. Mungkin.
Setelah Danu memutuskan hubungan kami, aku sering menghabiskan hari libur bersama Fahri. Terkadang memancing, silaturahmi ke rumah sahabat, atau berlibur ke tempat wisata ... salah satunya Candi. Hubungan kami tetap sama. Persahabatan ... tidak lebih.
Hingga suatu ketika, aku melakukan suatu kesalahan. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, aku bertanya pada Fahri.
"Ri, sebenarnya ... hubungan kita ini bagaimana? Kita bersahabat atau ...."
"Maaf Jeng, aku--" Hanya kata itu yang terucap dari bibirnya sebagai jawaban dari pertanyaanku. Seolah dapat memahami ucapannya, aku berusaha menerima kenyataan ... Fahri bukanlah malaikat yang dikirim Illahi untuk menjagaku.
Aku menghela nafas dalam dan memejamkan mata, menahan lara yang kembali mendera. Aku merasa dipermainkan oleh rasa. Rasa yang tidak sepatutnya menyapa. Aku harus menghempas, sebelum rasa itu semakin dalam.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk menjauh dari Fahri. Tidak mengirim ataupun membalas pesan. Tidak juga sekedar ... Just saying hello melalui sambungan telepon.
__ADS_1
Aku mulai menata hati dan membuka lembaran baru. Tanpa ada Danu atau ... Fahri.
....
Lima bulan setelah ujian berat menyapa, bukannya berganti dengan kebahagiaan, tetapi ... datang lagi ujian berat berikutnya.
Mbak Ratna ternyata hamil. Ia mengandung darah daging mantan kekasihnya, Ryan. Pria keji yang telah membunuh putra kandung mbak Ratna.
Mengetahui kehamilan mbak Ratna, ibu bertambah murka. Beliau tidak sudi memiliki cucu dari pria yang telah menganiaya dan membunuh Fadhil.
Setelah berembug, mbak Ajeng dan suaminya memutuskan untuk mengantar mbak Ratna ke yayasan, PSKW. Rencananya, mbak Ratna dititipkan di PSKW sampai bayinya lahir.
Waktu seolah bergulir begitu cepat. Tanpa terasa, kandungan mbak Ratna semakin besar.
Pagi ini, mbak Ratna mengeluh ... perutnya sudah mulai sakit. Mungkin sebentar lagi, bayinya akan terlahir.
Aku dan mas Arjuna segera berangkat ke rumah sakit untuk memberi semangat pada mbak Ratna.
"Nin, jika terjadi sesuatu padaku--,"
"Nin, jangan pergi ya!"
"Iya, Mbak. Anin akan tetap di sini sampai Mbak Ratna keluar dari ruang operasi."
Selama lebih dari dua jam, aku duduk di depan ruang operasi dengan perasaan yang tak karuan. Sedangkan mas Arjun ... pulang ke Jogja untuk menjemput ibu atas permintaan mbak Ratna.
Alhamdulillah. Bayi mbak Ratna terlahir dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Ia diberi nama, Cahya Firdaus. Mbak Ratna berharap, semoga bayi yang baru saja ia lahirkan, kelak mampu menjadi cahaya di kegelapan hidupnya.
Meski sangat membenci ayah biologisnya, aku berusaha menerima kehadiran bayi hasil karya Ryan. Ayahnya yang berbuat dosa, jangan sampai sang putra menerima akibatnya. Bukankah, bayi yang baru terlahir ke dunia ... masih suci?
Besar harapanku, jika kelak Cahya telah dewasa, jangan sampai ia menuruni sifat ayahnya.
__ADS_1
"Tumbuhlah menjadi seorang anak yang soleh Le. Kelak, jadilah sayap bagi ibumu untuk menuju ke surga-Nya."
Hati ibu luluh tatkala melihat bayi kecil tertidur di pangkuanku.
"Siapa namanya, Nin?"
"Cahya Firdaus, Bu. Panggilannya Cahya."
"Bolehkah, ibu menggendongnya?"
"Boleh, Bu."
Ibu meraih tubuh mungil Cahya dengan sangat hati-hati.
"Meski ayahmu itu seorang pria b-jat, jangan sampai kepribadiannya menurun kepadamu, Le ...," tutur ibu sembari menatap wajah Cahya dengan intens. Titik-titik embun yang sedari tadi terkumpul di pelupuk mata, kini jatuh membasahi wajah ibu.
.
Meski teramat berat menerima ujian yang datang silih berganti, kami berusaha untuk ikhlas dan berlapang dada atas segala takdir yang telah tergores dalam lembaran kitab-Nya.
Jika Allah mencintai seorang hamba, maka dia akan mencobanya denganย cobaanย yang tidak ada obatnya. Jika diaย sabar, maka Allah memilihnya dan jika dia ridho, maka Allah menjadikannya pilihan.
๐๐๐๐
Bersambung ....
Mohon maaf jika bertebaran typo ๐ ๐
Klik โค untuk favoritkan karya
Rate 5 โญโญโญโญโญ
__ADS_1
Tinggalkan jejak like ๐
Terimakasih โคโค๐๐๐