
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Lima
"Begini Kak Vita, pelanggan toko kami ternyata mau mengambil barang pesanan mereka sore ini. Lebih baik acaranya dipindah ke rumah Amel, karena Dena takut malah akan mengganggu acara karena barang-barangnya kami letakkan di dalam kamar tamu!" Semoga penjelasanku ini bisa menghilangkan rasa penasaran mereka. Kak Vita menganggukkan kepala tanda paham dan mengerti apa yang ku katakan tadi.
"Mohon perhatiannya, saya selaku yang mengundang para tetangga semuanya ke acara ini ingin mengucapkan terimakasih. Mohon maaf bila ada salah kata atau sikap baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Mohon maaf kalau tiba-tiba tempat acaranya harus berpindah ke sini, untuk Amel saya ucapkan banyak terimakasih untuk tempat dan juga bantuannya. Semoga semuanya senang dan suka dengan jamuan yang sudah disediakan, sekali lagi saya ucapkan terimakasih."
Ku tangkupkan kedua tangan setinggi dada setelah mengungkapkan rasa terimakasih sekaligus ucapan mengakhiri acara rujakan yang alhamdulillah berlangsung dengan lancar dan tanpa kendala.
Aku mengamati sekeliling ruang keluarga Amel belum ada yang terlihat beranjak untuk pulang, sebagian dari mereka masih asyik saling mengobrol satu sama lain. Camilan yang tersaji pun sudah tersisa sedikit, jangan ditanya kalau rujaknya, sudah tidak bersisa. Ditangan beberapa tetanggaku terlihat mereka memegang kantong plastik transparan berisi camilan yang ingin mereka bawa pulang ke rumah.
Ponselku terasa bergetar di saku gamis, Bang Hisyam menelpon. Mungkin mau memberitahu pelanggan kami sudah berada di rumah untuk mengambil barang-barang pesanan mereka sesuai yang sudah dijanjikan.
"Assalamu'alaikum …," suara Bang Hasyim di seberang telepon.
"Wa'alaikumsalam, ada apa Bang?" Sekarang aku sudah berada di teras rumah Amel, memilih untuk beranjak pergi keluar karena di dalam terlalu ramai.
__ADS_1
"Bisa pulang sebentar Dek, bantu Abang memeriksa barang-barang yang mau diambil pelanggan kita sekarang, juga tolong bikinkan sedikit jamuan untuk mereka," ucap Bang Hasyim.
"Tunggu sebentar, ya, Bang! Dena pulang setelah berpamitan terlebih dulu dengan Amel, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam," sahut Bang Hasyim mengakhiri panggilan. Aku kembali masuk ke dalam, berpamitan pada Amel, Rima dan juga semua tetangga yang menghadiri acaraku.
Di depan pagar rumahku sudah terparkir sebuah truk yang akan mengangkut barang dan sebuah mobil jenis sedan berwarna merah. Barang-barang pesanan sudah tersusun rapi di teras rumahku, saat aku di rumah Amel rupanya Bang Hasyim sudah mengangkat dan menata barang-barang ini. Aku hanya perlu memeriksa kode yang tertera pada box dengan ceklist pada kertas yang sudah ku siapkan kemarin.
Dalam ruang tamu, sudah ada 3 orang yang duduk di sofa bersama Bang Hasyim. Kutinggalkan Bang Hasyim dan pelanggan kami berserta dua orang pegawainya menuju dapur, tak lama berselang aku kembali lagi membawa nampan berisi beberapa toples camilan dan minuman dingin juga air mineral kemasan. Kuletakkan nampan di atas meja tuang tamu, dan membuka semua tutup toples agar tamu kami tak sungkan untuk menikmati karena sudah dibukakan terlebih dahulu.
Sebelum memulai memeriksa barang, aku persilakan mereka menikmati camilan dan minuman selagi menungguku menyelesaikan ceklist untuk semua barang sesuai daftar yang diberikan Bang Hasyim.
Barang yang sudah ku ceklist satu per satu mulai diangkat ke dalam truk, hanya butuh waktu lima belas menit semuanya selesai dilakukan. Mereka pun akhirnya berpamitan setelah tanda terima barang dan nota sebagai bukti transaksi kami serahkan.Truk dan mobil sedan itu mulai menjauh ke luar meninggalkan komplek, aku berpamitan pada Bang Hasyim karena harus kembali ke rumah Amel. Sebelum pergi aku mencium takzim tangan suamiku.
