
Happy reading πππ
Langit berhias awan putih, bersanding senyum sang mentari, berkawan hembusan angin nan menyejukkan, menjadi saksi terikrarnya janji suci Dimas dan kekasih hati.
Kedua mempelai duduk berdampingan di singgasana cinta, menyambut kehidupan baru atas ridho-Nya.
"Dimas, selamat menempuh hidup baru, semoga sakinah, mawadah, warohmah." Untain kata yang teramat tulus keluar dari bibir Anin.
"Trimakasih Nin. Semoga kamu segera menyusul," balas Dimas disertai lengkungan bibir yang menghias wajahnya.
"Aamiin yaa Allah, semoga Allah mengijabah."
"Aamiin. Oya Nin, kita foto bareng ya!" pinta Dimas.
Anin dan Reyhan mengabulkan permintaan Dimas. Mereka berfoto bersama kedua pengantin baru sebelum membaur dengan para tamu undangan yang lain.
Usai berfoto, Anin dan Reyhan mengayunkan kaki menuju meja saji. Keduanya mengambil beberapa hidangan yang tersedia.
"Anin ...." Anin menoleh ke arah asal suara. Seketika netranya berotasi sempurna disertai senyum yang merekah kala melihat si pemilik suara.
"Hasan ...," pekik Anin.
"Nin, ayo duduk bersama kami! Aku datang bersama big boss loh."
"Oya? Oke, nanti aku menyusul."
"Halahhhh, sekarang aja! Kamu datang sendiri 'kan?" kalimat tanya yang terlisan dari bibir Hasan. Ia belum mengetahui bahwa Anin sudah memiliki seorang kekasih.
"A-aku datang ber--"
"Ayolah Nin!" desak Hasan.
"Sayang." Sapa Reyhan. Anin dan Hasan terkesiap kala mendengar suara Reyhan.
"Mas Rey--"
"Ayo kita cari tempat duduk, Yang!"
"Iya Mas."
"Oya Mas, kenalkan ... sahabatku! Namanya Hasan." Anin memperkenalkan Hasan pada Reyhan.
__ADS_1
Tangan Reyhan dan Hasan saling berjabat disertai seutas senyum yang membingkai wajah mereka.
"San, Mas Reyhan ... calon suamiku."
"Apa?????" Kata yang tersirat dari ekspresi raut wajah Hasan.
"Insya Allah, tidak lama lagi kami akan menyusul Dimas. Do'ain ya, semoga Allah meridhoi niat suci kami!" pinta Anin.
Hasan sangat terkejut mendengar kata-kata yang mengalir tanpa beban dari bibir sahabatnya, Aninda Sukma. Hasan benar-benar tidak menyangka, Anin bisa dengan mudahnya move on dari Fahri, sosok pemuda yang mendekati kata sempurna.
"San ...." Anin menoel pundak Hasan.
"Eh, i-iya Nin." Hasan tergagap.
"Se-semoga Allah senantiasa meng ijabah niat suci kalian," sambungnya dengan mimik wajah tak terbaca.
"Trimakasih, San."
Hasan mengangguk samar disertai seutas senyum yang terkesan dipaksakan.
Hasan, Anin, dan Reyhan berjalan menuju tempat duduk, membaur bersama Fahri dan para tamu.
"Fahri." Hasan menepuk pundak sahabatnya yang tengah asik menikmati ice cream. Seketika Fahri menengadahkan wajah. Fahri sangat terkejut tatkala pandangan netranya menangkap objek yang sangat familiar.
Anin tersenyum ramah. Kini, ia merasa biasa-biasa saja jika bertemu dengan Fahri. Tidak ada lagi denyutan merdu ketika melihat wajah seorang sahabat sekaligus orang yang pernah menorehkan luka di hati.
Anin membuka suara. Ia memperkenalkan Reyhan pada Fahri.
"Reyhan ...."
"Fahri ...."
Tangan kedua pemuda itu saling berjabat tanpa disertai seutas senyum pun. Entah apa yang terbesit di dalam pikiran mereka masing-masing ....
Reyhan nampak tidak berselera menikmati makanan yang ia ambil. Hatinya kembali di dera oleh rasa cemburu.
"Sayang, kita pulang sekarang yuk!" ajaknya sambil beranjak dari tempat duduk.
"Iya Mas." Anin mengangguk samar lalu bangkit dari posisi duduknya. Ia memahami perasaan Reyhan saat ini.
Anin dan Reyhan pun berlalu pergi setelah berpamitan dengan Fahri dan Hasan.
...
__ADS_1
"Mas Rey, cemburu ya?" goda Anin sambil menaik turunkan kedua alisnya disertai wajah yang terbingkai tawa.
"Hemmm. Jelas cemburu-lah. Tapi nggak masalah, 'kan nyenengin calon istri," sindir Reyhan dengan memasang wajah sebal.
"Jangan cemburu Mas! Bukankah sebentar lagi, kita akan menikah?"
"Cemburu 'kan tanda cinta."
"Iya, Mas Rey. Boleh cemburu asal jangan berlebihan. Cintaku hanya untuk Mas Rey seorang kog ...." Anin menatap manik mata kekasihnya lekat-lekat. Di dalam hati, Anin melantunkan kalimah syukur atas kasih sayang Illahi yang telah memberi anugerah cinta terindah.
Reyhan membalas tatapan sang kekasih. Lantas sepasang kekasih itu saling melempar senyum.
....
Perjuangan untuk menuju halal tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai ujian datang silih berganti. Namun jika Illahi sudah mengucap kalimah "Kun fayyakun" maka apapun halangan dan rintangan yang datang menghadang tidak akan berarti bagi kedua insan yang telah dikehendaki-Nya untuk menyatu dalam ikatan suci, pernikahan.
Jodoh telah tertulis di kitab Lauhulmahfuz. Anin terlahir untuk Reyhan, begitu pun sebaliknya.
.
.
Malam ini merupakan malam bertabur kebahagiaan bagi sepasang kekasih yang telah memantapkan hati untuk mengucap Ikrar Cinta Sehidup Sesurga. Mereka, Reyhan dan Anin.
Reyhan datang ke rumah Anin bersama kedua orang tuanya, keluarga, dan salah seorang tokoh di kampungnya. Ia berniat untuk melamar sang kekasih meski hanya dengan cara yang sangat sederhana.
Anin dan keluarganya menerima lamaran Reyhan dengan senang hati. Lantas kedua keluarga memutuskan tanggal pernikahan Reyhan dan Anin dua minggu setelah acara lamaran.
Meski tanggal pernikahan sudah ditentukan, bukan berarti tidak akan datang ujian yang menyapa.
Sakinah bersamamu .... Kalimat yang sering kali terlisan dari bibi Anin.
"Tak perlu pendamping hidup yang sempurna, cukup yang seiman, sejalan, dan saling memperjuangkan meski ujian seringkali hadir menyapa."
ππππ
Bersambung .....
Maaf jika banyak typo bertebaran βΊπ
Semangati author remahan kulit kacang ini dengan meninggalkan jejak like
Beri komentar, gift, atau vote jika berkenan mendukung ICSS βΊπ
__ADS_1
Trimakasih dan banyak cinta untuk Sobat ICSS πππππ