
Happy reading πππ
Reyhan menghela nafas dalam. Ia tidak tega melihat wajah sang kekasih terbingkai kabut duka.
"Yang, aku sangat mempercayaimu. Maaf jika pertanyaan yang terlontar dari bibirku melukai hatimu." Reyhan meraih tangan Anin lalu menggenggamnya dengan erat.
"Rey --"
"Kita buka lembaran baru. Jangan mengingat lagi masa yang telah berlalu. Kamu hanya milikku dan aku hanya milikmu," tutur Reyhan disertai senyuman khas yang menawan.
Kesetiaan bermula dari kebersamaan, berkembang karena pengertian, dan bertahan karena rasa saling percaya. SG.
....
Sudah beberapa hari ini Reyhan menderita sakit cacar air. Dalam istilah Jawa biasa disebut penyakit cangkrang. Terpaksa, Reyhan dan Anin tidak bertemu untuk beberapa waktu. Tersiksa karena rindu? Itu pasti.
Sore ini, Anin berniat untuk menjenguk sang kekasih. Ia ditemani Isti, salah seorang rekan kerjanya.
Isti menghentikan laju sepeda motornya ketika sampai di depan rumah sederhana milik keluarga Reyhan. Kedua gadis itu disambut hangat oleh ibunda Reyhan, Siti Aminah.
"Assalamu'alaikum, Bu." Anin mengucap salam lalu mencium punggung tangan calon ibu mertuanya dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam, Nduk." (Ibunda Reyhan biasa memanggil Anin dengan sebutan 'Mbak' di sini author ganti dengan 'Nduk' π).
"Mari masuk!" titah ibunda Reyhan.
"Inggih Bu," balas Anin.
Setelah mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk ke dalam rumah, ibunda Reyhan memanggil sang putra yang tengah beristirahat di dalam kamar.
"Rey, calon istrimu datang," tutur ibunda Reyhan.
"Ya Bu," sahut Reyhan sambil beranjak dari ranjang.
Reyhan terkesiap sebab tiba-tiba ... kekasih yang dirindukannya sudah berdiri di hadapan.
"Sayang ...."
"Rey. Gimana keadaanmu? Sudah mendingan atau --"
"Ya, beginilah. Kenapa baru menjenguk calon suamimu ini, hmm?"
"Maaf Rey. Kamu tau sendiri 'kan, aku nggak ada yang nganter."
"O ... gitu ya? Jadi kalau nggak ada yang nganter, Sayang nggak bakalan jenguk aku. Blas nggak ada perjuangannya Yang ...," cibir Reyhan dengan memasang raut wajah masam.
"Maaf Rey, bukan gitu maksudku. Jangan marah ya! Kalau marah, cakepnya hilang loh," balasnya dengan bercanda.
Anin terkekeh. Ia geli bercampur iba melihat wajah Reyhan yang dipenuhi bekas cacar air. Meski wajah Reyhan berkurang tampannya, perasaan Anin terhadap Reyhan sama sekali tidak luntur.
"Biarin ilang. 'Kan udah ada yang cinta bangetz. Meski wajahku jadi seperti ini, kamu tetep cinta aku 'kan Yang?" Reyhan menatap wajah sang kekasih dengan tatapan penuh cinta. Andai sudah halal, ingin rasanya ... Reyhan mendaratkan kecupan di kening gadis yang ia cintai, bahkan mungkin di bibir ranumnya.
"Itu pasti, Mas Rey." Anin tersenyum dan membalas tatapan Reyhan.
__ADS_1
"Aku seneng lho, dipanggil Mas Rey."
"Oya?"
"Hehem. Panggil aku Mas Rey terus Yang!"
"Mmmm ... gimana ya? Tapi 'kan kamu lebih muda dariku, Rey."
"Hanya karena aku lebih muda, Sayang nggak mau memanggilku 'Mas'... ? Baiklah, mulai sekarang ... aku akan memanggil Sayang, Mbak Anin."
Bibir Anin mencebik diikuti tawa renyah Reyhan. "Issss, kog Mbak sih?"
"Ya 'kan aku lebih muda, sedangkan Mbak Anin lebih tua," sahut Reyhan disertai tawa yang masih membingkai wajahnya.
Anin menghela nafas lantas membuangnya dengan sedikit kasar. "Baiklah, aku ngalah. Mas Rey." Anin menekankan kata Mas Rey sambil memutar bola matanya dengan malas.
"Jadi, nggak ikhlas nich manggil Mas Rey nya?"
"Ikhlas Mas Rey."
"Beneran ikhlas?"
"Iya ikhlas."
"Coba panggil aku Mas!"
"Masssss."
"Sekali lagi!"
