
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Satu
Tak terasa sudah hampir jam 12 siang, cuaca terasa sangat panas hari ini. Alhamdulillah semua ruangan di rumah sudah bersih, kebutuhan bulanan pun sudah tersusun rapi di tempatnya. Waktunya sedikit bersantai sambil menikmati segelas es teh manis, pasti segar sekali.
Suamiku Bang Hasyim dan Anak Bungsu ku Zio belum pulang dari kegiatan gotong royong, hari ini warga diwajibkan ikut berperan serta membersihkan saluran air yang tersumbat di ujung komplek perumahan. Karena beberapa hari lalu hujan sangat deras, tak biasanya sampai pagi tadi air masih menggenang setinggi mata kaki di depan gerbang masuk komplek. Ternyata saluran air yang berada di ujung komplek tersumbat banyak sekali sampah.
Samar terdengar ketukan pintu, kuhentikan adukan sendok di gelas untuk memperjelas pendengaranku.
"Assalamu'alaikum …." Kini terdengar suara seseorang mengucap salam.
Anak Sulung ku Nisa yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga menyahut salam. Ku lihat dia mematikan televisi dan beranjak membukakan pintu. Ruang keluarga dan Dapur rumahku tidak diberi sekat, jadi apapun yang terjadi di ruang keluarga bisa kulihat dari Dapur.
'Wa'alaikumsalam … eh Tante Deli, masuk Tante! Sendirian aja, ya? Sini, Nisa bantu bawa kopernya!" Santun suara Nisa menyambut kedatangan Tantenya. Kureguk kembali es teh manis yang tersisa setengah gelas, menajamkan telinga menyimak percakapan Nisa dengan Kak Deli.
"Iya, Nisa. Terimakasih, ya! Makin tinggi aja kamu Nis, tapi malah jadi kelihatan kurus banget. Nggak bagus tahu kurus kayak gini!" Teganya Kak Deli mengomentari tubuh Nisa Anakku, seolah sangat perhatian pada keponakannya itu padahal sedang menghina.
"Nih ada sedikit oleh-oleh dari kampung, kasih kan ke Mamak mu, ya!" titah Kak Deli.
Ngapain lagi kamu, Nisa? Sana, cepat panggil Mamak mu!" hardik Kak Deli pada Nisa. Sebenarnya apa yang telah dilakukan Nisa, sehingga Kak Deli meninggikan suaranya.
Tak lama, derap langkah Nisa terdengar semakin dekat. Wajahnya murung dan juga terlihat kesal.
"Mak … Tante Deli sudah datang! Bawa koper besar, loh! Nisa bantu angkat tadi, ternyata berat banget, jangan-jangan isinya batu!" celetuk Nisa dengan polosnya.
__ADS_1
Hah! Koper Besar? Apa Kak Deli berencana tinggal lama di rumahku? Apa terjadi sesuatu di kampung, atau Kak Deli hanya ingin liburan saja. Tapi kalau semakin dipikirkan rasanya nggak mungkin, Kak Deli punya usaha warung makan yang dikelolanya di kampung.
Nama ku Dena, aku saudara satu-satunya Kak Deli. Ibu kami sudah wafat 10 tahun yang lalu, sedangkan Ayah sudah menikah lagi setahun setelah Ibu wafat.
Seketika lamunanku buyar, saat Nisa menyentak lenganku pelan.
"Mak … dengar Nisa, tidak?" rengeknya.
"I–iya, Sayang! Mamak dengar, kok."
"Tadi Tante Deli sempet-sempetnya komentar kalo Nisa terlalu kurus, lah, emangnya Nisa kurus banget, ya? Nyinyir banget sih mulut Tante Deli, Nisa nggak suka!" bisik Nisa takut terdengar Kak Deli. Ternyata Nisa paham dan masih ingat tabiat Tantenya itu.
"Nisa nggak lupa, kan, apa pesan Mamak bila ada yang memperlakukan Nisa seperti Tante Deli tadi? Ambil nafas tiga kali dari hidung, dan hembuskan dari mulut. Ucap Istighfar sebanyaknya dalam hati, terus … kasih deh senyum termanis yang Nisa punya!" Kuusap-usap bahunya menenangkan, menatap gemas wajahnya yang mulai tersenyum.
Tangan Nisa mengulur memberikan bungkusan plastik yang dibawanya. "Nih Mak, Tante Deli bilang ini buat Mamak! Oleh-oleh dari kampung katanya, boleh Nisa lihat tidak?" Pasti dia mengira isi plastik ini jajanan kampung kesukaannya. Camilan adalah makanan favorit Nisa, kalau belum dapat yang diinginkannya pasti akan terus menggangguku.
