
Obrolan kami berakhir ketika jam dinding menunjuk pukul delapan malam.
"Kami pamit ya, Nin. Asalamu'alaikum ...," tutur Reyhan sebelum melangkah pergi.
"Wa'alaikumsalam. Trimakasih Rey ...."
"Trimakasih?"
"Hehem. Trimakasih karena sudah berkunjung ke gubugku."
"Owhhh. Kembali kasih, Nin. Nanti kita lanjut sms."
"Iya Rey," sahutku disertai seutas senyum.
Awal pertemuan yang sangat berkesan bagiku, dan mungkin ... juga baginya. Reyhan Handyka Kurniawan.
....
Reyhan benar-benar memenuhi ucapannya. Sesampai di rumah, ia mengirim pesan untukku.
Nin, sudah tidur?
Belum Rey
Nin, setelah bertemu denganku, bagaimana kesanmu tentang aku?
Kamu pemuda baik, Rey.
Cuma baik?
Kata Azizah, wajahmu mirip Lee Min Ho 😁
Wajahku bukan mirip Lee, tapi Parto 😂
Nggak yoooo ... nggak mirip sama sekali 😂
Nin ....
Hemmm ....
Kapan gantian silaturahmi ke rumahku?
Kapan-kapan, asal ada yang jemput 😁
It's okay, aku yang akan menjemputmu 😉
Baiklah. 😊
__ADS_1
Sudah malam Rey, aku istirahat dulu
Tidurlah Nin. I will always ....
?????
Good night. Mimpi yang indah.😉
Kamu juga, Rey. 😊
Sejak pertemuan malam itu, kami semakin sering berkirim pesan atau berbincang melalui sambungan telepon. Hingga suatu sore, Reyhan mengirim pesan yang sukses membuat jantungku kembali berdentum-dentum.
Nin, aku sudah sampai di depan kios.
Loh? 😬
Hari ini, aku menjemputmu. Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku.
Tapi Rey ....
Aku tunggu di depan.
Mengenalkanku pada keluarganya? Apa maksudnya? Aku berusaha mencerna kalimat yang dikirim oleh Reyhan. Namun, aku segera menghempas pikiran yang berlebihan agar tidak kembali terjatuh pada lubang yang sama.
Gegas, aku berkemas lalu menutup pintu dan jendela. Setelah memastikan pintu dan jendela kios tertutup rapat, aku segera menemui Reyhan yang sudah menunggu di depan.
"Nggak kog. Nggak lama. Buruan naik, Nin!" titah Reyhan.
Meski sedikit ragu, aku mendaratkan tubuh di jok sepeda motornya.
Reyhan melajukan sepeda motor, membelah padatnya jalanan kota Jogja. Selama di perjalanan, kami terus saja berbincang mengenai pekerjaan dan keluarga. Namun untuk saat ini, aku merahasiakan cerita pahit yang pernah tertoreh di lembar kisah perjalanan hidupku. Aku takut, Reyhan akan pergi menjauh setelah mengetahui ujian yang menjadi aib keluargaku.
Reyhan menghentikan sepeda motornya tepat di depan rumah sederhana ber cat hijau.
Setelah turun dari sepeda motor, kami berjalan menuju teras rumah. Dadaku berdesir tatkala pandangan mataku tertuju pada seorang wanita paruh baya dan dua orang wanita muda. Mereka berdiri di teras rumah sembari melempar senyum ke arahku.
"Bu ... ini Anin." Reyhan melirik ke arahku disertai senyuman yang menyiratkan makna.
Aku segera meraih tangan wanita paruh baya yang ternyata ibunda Reyhan. "Saya Anin, Bu ...," ucapku seraya memperkenalkan diri. Aku mencium punggung tangan ibunda Reyhan dengan takzim.
Beliau tersenyum lalu membalas ucapanku. "Ibu ... ibunya Reyhan, Ndhuk. Reyhan sudah menceritakan semuanya tentangmu kepada kami. Kami sangat senang, karena Reyhan tidak salah menjatuhkan pilihan. Ibu merestui kalian, Ndhuk."
DEG
Ucapan ibunda Reyhan sukses menabuh jantungku hingga degupnya terdengar bertalu-talu. Aku sungguh tidak mengerti, mengapa beliau berucap seperti itu. Merestui kami? Mungkinkah Reyhan ....
"Hai Nin. Kenalkan, aku mbakyunya Reyhan. Dita." Mbak Dita menjabat tanganku disertai senyumnya yang merekah.
__ADS_1
"Aku, Reyna. Mbakyunya Reyhan juga, Nin ...," sahut Mbak Reyna sembari menjabat tanganku diikuti lengkungan bibir, hingga nampaklah senyum yang teramat manis menghiasi wajah ayunya.
Jujur, hatiku tergetar tatkala mendapat sambutan yang hangat dari keluarga Reyhan, meski ... belum memahami maksud perkataan ibundanya dan sambutan hangat ini. Mungkinkah keluarga Reyhan beranggapan bahwa hubungan kami bukan hanya sekedar pertemanan biasa? Entahlah ... Aku harus memastikannya.
Aku mendaratkan tubuh di permadani yang digelar di ruang tamu, setelah ibunda Reyhan mempersilahkan.
"Nin, diminum dulu teh nya!" ucap Reyhan sambil menyodorkan secangkir teh hangat.
"Trimakasih Rey," sahutku dengan tersenyum kikuk.
"Nin ...."
"Ya ...."
"Maaf Nin. Kamu nggak keberatan 'kan jika hubungan kita lebih dari sekedar pertemanan biasa?" tanya yang terlontar dari bibir Reyhan disertai tatapan netranya yang teduh.
"Kamu faham 'kan maksudku, Nin?" sambung Reyhan.
"Iya Rey. A-aku nggak keberatan. Tapi, apa ini nggak terlalu cepat untuk kita?" Aku berusaha memberanikan diri untuk mengucap tanya disertai debaran di dalam dada.
"Nggak Nin. Nggak terlalu cepat. Aku ingin, kamu bersedia menerimaku sebagai calon imam-mu!" tuturnya dengan sungguh-sungguh disertai tatapan netra yang tidak beralih.
"Tapi Rey--"
"Nin, aku ingin menjadi penjaga dan pelindungmu hingga nafasku habis. I will always love you Aninda Sukma."
Ya Allah ... mungkinkah Reyhan jawaban atas segala pintaku? Jika benar ... jangan biarkan hati ini kembali patah. Berikan ridho-Mu, sentuhkan cinta yang indah dalam takdirku.
"Rey--"
Lidahku serasa kelu hingga bibir ini tak mampu membalas ucapan Reyhan.
Reyhan Handyka Kurniawan, seorang Adam yang tiba-tiba saja hadir melengkapi kisah dalam buku takdirku. Dialah bianglala yang menjadikan hidup ini lebih berwarna.
"Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku." – Umar bin Khattab
🍁🍁🍁🍁
Bersambung .....
Mohon maaf jika bertebaran typo 😊🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Beri komentar, gift, atau vote untuk mendukung ICSS 🙏
Klik ❤ untuk fav karya
__ADS_1
Trimakasih 😘😘😘