Saat berjalan ke rumah Amel, aku bertemu dengan sebagian tetangga yang pulang ke rumah mereka masing-masing. Aku menyapa dan tersenyum kepada mereka.
Dalam ruang keluarga Amel tinggal beberapa orang tetanggaku saja, ada Mbak Ulfa, Bu Desi dan Bu Wilda. Rima sedang sibuk membereskan barang-barangnya, sepertinya Amel ada di dapur karena meja yang tersaji camilan sudah terlihat bersih.
"Maaf, ya, Amel. Hari ini aku benar-benar sangat merepotkan kamu, tanpa bantuan dan pengertian kamu pasti acaranya tidak akan berjalan lancar." Amel yang sedang mencuci piring tersenyum tulus, aku membantunya meletakkan cucian yang telah bersih ke rak piring.
__ADS_1
"Kita sudah seperti saudara, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuanku. Semoga tetap terjaga baik sampai kita tutup usia nanti," ucap Amel penuh makna.
"Aamiin …," ucapku dan Amel bersamaan.
"Sepertinya sudah sepi, mungkin Bu Desi, Mbak Ulfa dan Bu Wida sudah pulang. Coba kamu lihat dulu ke sana, tadi Rima bilang dia harus segera ke kafe Harvest karena ada janji sama temannya," tutur Amel.
Baru aku akan melangkah keluar dari dapur, Rima sudah datang menghampiri kami. Keponakan ku itu memeluk kami berdua bergantian, tangannya mengulur memberikan masing-masing satu set produk untuk kami berdua.
"Apa ini, Rima? Nggak perlu begini, Tante ikhlas bantu kamu. Lebih baik kamu jual saja, ini satu set harganya lumayan mahal loh," tolakku pada Rima.
"Iya, Tante Amel juga nggak mau terima pemberian ini cuma-cuma. Tante bayar sesuai harga jual yang kamu tawarkan di acara tadi, ya? Kamu itu baru merintis usaha, nabung buat masa depan dan bersedekah untuk yang kurang mampu, oke!" Amel mengeluarkan sejumlah uang dari saku bajunya, menyelipkan uang itu ketangan Rima memaksanya untuk tetap menerima. Aku pun melakukan hal yang sama dengan Amel, bahkan jumlahnya ku lebihkan sedikit.
"Alhamdulillah … terimakasih Tante Amel dan Tante Dena, semoga semakin berkah rezekinya. Rima benar-benar bersyukur, hanya Allah yang bisa membalas semua kebaikan kalian. Rima tidak akan pernah melupakan hari ini, juga pesan Tante Amel tadi. Sekarang Rima harus segera ke kafe Harvest, setengah jam lagi sudah harus ada disana." Ternyata Rima lumayan aktif mempromosikan usahanya, semoga Allah mudahkan dan lancarkan jalan untuk Rima mencari Rezeki, Aamiin.
Kami mengikuti langkah Rima menuju ruang keluarga Amel, hanya tinggal sedikit yang harus aku dan Amel bereskan dari sisa acara tadi. Aku dan Amel membantu Rima membawa barang-barang ke mobilnya, setelah berpamitan pada kami Rima segera pergi melajukan mobilnya.
Kak Laura keluar dari rumahnya dan berdiri di teras saat mobil Rima melesat pergi, dia menghampiri kami yang hendak masuk kembali ke dalam rumah. Langkah kami terhenti karena mendengar panggilan dari Kak Laura.
"Oi … Dena! Tunggu di situ sebentar, ada yang mau aku tanyain sama kamu!" Ternyata hanya aku yang dipanggil Kak Laura, Amel mengangguk memberi tanda bahwa dia akan masuk ke rumahnya dan memberikanku waktu berbicara dengan Kak Laura.
__ADS_1
Aku duduk di kursi teras Amel, tak lama Kak Laura menyusul dan duduk di kursi yang berseberangan denganku. Kak Laura langsung memberondongku dengan pertanyaannya, aku mengernyit tak mengerti apa maksud pertanyaannya itu?