"Mas."
"Mas Rey."
"Iya Sayang."
"Ganti celananya dong! Kependek-an lho."
"B aja sih. Nggak terlalu pendek kog."
"Itu menurutmu Mas. Please, pake sarung atau celana yang lebih panjang!" pinta Anin. Ia sungguh tidak rela jika ada gadis lain ... melihat paha kekasihnya yang terbuka, karena Reyhan hanya mengenakan celana pendek di atas lutut. Sehingga paha putihnya terpampang jelas.
"Iya ... iya, aku ganti celana dulu."
"Aku tunggu di ruang tamu, M-as Rey," sahut Anin. Lantas ia memutar tumitnya.
....
Empat cangkir teh nasgitel telah tersaji beserta camilan berupa kripik tempe, menemani keempat orang yang tengah asik berbincang di ruang tamu. Mereka ... Reyhan, Anin, Isti, dan Aminah.
"Nduk, yang bolak-balik menjenguk Reyhan hanya si Dilan lho. Hampir setiap hari Dilan datang ke rumah dan dengan setia menemani Reyhan." Ucapan ibunda Reyhan sukses mencubit hati Anin. Sebagai seorang kekasih, Anin merasa teramat malu karena kurang perhatian. Anin juga merasa tidak enak hati sebab baru sempat menjenguk Reyhan hari ini.
"Maaf Bu, Anin baru sempat menjenguk Mas Rey hari ini," ucap Anin penuh penyesalan sambil menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa Nduk. Ibu dan Reyhan memahami keadaanmu .... Alhamdulillah, Reyhan sudah sembuh dan tinggal memulihkan wajahnya yang dihiasi bekas cangkrang," tuturnya sambil tersenyum lebar dan melirik Reyhan dengan ekor netranya.
__ADS_1
Tanpa terasa, swastamita telah menyapa. Tiba saatnya, Anin dan Isti berpamitan .... Meski masih enggan berpisah, Reyhan menghantarkan kekasihnya sampai di depan pintu.
"Rey ... Eh, Mas Rey."
"Ya ...."
"Cepet sembuh ya."
"Heem Yang. Besok, aku antar kerja ya!"
"Jangan dulu, Mas Rey. Tunggu sampai Mas Rey sembuh, baru dech ... antar jemput aku lagi."
"Aku udah sembuh kog."
"Tapi belum sembuh betul, Mas."
"Sayang malu ya ... aku nggak tampan lagi?"
"Tentu saja nggak malu Mas. Aku cuma ingin Mas Rey cepet sembuh --"
"Ssstttt sudah, Yang! Besok pagi, aku tetap akan mengantarmu kerja," ucap Reyhan seraya memaksakan kehendak.
Anin menghela nafas dalam. Mau tidak mau, Anin mengiyakan ucapan Reyhan. Meski, ia tidak tega jika sang kekasih mengendarai kuda besinya dalam keadaan sakit.
"Iya, Mas. Terserah Mas Rey aja," balasnya sambil menyunggingkan seutas senyum.
"Isti, nitip Anin ya! Antar Anin sampai rumah!" titah Reyhan.
Isti menarik kedua sudut bibirnya lantas membalas ucapan Reyhan. "Siap Mas."
"Assalamu'alaikum, Mas Rey." Anin mengucap salam sebelum mendaratkan tubuhnya di jok bagian belakang.
"Wa'alaikumsalam, Yang."
Isti mulai menyalakan mesin sepeda motor kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang, meninggalkan Reyhan yang masih berdiri terpaku menatap punggung sang kekasih hingga tak nampak lagi.
....
Banyak sekali pengorbanan yang telah Reyhan berikan untuk membuktikan cintanya yang teramat tulus kepada sang kekasih, Aninda Sukma.
Reyhan mencintai Anin apa adanya. Bukan ada apanya.
Cinta tanpa syarat, ikhlas menerima segala kekurangan dan kelebihan tanpa meminta sang kekasih menjadi pribadi yang berbeda. Itulah prinsip seorang Reyhan Handyka Kurniawan.
Akankah mereka benar-benar ditakdirkan untuk bersama dan mengucap Ikrar Cinta Sehidup Sesurga yang menjadi impian keduanya selama ini? Biarkan sang waktu yang akan menjawabnya.
Manusia boleh berencana. Namun Illahi yang Maha berkehendak. π
ππππ
Bersambung ....
Maaf jika banyak typo bertebaran βΊπ
Semangati author remahan kulit kacang ini dengan meninggalkan jejak like
__ADS_1
Beri komentar, gift, atau vote jika berkenan mendukung ICSS βΊπ
Trimakasih dan banyak cinta untuk Sobat ICSS πππππ