
Happy reading 😘😘😘
Tujuh purnama telah terlewati. Perjalanan cinta kami, aku dan Reyhan ... diwarnai dengan pahit manis cobaan dan ujian yang datang silih berganti. Entah kelak kami bersatu dalam Ikrar Cinta Sehidup Sesurga atau tidak, hanya Sang Maha Cinta yang berkehendak.
Aku faham dengan ragu yang ia pendam. Aku mengerti jika ia berusaha bertahan meski ada saja insan-insan yang ingin mematahkan keyakinannya ....
"Rey, kamu yakin ... memilih Anin sebagai calon istrimu?" tanya yang terucap dari bibir pak Klimis. Dia salah seorang rekan kerja Reyhan.
"Insya Allah yakin Pak." Reyhan menjawab dengan mantap.
"Bukannya apa-apa, Rey. Orang yang bertempat tinggal di kampung G, biasanya dugal. Banyak yang suka minum-minum dan kemungkinan pergaulannya bebas. Ditambah lagi, Anin hanya bekerja di kios kerajinan tembaga. Apa nggak sayang dengan wajah tampanmu itu? Kamu bisa mencari gadis yang lebih baik dari Anin, Rey," tutur pak Klimis. Seolah ia tengah berusaha meruntuhkan keyakinan Reyhan.
Reyhan bergeming. Ia berusaha menelaah kata-kata yang diucapkan oleh pak Klimis.
Ternyata bukan hanya ucapan pak Klimis saja yang sukses membuat Reyhan sempat dilema. Namun, kehadiran Nara dan Arini. Dua gadis yang ingin merebut hati seorang Reyhan Handyka Kurniawan.
Nara, dia rekan kerja Reyhan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Nara untuk merebut hati Reyhan. Namun hasilnya, zonk. Hati Reyhan sama sekali tidak beralih padanya.
Arini, dia sahabat Reysa. Adik bungsu Reyhan. Arini sering kali berkunjung dan menginap di kediaman keluarga Reyhan. Dengan alasan mengerjakan tugas sekolah bersama Reysa. Namun, Arini harus menelan pahit kenyataan, sebab Reyhan hanya menganggapnya sebagai seorang adik, tidak lebih.
Alhamdulillah, meski coba dan uji menyapa ... hati Reyhan sama sekali tidak berpaling. Bahkan ketulusan cintanya semakin kentara.
....
__ADS_1
Pagi ini, aku dan Reyhan berangkat ke kota MG. Sebab, ibu memintaku untuk bersilaturahmi ke rumah kakak ipar mbak Ratna yang berada di kota tersebut.
Reyhan melajukan kuda besinya menembus keramaian kota Jogja - MG selama dua jam.
Sesampainya di kediaman kakak ipar mbak Ratna, kami disambut hangat oleh mas Dira dan mas Deni. Mereka berdua ... kakak kandung almarhum mas Alex.
"Mari silahkan masuk, Nin!" tutur mas Dira seraya mempersilahkan aku dan Reyhan untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Njih Mas, trimakasih." Dengan langkah yang sedikit berat, aku masuk ke dalam rumah bercat biru diikuti oleh Reyhan.
"Duduk dulu, Nin!" titah mas Dira.
"Njih, Mas." Aku dan Reyhan mendaratkan tubuh kami di sofa.
"Mmmm ... perkenalkan Mas. Saya Reyhan, calon suami Anin," sahut Reyhan seraya mewakiliku. Reyhan menjabat tangan mas Dira lalu berganti menjabat tangan mas Deni.
"Kamu pinter memilih calon suami Nin, tidak seperti Ratna ... mbakyumu," tutur Mas Dira dengan nada bicaranya yang menyiratkan sindiran disertai senyuman miring.
Aku bergeming tatkala mendengar ucapan mas Dira yang sukses menusuk hati. Ucapannya yang halus terdengar pedas di telinga.
"Mas, ini ada titipan oleh-oleh dari ibu," ucapku sambil menyerahkan bingkisan ... berupa satu toples roti beserta dua botol sirup. Aku berusaha mengalihkan obrolan supaya mas Dira tidak keterusan membicarakan mbak Ratna. Apa jadinya jika Reyhan mengetahui aib keluargaku? Mungkin ... dia akan langsung memutus hubungan kami. Seperti yang pernah dilakukan oleh Danu.
"Walah, malah repot-repot Nin. Sampaikan pada ibu, matur nuwun oleh-olehnya!" sahut mas Deni. Ia menerima bingkisan tersebut lalu menaruhnya di atas meja.
"Nin, bagaimana kabar keluarga di Jogja?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik Mas Den."
"Syukur Alhamdulillah."
"Mas, bagaimana kabar Fadlan? Bisa 'kah kami menemuinya?" Pertanyaan yang baru saja terucap dari bibirku malah menjadi bumerang. Reyhan yang sebelumnya tidak mengetahui aib keluargaku, pada akhirnya ....
"Alhamdulillah, kabar Fadlan sangat baik. Tetapi maaf, bukannya kami tidak mengijinkan kalian untuk bertemu dengan Fadlan. Namun untuk saat ini, biarlah Fadlan tenang dan tidak mengingat kembali kembarannya yang telah meninggal karena dibunuh oleh kekasih mbakyumu itu," sahut mas Dira dengan menekankan kata 'dibunuh'.
"Asal kamu tau, Nin ... tidak mudah bagi kami untuk memaafkan perbuatan mbakyumu. Ratna tega mengkhianati almarhum suaminya dan memilih pergi meninggalkan kota MG hanya untuk menjadi budak ***** bajin** itu. Bahkan, mbakyumu lalai dengan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Seharusnya dia bisa menjaga Fadhil. Bukan malah mengorbankan putranya sendiri, hingga bocah yang tidak berdosa itu meninggal dengan cara yang sangat mengenaskan."
JEGLER
Kata-kata yang terucap dari bibir mas Dira bagai petir yang menyambar tubuhku hingga hancur.
Aku berusaha menahan dada yang menyesak dan hati yang kembali remuk.
Rey ... setelah aib keluargaku tersingkap, bagaimana nasib cinta kita?
Aku ikhlas ya Robb ... jika hati ini kembali patah. Mungkin, inilah jalan takdir yang Engkau gariskan untukku .... 💔
🍁🍁🍁🍁
Bersambung ....
Mohon maaf jika author seringkali terlambat UP, bahkan mungkin tidak bisa UP setiap hari ... dikarenakan kesibukan di RL yang semakin menyita waktu 🙏
__ADS_1