
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Empat Belas
Mendekati gerbang keluar pom bensin, aku melambatkan laju motorku. Aku tersentak begitu menyadari Kak Deli tidak berada di gerbang keluar pom bensin, akupun segera memperhatikan ke segala arah mencari-cari sosok Kak Deli diantara ramainya lalu lalang orang dan kendaraan bermotor di jalan raya ini.
¤¤¤¤¤
Aku menepuk dahiku karena teringat tidak membawa ponsel, terasa agak nyeri di telapak tangan karena membentur kaca helmku, karena merasa panik aku lupa kalau saat ini aku sedang memakai helm. Bagaimana aku bisa menghubungi Kak Deli untuk menanyakan dimana keberadaannya sekarang, bahkan aku berharap ada orang yang ku kenal kebetulan lewat di jalan ini untuk ku pinjam ponselnya.
Di saat aku sibuk berpikir dengan tetap memperhatikan sekelilingku, tatapan mataku terpaku pada sebuah mobil minivan yang sedang terparkir tak jauh dari pom bensin ini. Kak Deli keluar dari pintu depan mobil itu dengan wajah yang terlihat sangat sumringah, dia melangkah ke arahku dengan gaya berjalan layaknya peragawati di catwalk.
"Astaghfirullah … Kakak ngapain di mobil itu? Dari tadi Dena nyariin Kakak, kenapa nggak nunggu di tempat yang Dena bilang tadi!" tanyaku sambil mengurut dada. Aku hendak berjalan menyusul Kak Deli, tapi ku urungkan saat melihat mobil itu berlalu pergi setelah membunyikan klakson tiga kali, seolah memberi tanda berpamitan. Kak Deli yang sudah berada dihadapanku berbalik arah kemudian melambaikan tangannya, saat tubuhnya kembali berhadapan denganku wajahnya terlihat sangat masam.
"Loh … loh, kok malah istighfar! Kakak lagi ngadem di mobil itu, lagian kamu tega nyuruh nunggu di tempat panas kayak gini," protes Kak Deli sambil mengipas-ngipaskan tangan ke wajahnya.
"Kan, namanya juga pom bensin, pasti panas, yang adem itu di dalam Mall. Mobil tadi punya teman Kakak, Dena kenal atau tidak?" tanyaku yang penasaran dengan siapa Kak Dena di dalam mobil itu. Aku masih belum menyalakan mesin motor, Kak Deli sudah duduk di jok belakang motorku setelah mengenakan helmnya.
"Mobil Bang Alif, yang ketemu di warung tadi! Kebetulan tadi dia lewat di depan Kakak setelah mengisi bensin mobilnya, karena melihat Kakak yang berdiri dan kepanasan, Bang Alif minta Kakak untuk menunggu di dalam mobilnya saja. Baik banget, loh, Kakak bahkan mau diantarkan pulang ke rumahmu, tapi Kakak tolak. Sebenarnya pengennya sih dianterin, tapi pasti kamu marah-marah kalau Kakak lebih memilih pulang sama Bang Alif," kilah Kak Deli.
__ADS_1
"Ya, jelas marah-marah, lah! Malah udah kepikiran mau ke kantor polisi terdekat, buat bikin laporan orang hilang," sindirku dengan nada mengejek. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa Kak Deli nggak merasa bersalah sudah membuatku panik karena tiba-tiba saja dia menghilang. Yang membuat aku lebih tak habis pikir, kemana perginya akal sehat Kak Deli, tidak menyadari betapa berbahayanya percaya dan ikut masuk ke dalam mobil begitu saja dengan orang yang baru dia kenal.
"Ish … ish, segitunya! Ayo, cepat pulang!" geram Kak Deli padaku. Aku menyalakan mesin motor, dan segera melajukan motorku meninggalkan pom bensin. Kak Deli menggerutu di sepanjang perjalanan pulang ke rumah, saat kami sampai di halaman rumah, Kak Deli langsung menghentak-hentakkan kakinya begitu turun dari jok motorku menuju ke dalam rumah.
Zio dan Imran yang sedang asyik bermain mobil-mobilan di halaman rumah sambil bersenda gurau langsung terdiam melihat tingkah Kak Deli, keduanya menatap padaku penuh tanda tanya. Aku menjawab dengan gelengan kepala, tanpa ku minta Zio dan Imran langsung menghampiri untuk membantuku membawa barang belanjaan ke dalam rumah. Sebelum masuk aku menyimpan motor ke dalam garasi, setelah itu aku bersama Zio dan Imran masuk lewat pintu samping rumah.
