
Happy reading πππ
Raden Danu Prasetya, mantan kekasih Anin yang sangat menyukai segala hal berbau klenik. Dia seorang pemuja keris dan benda pusaka peninggalan almarhum ayahnya.
Danu pernah bercerita bahwa sang ayah memiliki jimat berupa selendang dan mewariskannya kepada salah satu putra beliau. Sedangkan paman Danu yang bernama Raden Herman, beliau memiliki ilmu gaib. Herman pernah mengirim makhluk astral untuk meneror orang yang mengusik hidupnya.
Sejak Danu menceritakan segala hal yang berbau mistis, Anin semakin tidak nyaman bila berdekatan dengan pria yang pernah berstatus sebagai kekasihnya itu. Meski merasa tidak nyaman, entah mengapa Anin masih saja mempertahankan hubungan yang terjalin tanpa adanya kemantapan hati. Sungguh, Anin pun tidak pernah mengerti. Hingga pada akhirnya, Danu sendiri yang mengakhiri hubungan mereka.
Anin merenung di atas sajadah ketika rembulan mulai kembali ke peraduan. Ia berusaha meraba dasyatnya ujian demi ujian yang Robb-nya berikan. Setelah merenung, Anin mengerti dan memahami makna dibalik setiap ujian yang menyapa. Putus dan berpisah dengan Danu, hikmah dari ujian yang menimpanya. Illahi memberi ujian sebab Dia sangat menyayangi hamba-Nya. Danu bukanlah calon imam yang terbaik untuk dipatuhi, oleh karena itu ... Illahi memisahkan Anin dan Danu dengan perantara ujian kehidupan yang teramat pahit.
Kalam cinta terdengar begitu merdu menyambut berakhirnya malam diiringi kumandang kidung kerinduan Sang Maha Kasih, membangunkan jiwa-jiwa yang terbuai di alam mimpi. Setiap hati yang merindu ingin berjumpa dan berbincang dengan Robb-nya, bergegas mengambil air wudhu untuk mensucikan diri sebelum memulai ritual sembahyang subuh.
....
Hari ini, Anin ijin tidak masuk kerja sebab ia ingin menghadiri perayaan ulang tahun salah seorang sahabatnya yang bernama Danar. Keduanya bersahabat sejak mereka duduk di bangku SMP kelas tiga.
Waktu bergulir begitu cepat. Tanpa terasa siang telah merangkak pergi.
Sesuai janjinya, Reyhan tiba di rumah Anin seusai menjalankan sembahyang ashar. Sepasang kekasih itu berlalu pergi setelah mereka berpamitan. Tentu saja berpamitan pada ibunda Anin, Bu Parti.
Reyhan melajukan kuda besi kesayangannya ke arah selatan. Sesampainya di depan rumah kontrakan Danar, Reyhan dan Anin dipersilahkan untuk masuk ke dalam.
Anin dan istri Danar saling berpeluk singkat. Kedua perempuan itu sudah saling mengenal sejak beberapa bulan yang lalu. Tepatnya ketika Danar meminta Anin ... mencarikan pekerjaan untuk Sekar, istri yang sangat ia cintai.
"Selamat bertambah usia Pak Danar," ucap Anin sembari menyerahkan kado spesial untuk sahabatnya itu.
"Trimakasih Nin," sahutnya sambil menerima kado dari tangan Anin.
"Danar, Mbak Sekar, kenalkan ... calon suamiku, Reyhan." Anin memperkenalkan Reyhan pada Danar dan Sekar.
"Reyhan ...."
"Danar ...." Danar dan Reyhan saling berjabat tangan.
"Sekar ...." Sekar menangkup kan kedua tangannya di depan dada.
"Mari silahkan duduk!" Danar mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk lesehan di atas tikar.
"Hey, Nin!" sapa Damar. Meski nama Damar dan Danar hampir sama, tapi mereka dua orang yang berbeda lho. Sama jenis tapi beda bentuk. Pasangannya pun berbeda. Damar memiliki seorang istri yang bernama Dina, kekasihnya dari SMP. Sedangkan Danar memiliki seorang istri yang bernama Sekar. Seorang wanita berhijab yang cantik dan saleha. π
"Damar, Dina, rupanya kalian sudah datang duluan." Bibir Anin melengkung. Raut wajahnya menyiratkan binar bahagia.
"Iyalah Nin," sahut Dina disertai senyumnya yang merekah. Anin dan Dina saling berpeluk singkat. Setelah melerai pelukan, Anin memperkenalkan Reyhan pada Damar dan Dina.
Anin beserta para sahabat bercengkrama sambil menikmati hidangan yang disajikan oleh tuan rumah, Danar dan Sekar.
