
Satu per satu plastik pembungkus paket itu dibuka oleh Kak Deli yang direkam langsung oleh kurir, aku mengerjapkan mata berulang kali saat melihat isi paket milik Kak Deli. Bahkan aku sampai mencubit tanganku, saking tidak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang.
¤¤¤¤¤
Tatapanku masih belum beralih sedikitpun, Kak Deli terus saja tersenyum sumringah. Tampak sebuah kotak bergambar merk ponsel terkenal, yang ku tahu harganya sangat mahal.
Kak Deli membuka kotak berisi ponsel baru itu dengan penuh semangat, setelah semua diperiksa dan dirasa yakin kondisi barang dalam keadaan baik oleh Kak Deli, kurir itu pun akhirnya berpamitan dan segera melaju dengan motornya yang terlihat membawa sangat banyak paket.
Aku masih berdiri terpaku menatap Kak Deli yang sedang memeluk kotak ponselnya, meski Kak Deli mempunyai banyak uang, tapi menurutku rasanya nggak mungkin Kak Deli sanggup membeli barang dengan merk terkenal tersebut apalagi lewat online.
Belum sempat aku menanyakan pada Kak Deli bagaimana dia bisa membeli ponsel itu, Kak Deli sudah berlari kecil menuju ke dalam rumah. Aku yang masih merasa penasaran bergegas menyusul Kak Deli, saat sudah sampai di depan pintu kamar tamu, ternyata pintunya sudah dikunci dari dalam oleh Kak Deli.
Aku memilih untuk kembali ke kamarku saja, setelah sebelumnya mematikan televisi yang ku tonton tadi di ruang keluarga. Rumah terasa sangat sepi kalau siang seperti ini, Nisa dan Zio lebih suka beraktivitas di dalam kamar mereka masing-masing.
Baru saja merebahkan diri di atas ranjang, terasa getar ponsel di saku gamisku. Tertera nama Kak Yuni di layar, aku pun segera menekan tombol hijau menerima panggilan masuk.
"Assalamu'alaikum!" Kak Yuni mengucap salam dengan lantang di seberang telepon.
"Wa'alaikumsalam … Kak Yuni, apa kabar?" sahutku dengan nada ceria.
"Kabar baik, gimana kabar Dena sekeluarga?"
"Alhamdulillah, baik juga! Lagi ngapain, Kak Yuni? Udah lama Dena nggak pulang ke kampung, kangen banget suasana di sana" celotehku riang.
"Lagi santai di rumah … iya, udah lama banget kamu nggak pulang ke sini. Tadi malam Rima telepon Kakak, ceritain soal kemaren Dena bikin acara promosi produk jualan Rima. Makasih, ya, Dena! Kakak senang Rima jadi semangat lagi, nggak kalut seperti awal terkena PHK."
"Sama-sama, Kak! Dena juga senang lihat Rima yang mulai ceria dan bersemangat. Maaf, bila berkenan, ada apa sebenarnya sampai Kak Yuni kemarin melarang Rima datang ke rumah Dena."
__ADS_1
"Kakak nggak marah, kan? Padahal sudah melarang Rima untuk datang, tapi Dena tetap memaksa. Rima sudah cerita, kan, sama Kak Yuni? Acaranya bukan di rumah Dena, tapi di rumah Amel tetangga Dena di komplek sini," sambungku.
"Awalnya mau marah, tapi setelah mendengar penjelasan Rima, Kakak akhirnya sadar kalau niat Dena sangat baik untuk membantu Rima." Terdengar suara helaan nafas Kak Yuni, beberapa detik berlalu dalam keheningan.
"Sebenarnya Kakak sangat sakit hati dengan ucapan Deli, Dena tahu sendiri, selama ini Kakak berteman baik dengan dia. Katanya Kakak terlalu mencampuri urusan rumah tangganya, dan lebih mempercayai suaminya dari pada dia," ungkap Kak Yuni dengan nada sedih.
"Waktu itu di acara resepsi pernikahan Alma sepupu kita, Deli hanya datang sendirian tanpa ditemani Bang Anto. Tak berselang lama, di tengah ramainya tamu, Kakak melihat Bang Anto datang. Kakak bilang sama Deli, temani Bang Anto yang sedang mengambil makanan di meja prasmanan. Dena tahu nggak apa yang diucapkan Deli pada Kakak di hadapan banyak orang?" Suara Kak Yuni terdengar penuh emosi.
"A–apa, Kak?" tanyaku ragu.
"Kata Deli waktu itu begini 'Kok jadi nyuruh-nyuruh aku kayak gini, biarin aja Bang Anto ambil makan sendiri di sana. Kenapa jadi kamu yang repot, nggak usah sok perhatian. Ngakunya teman baik, eh, malah percaya mulut lemesnya Bang Anto!' "
"Kakak benar-benar kaget dan rasanya nggak percaya Deli bisa ngomong seperti itu, bahkan Deli berbicara dengan nada sangat sinis, seolah-olah Kakak adalah musuhnya," sambung Kak Yuni.
"Jadi Kak Yuni bertengkar dengan Kak Deli di acara resepsi Alma?" tanyaku penasaran.
