
Hal terhebat yang aku rasakan ialah, mencintai dan dicintai seseorang yang teramat tulus. Tidak perlu terlalu sempurna. Namun yang terpenting, kuat bertahan menghadapi ujian hidup bersamaku.
-Aninda Sukma-
Sebelum menulis episode selanjutnya, author meminta maaf karena tidak lagi menggunakan POV Aninda. Terus terang, author sedikit kesulitan jika menulis dengan menggunakan subjek orang pertama, jadi mulai episode kali ini ... author akan menggunakan POV author. Trimakasih dan selamat membaca 😘😘
🍁🍁🍁
Pagi ini langit terbingkai senyum sang mentari disertai hembusan bayu yang menyejukkan jiwa. Seperti biasa, Anin menjalankan rutinitasnya sebagai seorang karyawan di kios kerajinan tembaga.
Bu Marta, beliau mempercayakan kiosnya untuk dikelola oleh Anin. Seringkali para pelanggan mengira bahwa Anin adalah putri dari pemilik kios tersebut. Meski Anin mengaku bahwa ia hanyalah karyawan, tetapi tidak demikian dengan Bu Marta. Beliau mengaku pada para pelanggan bahwa Anin memang putrinya. Putri angkat maksudnya ☺
"Hai Nin, sibuk ya?" sapa Hasan sambil menghempas tubuhnya di kursi yang disediakan untuk para pengunjung kios.
"Nggak San. Kebetulan, pengunjung kios nggak terlalu ramai," sahut Anin. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi berhadapan dengan Hasan.
"Nin, bosmu nggak datang 'kan?"
"Nggak San. Beliau sedang menghadiri undangan pengajian akbar di Kota Gede."
"Syukur dech."
"Loh kog syukur?" Anin menautkan kedua pangkal alisnya.
"Ya 'kan kita bisa lebih leluasa ngobrol, Nin."
"Hmmm, memangnya ... kamu mau ngobrolin apa, San?"
"Ngobrolin tentang hubungan spesialmu dengan Fahri."
Anin menghela nafas dalam sebelum membalas ucapan Hasan.
"San, aku dan Fahri tidak pernah memiliki hubungan yang spesial. Kami hanya bersahabat. Kamu tau sendiri 'kan ... aku dan Fahri berada dalam hierarki yang berbeda. Dia putra seorang pejabat yang ternama di kota kita, sedangkan aku hanya seorang anak yatim dan tidak bergelimang harta."
"Tapi, Nin ... menurutku dan juga sahabat-sahabat kita, kalian itu cocok. Kalian berdua sangat dekat dari SMP. Pergi ke manapun seringnya berdua. Ya ... bisa dibilang seperti sepasang kekasih."
__ADS_1
"Itu menurut kalian, bukan menurut kami."
"Tapi Nin ...."
"Sudahlah San, jangan membahas soal Fahri lagi!" Anin menekuk wajahnya. Ia teramat kesal jika Hasan membahas tentang Fahri. Anin tidak ingin mengenang masa-masa indah yang pernah ia jalani bersama Fahri. Lagi pula, kini Anin telah merengkuh kebahagiaan semenjak ia menjadi kekasih seorang Reyhan Handyka Kurniawan.
"Nin, sepertinya ... kamu sebel ya sama si big boss, hmmm?"
"Sebel banget, San. Dia tuch ...." Anin menggantung ucapannya.
"Dia kenapa Nin? Kalian ada masalah?"
"Nggak ada sich. Tapi ... aku bener-bener nggak ingin kamu membahas tentang Fahri, San."
"Nin, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Fahri? Kenapa, seolah kamu sangat membencinya, Nin?" cecar Hasan dengan menatap wajah Anin lekat-lekat.
Anin memalingkan wajah ke sembarang arah untuk menghindari tatapan Hasan.
"San, sebenarnya ini masalah perasaan. Kamu tau sendiri 'kan perhatian si Fahri tuch seperti apa? Seolah-olah, aku ini bukan hanya sekedar sahabat. Dia mengangkat anganku setinggi-tingginya lalu menghempaskan begitu saja, hingga hatiku ini remuk, San. Kamu ngerti 'kan maksudku? Di ghosting itu ternyata sakitnya naudzubillah, San."
Hasan menghembus nafas kasar. Pria bertubuh sedikit gempal itu tidak pernah menyangka, Fahri yang ia percaya bisa memberi kebahagiaan untuk Anin, nyatanya malah menorehkan rasa sakit.
"Kamu terlalu berlebihan, San. Hiperbola. Fahri berhak untuk melakukan apapun yang ia mau. Lagipula, aku ini siapa tho? Bagi Fahri, kehadiranku itu tidak penting San."
"Mumpung kamu mampir, aku ingin meminta tolong San," imbuh Anin disertai lengkungan bibir yang menghiasi wajahnya.
"Minta tolong apa, Nin?"
Anin mengeluarkan amplop berwarna putih dari dalam saku kemejanya, kemudian ia serahkan kepada Hasan.
"San, tolong berikan amplop ini pada Fahri!"
"Amplop? Isinya apa, Nin?"
Anin mengulas senyum. "Isinya sejumlah uang yang pernah aku pinjam pada Fahri. Beberapa tahun yang lalu, aku meminjam uang untuk membiayai sekolah adikku, Asti. Alhamdulillah, sekarang Asti sudah bekerja, San."
__ADS_1
"Tapi, Nin ...."
"San, sampaikan pada Fahri permintaan maafku. Maaf, karena baru sekarang ... aku bisa melunasi hutang-hutangku."
"Baiklah, jika kamu memaksa. Nanti, aku akan menyampaikannya pada Fahri."
"Trimakasih, San. Sekarang, aku bisa bernafas lega karena terbebas dari beban hutang budi."
"Iya, Nin. Semoga, Fahri berkenan menerimanya."
"Jika Fahri tidak berkenan menerimanya, paksa dia San! Please, demi aku ... sahabatmu!" pinta Anin dengan penuh harap.
"Akan aku usahakan, Nin."
"Semoga Allah membalas segala kebaikanmu, San. Kamu memang sahabat yang sangattt baik. Aku teramat bersyukur memiliki sahabat seorang Hasan Setyabudi." Anin melebarkan senyumnya begitu juga dengan Hasan.
"Yasudah, aku pamit sekarang Nin. Cusss dech ke rumah big boss ... kang ghosting," ujar Hasan sambil beranjak dari kursi.
"Heeh sana! Jangan lupa lho pesanku, San!"
"Iya, insya Allah nanti aku sampaikan, kalau nggak lupa sich." Hasan terkekeh.
"Ishhh ... ishhh ... ishhh, awas aja kalau sampai lupa, aku nggak akan menganggapmu sebagai sahabatku lagi." Kalimat ancaman yang terlisan disertai bibir yang mencebik.
"Hhehehe, iya ... iya. Rasah khawatir Nin! Aku pasti menyampaikan pesanmu untuk Fahri."
"Aku pamit beneran, assalamu'alaikum ...," sambung Hasan.
"Wa'alaikumsalam, San. Hati-hati di jalan!"
Hasan membalas ucapan Anin dengan mengangkat satu jempolnya, kemudian ia melangkah pergi.
"Alhamdulillah yaa Allah, terimakasih atas limpahan rejeki yang telah Engkau berikan kepada hamba dan Asti, sehingga kami dapat melunasi hutang-hutang yang selama ini teramat membebani," monolog Anin yang terlisan di dalam hati.
Untuk semua kepedihan yang kamu alami, bersabar dan bertahanlah, karena Allah tahu di mana batas kemampuanmu.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁
Bersambung.....