Ikrar Cinta Sehidup Sesurga

Ikrar Cinta Sehidup Sesurga
SURYA


__ADS_3


Terkadang, aku merasa lelah dengan ujian hidup yang tak kunjung usai. Bukan hanya ujian hati. Namun ujian keluarga yang silih berganti.


Aku harus kuat demi ibu dan kedua adikku yang masih sekolah. Mereka masih membutuhkan uluran tanganku.


Meski hanya bekerja sebagai karyawan di kios kerajinan tembaga, aku tetap bersyukur. Yang terpenting, kebutuhan keluargaku dapat terpenuhi.


Selain bekerja di kios kerajinan tembaga, selepas maghrib ... aku membuka warung bakmi di rumah. Ikhtiyar apapun aku lakukan demi mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan pendidikan kedua adikku.


Tidak pernah terlintas di pikiranku untuk membagi beban dengan kakak-kakakku. Sebab aku yakin, mereka mempunyai beban sendiri-sendiri yang mungkin lebih berat dariku. Aku harus mandiri.


"Nin, pesen bakmi goreng satu, nggak pake loncang. Dimasak garing ya, jangan nyemek!"


"Siap Mbak Sumi. Tunggu sebentar ya!"


Aku tetap memasang senyum, meski terkadang harus menghadapi pembeli yang banyak bicara dan ke-po.


"Eh Nin, usiamu berapa sih? Kog belum punya pacar?" Pertanyaan unfaedah yang keluar dari bibir mbak Sumi. Tetanggaku yang memang suka kepo dengan kehidupan orang lain.


"Hampir 22 tahun Mbak," jawabku sembari fokus memasak pesanan.


"Owwwhhh 22 tahun." Mbak Sumi manggut-manggut.


"Nin, mungkin yang menyebabkan kamu belum punya pacar dan belum laku, karena wajahmu paling jelek sendiri di antara saudara-saudaramu yang lain ...."


JLEB


Ucapan yang terlontar dari bibir mbak Sumi, sukses menghujam hatiku.


Aku sadar, wajahku ini juelek. Nggak ada manis-manisnya, apalagi cantik. Tapi, please ... jangan terlalu jujur. Hati ini bukan terbuat dari besi atau beton. Namun hanya dari segumpal daging yang mudah hancur.


"Mbak Sumi, pesanannya sudah jadi," ucapku sambil menyerahkan pesanan mbak Sumi.


"Nggak nyemek 'kan?"


"Nggak, Mbak."


"Ni uangnya. Tak kasih pas, biar kamu nggak kesulitan nyari kembalian." Mbak Sumi menyerahkan dua lembar uang lima ribuan.


"Trimakasih Mbak," sahutku sambil menerima uang tersebut. Aku berusaha tetap tersenyum meski hati terasa ngilu.

__ADS_1


"Mbak, jangan dengerin omongan Mbak Sumi! Lha wong adiknya mbak Sumi ... naksir mbak Anin." Asti berusaha menghiburku dengan celotehannya. Tentu saja setelah mbak Sumi berlalu pergi.


"Nggak. Mas Didi nggak naksir mbak Anin, As ...," sanggahku.


"Dia naksir Mbak Anin. Buktinya ada, Mbak. Kalau nggak percaya, tanya mbak Lina!" sahut Asti dengan memasang raut wajah serius. Aku terkekeh mendengar celotehan adikku.


Lina ... dia sahabatku. Mantan kekasih Raden Inu Prasetya. Kakak kandung Raden Danu Prasetya.


.


Sebenarnya, bukan hanya mbak Sumi yang selalu mencemoohku. Tapi, masih ada beberapa orang lagi. Seolah, mereka gemar sekali menorehkan luka di hati dengan kata-kata yang teramat menyakitkan.


Biarlah dunia menertawakan, asal kasih sayang Illahi senantiasa mendekap.


...


Arunika kembali menyapa disertai hembusan angin yang menyejukkan jiwa. Memberi semangat, meski coba dan uji masih enggan untuk berpaling.


"Mbak Anin," sapa Asti sambil mendaratkan tubuhnya di tikar, bersebelahan denganku.


"Hemmm, ada apa As?"


"Siapa?"


"Mas Surya. Nama lengkapnya ... Abima Surya Saputra. Sahabat Hanan."


Hanan ... dia kakak kelas Asti. Sekaligus sahabat yang senantiasa menjaga Asti saat berada di sekolah.


"Seumuran dengan Hanan?"


"Nggak-lah. Usia Mas Surya, kurang lebih 25 tahun. Dia dosen muda, Mbak."


Aku menghela nafas berat. Jujur, aku belum mampu untuk membuka hati yang pernah terluka dua kali karena sebab yang sama. Ghosting.


"Kenapa, mas Surya ingin berkenalan dengan mbak Anin? Dia 'kan belum pernah melihat wajah mbakyu-mu yang kata mbak Sumi ... juelek."


"Hisssh, mbak Sumi-nya aja yang suka menebar fitnah. Buktinya, ada beberapa pemuda masjid yang naksir mbak Anin. Bahkan dua di antara mereka berniat untuk mengkhitbah mbak Anin. Tapi mbak Anin menolak 'kan?"


Aku bergeming. Ucapan Asti memang benar. Belum lama ini, ada dua pemuda yang berniat mengkhitbahku. Namun, aku menolak mereka secara halus. Bukan tanpa sebab. Aku menolak mereka karena hati ini belum yakin.


"Gimana, Mbak? Mau 'kan berkenalan dengan mas Surya? Mas Surya pernah melihat wajah mbak Anin. Meski mbak Anin belum pernah melihat wajah mas Surya."

__ADS_1


"Mas Surya pernah melihat mbak Anin? Di mana?" tanya yang terlontar dari bibirku disertai kerutan di dahi.


"Hmmmm rahasia. Yang terpenting, mbak Anin mau 'kan berkenalan dengan mas Surya?"


"Huffftt ... terserah kamu, Dek."


"Alhamdulillah. Itu artinya, Mbak Anin bersedia 'kan?"


"Insya Allah."


....


"Nan, jaket yang ini bagus nggak?" tanya mas Surya sambil memperlihatkan jaket deniem yang ia pilih.


"Bagus Mas. Keren banget," sahut Hanan.


"Oke dech. Aku beli jaket yang ini saja, Nan."


Setelah membayar jaket yang ia pilih, mas Surya membeli kaus dan sepatu yang rencananya akan ia pakai ketika bertemu denganku.


Kami akan bertemu satu minggu lagi. Tepatnya, sabtu malam atau ... malam minggu.


Mas Surya berniat untuk ta'aruf, setelah itu ... ia berkeinginan menghalalkanku tanpa proses pacaran.


Mas Surya, seorang pemuda yang mendekati sempurna. Wajahnya tampan, berakhlak mulia, dan religius. Sungguh, sosok calon imam yang selama ini aku pinta pada-Nya.


"Jadilah sang surya yang mampu menyinari langkah kehidupanku, Mas." Harapanku saat itu ....


🍁🍁🍁🍁


Bersambung ....


Mohon maaf jika bertebaran typo 😅🙏


Klik ❤ untuk favoritkan karya


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Tinggalkan jejak like 👍


Terima kasih ❤❤😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2