Tetiba, terdengar suara alunan lagu soundtrack film Ketika Cinta Bertasbih yang berasal dari gawai milik Anin. Rupanya ada panggilan telepon dari Andrew. Ia juga salah seorang sahabat Anin ketika duduk di bangku SMP.
Anin menerima panggilan telepon tersebut lalu mengaktifkan loudspeaker, agar semua sahabatnya bisa mendengar suara Andrew si biang rusuh.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Nin."
"Wa'alaikumsalam Ndrew."
"Ramai ya pesta ulang tahunnya."
"Ya lumayan. Tapi lebih ramai lagi jika kamu datang bersama istri."
"Sorry banget, aku dan istri nggak bisa hadir. Tau sendiri 'kan, kami sedang fokus membuat adonan --"
"Adonan?" Dahi Anin berkerut. Ia sama sekali tidak faham dengan kata 'adonan' yang dimaksud oleh Andrew.
"Iya. Membuat adonan bayi maksudku, Nin. Kalau kamu nggak faham, tanyakan pada big boss Fahri."
"Hisss, ngomong apaan sich Ndrew. Kalau ngomong aneh-aneh, aku tutup lho teleponnya." Anin benar-benar tidak enak hati pada Reyhan karena celotehan Andrew.
"Eitzzzz jangan donk! Aku 'kan belum mengucapkan selamat ulang tahun loh."
"Kamu bisa telepon ke nomor Danar, Ndrew ...."
"Aku nggak tau nomer si Danar berapa."
"Halahhh alibi."
"Ya emang alibi." Andrew tergelak.
"Udech belum yang teleponan nich?"
Anin bergeming. Lantas ia memberikan gawainya pada Danar.
"Dan, kamu aja ya yang ngobrol sama si kang rusuh!" pinta Anin.
Danar mengangguk dan mengulas senyum. "Iya Nin."
Pandangan netra Anin beralih pada pria yang duduk bersebelahan dengannya, Reyhan Handyka Kurniawan.
"Rey, maaf --" Suara Anin tercekat kala melihat perubahan raut wajah kekasihnya.
"Jangan salah faham ya Rey. Andrew hanya bercanda," sambungnya dengan suara yang terdengar lirih.
Reyhan berusaha menyunggingkan seutas senyum meski saat ini ia tengah terbakar api cemburu.
Setelah Danar mengembalikan gawai kesayangan Anin, terdengar beberapa notif pesan diikuti lantunan lagu KCB.
"Fahri," gumam Anin.
Anin bimbang. Antara menolak panggilan telepon dari Fahri atau menerimanya.
"Yang, ada yang telepon lho. Kog cuma didiemin? Memangnya, telepon dari siapa, hmm?"
__ADS_1
DEG
Dada Anin berdesir. Ia semakin merasa tidak enak hati pada Reyhan.
"Fah-Fahri, Rey. Fahri yang menelepon ku."
"Fahri siapa?" tanyanya dengan menautkan kedua pangkal alis.
"Dia ... sahabat kami, Rey."
"Kalau begitu, angkat dong teleponnya!" titah Reyhan.
Dengan terpaksa, Anin menerima panggilan telepon dari Fahri.
"Ada apa, Ri?"
"Kamu sudah sampai di rumah Danar, Jeng?"
"Sudah Ri."
"Oke Jeng. Aku mengantar mamaku dulu ya. Tunggu aku di rumah Danar! Jangan pergi sebelum aku datang, Jeng!"
"Hem."
Klik
Selang dua menit setelah memutuskan panggilan teleponnya, lagi-lagi Fahri menghubungi Anin.
Meski jengah, Anin menerima panggilan telepon dari sahabatnya itu.
"Ada apa lagi Ri?"
"Jeng, aku sudah sampai di depan. Gang menuju rumah Danar sebelah mana ya?"
"Danar, Fahri sudah sampai di depan. Dia tanya gang menuju rumahmu di sebelah mana. Lebih baik, kamu jemput dia gih!" ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Fahri.
"Okey Nin." Danar beranjak dari posisi duduknya. Lantas ia mengayunkan kaki untuk menjemput Fahri.
Manik mata Anin mulai mengembun ketika ia menyadari tatapan netra Reyhan yang semula penuh cinta, kini berubah ... bagaikan sebilah pisau yang menghujam.
Reyhan semakin terbakar api π₯ cemburu π°
ππππ
Bersambung....
Maaf jika banyak typo bertebaran βΊπ
Semangati author remahan kulit kacang ini dengan meninggalkan jejak like
__ADS_1
Beri komentar, gift, atau vote jika berkenan mendukung ICSS βΊπ
Trimakasih dan banyak cinta untuk Sobat ICSS πππππ