"Letakkan semua di atas meja dapur, ya! Terima kasih sudah membantu Mamak membawa barang belanjaan. Cuci tangan dulu, baru kalian lanjut bermain lagi," perintahku pada Zio dan Imran. Mereka berdua segera pergi setelah selesai mencuci tangan.
Ku lihat Nisa sedang menonton televisi, Nisa langsung mendatangiku begitu dia menyadari keberadaanku di dapur.
Aku dan Nisa bersama-sama menyiapkan bahan makanan yang akan langsung diolah dan yang akan disimpan kedalam kulkas. Nisa sangat suka membantuku saat memasak, apalagi saat membuat camilan. Katanya biar nanti kalau dia sudah besar, dia sudah pandai memasak dan membuat camilan yang enak sepertiku.
Tak terasa sudah hampir 2 jam berlalu, makan siang sudah siap di meja makan, dapur pun sudah bersih dan rapi. Kalau pekerjaan rumah lainnya seperti mencuci pakaian, menyapu, dan mengepel lantai sudah ku kerjakan semenjak subuh.
Biasanya aku akan mengantarkan makan siang untuk Bang Hasyim ke toko, berhubung ada Kak Deli dan Imran, kali ini aku sudah menghubungi salah satu karyawan toko kami untuk datang ke rumah mengambil makan siang untuk Bang Hasyim.
Aku baru saja teringat belum membelikan gamis harian untuk Kak Deli, aku pun bergegas keluar rumah menuju ke rumah Kak Dinar setelah sebelumnya terlebih dahulu ke kamar untuk mengambil sejumlah uang dan memakai jilbab instan. Sesampainya di depan pagar rumah Kak Dinar, aku mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum … Kak Dinar!" ucapku dengan suara lantang. Terdengar suara pintu yang dibuka, terlihat Kak Dinar berdiri di depan pintu dengan hijab panjangnya tersenyum ramah padaku.
"Wa'alaikumsalam, Dena! Ayo, masuk ke dalam. Pagarnya nggak dikunci, kok," kata Kak Dinar seraya membuka lebar pintu rumahnya. Aku melangkah masuk ke dalam rumah Kak Dinar, di ruang tamu Kak Dinar yang luas ada dua lemari kaca besar, di dalamnya berisi baju-baju, hijab dan berbagai macam keperluan untuk wanita muslim.
__ADS_1
"Duduk dulu, ya, Dena. Kakak buatkan minuman sebentar," ujar Kak Dinar hendak berlalu pergi.
"Maaf, nggak perlu repot-repot, Kak! Dena cuma sebentar, mau beli gamis harian seperti yang Dena pakai sekarang." Kak Dinar menghentikan langkahnya, berbalik arah melihat ke arah jemariku yang menunjuk gamis yang sedang ku pakai.
"Ooh … begitu, mau ukuran berapa? Alhamdulillah, kemarin baru datang stok barang yang baru," ucap Kak Dinar sembari mengeluarkan beberapa gamis dari lemari kaca.
"Ukuran M sama L aja Kak, harganya masih sama, ya?" tanyaku memastikan. Untuk Kak Deli aku memilih 3 gamis ukuran L dengan motif abstrak berwarna cerah, dan memilih 3 gamis ukuran M tanpa motif berwarna kalem untuk Nisa.
"Masih sama, malah ada diskon kalau ambil banyak kayak Dena sekarang," timpal Kak Dinar.
"Alhamdulillah … makasih, ya, Kak Dinar!" ucapku tulus.
Aku menyerahkan sejumlah uang kepada Kak Dinar, yang diterimanya setelah memberikanku terlebih dahulu paper bag berlogo toko online milik Kak Dinar yang berisi 6 gamis pilihanku tadi.
"Pamit, ya, Kak! Assalamu'alaikum ...," ucapku seraya melangkah keluar dari rumah Kak Dinar.
"Wa'alaikumsalam!" Kak Dinar beriringan mengikuti langkahku mengantarkan sampai di depan pintu rumahnya.
Aku langsung menuju kamar Nisa setelah menutup pintu depan, setelah ketukan ketiga kalinya, tak ku dengar sama sekali sahutan dari dalam kamar. Apa Kak Deli sedang tidur, akhirnya aku memutuskan untuk langsung ke dapur saja.
Setelah melewati ruang keluarga, langkah kakiku terhenti. Paper bag di tanganku terjatuh begitu saja, isinya berhamburan di lantai tempatku berdiri. Mataku membulat, kedua tanganku saling bertautan hingga gemetar berusaha sekuat tenaga menahan amarah.
__ADS_1