"Dena, kita ngobrol lagi lain kali, ya! Kakak kedatangan tamu, assalamu'alaikum!" pamit Kak Yuni.
"Wa'alaikumsalam …," sahutku lirih. Terdengar nada panggilan terputus, aku meletakkan ponsel di atas nakas. Mencoba untuk memejamkan mata walau sejenak, masalah Kak Deli masih jadi tanda tanya besar untukku.
Apa yang diceritakan Kak Yuni tadi, membuatku jadi menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi antara Kak Deli dan Bang Anto. Aku harus mencari informasi lebih banyak lagi, tapi masih bimbang harus bertanya pada siapa? Persepsi masing-masing orang terhadap suatu masalah pasti berbeda-beda, akan lebih baik bila aku bertanya langsung juga pada Kak Deli, Bang Anto dan Bapak. Mungkin nanti saja, menunggu waktu yang tepat.
Tiba-tiba saja aku terpikir ingin membuat donat, pasti enak dimakan sore-sore sambil ngobrol bersama Nisa, Zio dan Imran. Aku bergegas ke dapur untuk memeriksa apakah semua bahan yang diperlukan ada atau tidak. Di dapur aku membuka catatan resep donat yang pernah ku buat sebelumnya, kemudian menyiapkan satu per satu bahannya.
Alhamdulillah semua bahan masih ada, aku pun memulai membuat adonan donat. Tak terasa terdengar kumandang adzan ashar, adonan donatku pun sudah siap, setelah selesai shalat ashar nanti baru aku akan menggorengnya.
Aku mengetuk pintu kamar Zio sebelum membukanya, terlihat Zio dan Imran sedang bersiap hendak melaksanakan shalat ashar. Aku tersenyum pada mereka berdua, aku melanjutkan langkahku menuju kamar Nisa setelah sebelumnya menutup rapat pintu kamar Zio.
__ADS_1
Setelah mengetuk pintu kamar Nisa 3 kali, perhatianku teralihkan karena dari dalam kamar tamu terdengar samar suara Kak Deli sedang menelpon. Saat sedang mencoba menyimak, aku tersentak karena Nisa menepuk pelan bahu kanan ku.
"Lagi ngapain, Mak? Kok, malah bengong di depan pintu!" tanya Nisa padaku.
"Oh … Mamak cuman memastikan, tadi sekilas dengar suara dari kamar tamu," dalihku pada Nisa.
"Sebentar lagi, setelah Mamak selesai shalat ashar, tolong bantu goreng donat, ya! Nanti kita makan sama-sama Zio dan Imran di ruang keluarga," sambungku.
"Baik, Mak! Kalau gitu, Nisa mau mandi dulu," jawab Nisa.
Aku menutup pintu kamar Nisa, saat akan berbalik badan dan melangkah menuju kamarku, langkahku langsung terhenti. Terdengar suara pintu kamar tamu yang dibuka, Kak Deli keluar dari kamar sambil berbicara di ponsel barunya.
"Iya, sudah benar. Lurus saja dari situ, nanti aku tunggu di depan rumah." Kak Deli menurunkan ponsel dari telinga ke samping tubuhnya, aku terkesima memperhatikan penampilannya kali ini.
Kak Deli mengenakan dress selutut berwarna hitam, dengan kerah sedikit terbuka. Wajahnya dirias tipis dengan lipstik berwarna nude, rambut pirangnya dibiarkan tergerai.
"Kakak mau pergi?"
"Iya … ada janji sama teman, bentar lagi juga sampai, dia jemput Kakak ke sini," jawab Kak Deli datar.
"Boleh Dena tahu Kakak pergi dengan siapa? Setahu Dena, Kakak nggak punya teman di sini!"
"Ish … apaan, sih! Kepo!" Kak Deli tak menjawab sama sekali pertanyaanku, malah melangkah dengan cepat menuju pintu depan. Aku mengikuti langkah Kak Deli hingga di teras, tampak Kak Deli sedang masuk ke dalam mobil sedan berwarna merah metalik. Aku tak sempat melihat siapa orang yang ada di kursi kemudi mobil itu, dalam sekejap mobil itu sudah melesat pergi.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala, menurutku semakin aneh saja tingkah Kak Deli. Aku pun masuk kembali ke dalam rumah, saat melewati kamar tamu ternyata pintunya masih dalam keadaan terbuka lebar.
Aku bermaksud akan menutup pintu kamar tamu, baru akan menutupnya dari jauh aku melihat kotak ponsel dan plastik pembungkusnya berserakan di lantai dekat nakas. Aku memilih untuk masuk ke dalam dan ingin merapikan kamar tamu yang ternyata amat sangat berantakan, aku memulai dengan memungut satu per satu plastik pembungkus paket ponsel baru milik Kak Deli.
__ADS_1
Tanpa sengaja, aku menemukan sebuah kartu ucapan. Tertulis kalimat manis untuk Kak Deli, seperti dari seorang pengagum. Aku membaca hingga akhir, dan tertegun dengan kalimat terakhir yang juga tertera jelas nama sang pengirim.