Belum sempat ku jawab, Nisa sudah merebut plastik yang diberikannya tadi, padahal aku sendiri belum melihat apa isinya.
"Eh … Anak ini, main rebut aja! Sana bilang Tante Deli tunggu sebentar, Mamak mau ganti baju dulu!" Nisa mendengus kesal, terpaksa memberikan lagi plastik berisi oleh-oleh itu.
Samar kudengar, Nisa mengobrol dengan Kak Deli. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak bisa mendengar dengan jelas karena pintu kamarku tutup rapat.
Tak sampai 5 menit selesai aku bersiap. Tiba-tiba saja Nisa sudah menghadang di depan pintu kamar, matanya mengamatiku seperti sedang mencari sesuatu.
"Mana Mak bungkusan tadi, apa sih isinya? Nisa mau lah, Mak!" Alisnya dinaik turunkan, tangan kanannya diangkat setinggi dada menadah padaku, tangan kirinya berkacak pinggang.
Tingkah Nisa membuatku tertawa terbahak-bahak, ada saja ulahnya di rumah selama libur sekolah ini.
__ADS_1
"Tuh, Mamak taruh di atas meja dapur. Makan siang lah dulu, Mamak sudah masak lauk kesukaanmu. Itu oleh-oleh bisa dimakan nanti saja, tunggu Adek sama Bapak pulang dulu, ya!"
"Iya, Mak! Oh iya, Jadi nanti malam Nisa tidur sama Tante Deli, ya? Nisa tidur sama adek Zio aja, ya, Mak?" Mulut Nisa mencebik, tangannya menggoyang-goyangkan lenganku berusaha membujuk.
Ku sentil ujung hidung Nisa dan mengacak-acak rambut pendeknya agar dia menyingkir dari depan pintu kamar. Nisa memasang raut wajah sedih, terlihat kecewa karena aku tak memenuhi permintaannya.
Di ruang tamu Kak Deli duduk santai di sofa, tengah asyik menonton sesuatu di ponselnya. Sebenarnya aku kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba, biasanya Kak Deli akan memberi kabar jauh hari sebelum keberangkatannya bila ingin mengunjungiku di sini. Tapi tadi malam setelah adzan isya berkumandang Kak Deli menelponku, katanya sedang dalam perjalanan dari kampung menuju kota tempat ku tinggal sekarang.
Aku pun tak sempat menanyakan apa-apa, takut Kak Deli tersinggung dan marah. Karena aku hafal betul tabiatnya yang mudah marah dan keras kepala, daripada nanti dapat amukannya saat sampai di rumahku lebih baik aku diam saja dulu.
Bang Hasyim hanya mengangguk saja, tanda bahwa dia setuju dan tak keberatan saat ku beritahukan tentang Kak Deli yang sedang dalam perjalanan menuju ke sini.
"Maaf, ya, Kakak jadi menunggu lama. Aku baru selesai beresin dapur, mumpung hari minggu," celotehku pada Kak Deli.
"Kamar yang biasa ku tempati sudah siap, kan? tanya Kak Deli.
"Se–sementara, Kak Deli sekamar sama Nisa dulu, ya? Di kamar tamu banyak stok barang pesanan pelanggan, besok sore baru diantarkan, Kak!" Aku tersenyum kecut, wajah Kak Deli memancarkan tak suka atas jawabanku tadi.
"Ya sudah, bilang Nisa tolong bikinin minuman dingin dan bawakan ke kamar. Aku mau istirahat dulu, capek banget rasanya!" Aku terdiam memperhatikan Kak Deli, langkahnya tertatih menyeret koper besar menuju ke kamar Nisa.
Di dapur kuambil sebotol minuman dingin dari dalam kulkas, membuka tutup botol dan menuangkan isinya ke gelas. Meletakkan gelas dalam nampan, tak lupa juga setoples nastar keju buatanku.
Terasa getar ponsel di saku gamisku, ada pesan masuk dari Bang Anto. Keningku mengernyit, tak paham dengan isi pesannya. Sepersekian detik saat nalarku sedang memahami maksud pesan yang dikirim Bang Anto, ada panggilan masuk, tertera nama Bang Anto.
Ku angkat nampan menuju ruang keluarga "Nisa … tolong antarkan ini ke Tante Deli di kamar, ya, Nak!"
"Siap … Mak!" Jawab Nisa. Nampan ku berikan ke Nisa, alhamdulillah dia tak pernah protes dan mengeluh saat ku minta bantuan apapun.
__ADS_1
Ponselku masih berdering, ku tekan tombol hijau setelah pintu kamar ku pastikan tertutup rapat dan dikunci.