
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Delapan
Tiba-tiba Bang Kurdi beranjak dari duduknya, dengan penuh emosi mengambil gelas berisi teh kemudian melemparkannya ke arah Kak Laura.
Aku yang duduk disamping Kak Laura tercengang melihat apa yang sedang dilakukan Bang Kurdi, awalnya mengira dia hanya akan menyiramkan air teh ke wajah Kak Laura. Diluar dugaanku, tanpa sempat kami menghindar, air teh beserta gelasnya mendarat tepat di kepala Kak Laura.
Kak Laura yang sejak kedatangan Bang Kurdi selalu menundukkan wajahnya, terisak pelan dengan tangan bergetar hebat. Wajah dan pakaiannya basah, yang membuatku tiba-tiba panik terlihat darah segar berwarna merah mengalir cepat dari pucuk kepala hingga ke dagu. Bang Kurdi sepertinya melempar dengan sangat kuat, hingga gelas teh kesayanganku pecah saat mendarat tepat di kepala Kak Laura.
"Tolong!" teriakku sekuat tenaga. Tanganku memeluk erat tubuh Kak Laura yang sepertinya perlahan mulai kehilangan kesadaran, menyadari sedang dalam keadaan darurat Bang Hasyim beranjak ke garasi mengeluarkan mobil untuk membawa Kak Laura segera ke rumah sakit terdekat.
Pak Danu yang tadinya berusaha menahan tubuh Bang Kurdi agar tak beranjak dan melakukan kekerasan lagi, melepas begitu saja tubuh Bang Kurdi hingga dia jatuh terjengkang. Pak Danu dengan cepat mengangkat tubuh Kak Laura menuju mobil yang sudah siap berangkat. Ku lihat Amel berinisiatif ikut ke rumah sakit, menjaga Kak Laura yang sepertinya sudah tak sadarkan diri di kursi tengah mobil.
Beberapa Bapak-Bapak tetangga ku lihat sedang mengobrol santai di pos ronda, aku memanggil mereka dari depan pagar rumahku dengan maksud ingin meminta tolong. Aku menceritakan pada mereka tentang keadaan Bang Kurdi, dengan penuh rasa khawatir aku memohon kepada mereka agar mau membawa Bang Kurdi keluar dari rumahku, karena bisa membahayakan aku dan anak-anakku.
__ADS_1
Salah satu dari mereka mengusulkan untuk memanggil Pak Gani tetanggaku yang tinggal di blok paling ujung, beliau berprofesi sebagai polisi. Aku menyetujui dan memintanya untuk segera pergi.
Mobil Bang Hasyim sudah melesat pergi beberapa menit yang lalu, tak lama menunggu akhirnya Pak Gani datang. Aku merasa tenang ketika Bang Kurdi bisa dibawa paksa keluar dari rumahku, aku nggak mau terjadi apa-apa disaat Bang Hasyim tidak berada di rumah untuk melindungi aku dan anak-anak. Kemana Bang Kurdi mau dibawa oleh mereka sudah bukanlah urusanku lagi.
Saat mengingat Nisa dan Zio, aku yang masih terpaku di depan pagar juga teringat Imran anak angkat Kak Laura yang sudah dua tahun ini tinggal bersamanya dan Bang Kurdi. Imran sebenarnya anak kandung Lisa Adiknya Kak Laura, karena saat itu Lisa diterima bekerja di luar pulau hingga tak memungkinkan baginya untuk turut serta membawa Imran, sedangkan Suaminya sudah meninggal dunia karena kecelakaan di tempat kerja. Kedua Orangtua Kak Laura dan Lisa pun sudah tiada jadi hanya Kak Laura yang bisa menjaga dan merawat Imran.
Saat hendak masuk kembali ke dalam rumah, Imran sedang berjalan menuju rumah Kak Laura bersama Beni dan Fadli. Wajah dan badannya sangat kotor, mungkin dia baru saja pulang dari bermain di lapangan tak jauh dari rumah Kak Laura. Rasanya sedikit tenang, karena Imran tidak berada di dalam rumah ketika terjadi pertengkaran antara Kak Laura dan Bang Kurdi tadi.
Entah dapat kabar dari siapa, tetangga mulai ramai berkumpul di depan pagar rumahku, aku memilih untuk masuk ke dalam rumah dari pada harus memuaskan jiwa kepo Mbak Ulfa dan juga yang lainnya. Aku menyadari bukan kapasitasku untuk menjelaskan apapun pada mereka tentang masalah ini, biarlah aku dianggap tidak sopan karena meninggalkan mereka begitu saja tanpa penjelasan apapun. Lebih baik aku membereskan pecahan gelas di ruang tamu yang berserakan, juga sofa, meja dan kursi yang sudah bergeser jauh dari tempat semula.
Nisa datang membantuku membersihkan ruang tamu, di luar rumah masih ku dengar riuh suara tetangga yang belum mau beranjak pergi. Setelah semua beres, aku menuju kamar hendak bersiap mandi karena sebentar lagi sudah mau maghrib. Sudah tak kupedulikan lagi apa yang terjadi di luar rumahku, lebih baik menenangkan pikiran dan tubuh dengan guyuran air yang terasa sangat menyegarkan.
"Nisa … tolong panggilkan Tante Deli di kamar, ajak makan sama-sama kita. Oh ya, tadi waktu kamu mandi dan berganti pakaian di kamarmu, Tante Deli tidur atau lagi ngapain," tanyaku kepo.
"Lagi asyik maen ponsel, Mak. Senyum-senyum sendiri, telinganya disumbat earphone nggak dilepas-lepas dari Nisa masuk kamar sampe selesai mandi. Mamak tahu sendiri, kan, Nisa kalau mandi lama. Hehehe …," kekeh Nisa. Waktu setengah jam nggak akan cukup untuk Nisa menyelesaikan mandinya, aku nggak habis pikir entah apa yang dilakukannya di dalam kamar mandi.
"Pasti ngintip, kan, hayo ngaku? Kok tahu earphonenya nggak dilepas-lepas sama Tante Deli," tanyaku serius pada Nisa.
__ADS_1
"Aah … Mamak nggak tahu kan apa yang Nisa lihat pas lagi ngintip dari kamar mandi tadi. Sebelumnya Nisa tuh dengar kayak suara-suara aneh, sempat takut kirain ada hantu di kamar mandi. Jadi cepat-cepat selesaikan mandi. Waktu Nisa baru buka sedikit pintu kamar mandi, ternyata Tante Deli kayak lagi telponan gitu, suaranya dibikin mendayu-dayu. Yang awalnya Nisa takut malah jadi geli sendiri dengernya," bisik Nisa pelan ditelingaku.
Keningku mengernyit mencerna bisikan Nisa di telingaku tadi. "Lain Kali nggak perlu ngintip-ngintip, ya! Nggak baik! Emangnya suara seperti apa yang kamu dengar, suara obrolan atau suara apa?" Entah kenapa aku jadi berpikiran buruk pada Kak Deli, kalau memang benar yang aku duga, setidaknya jangan dia lakukan saat anakku berada di dekatnya seperti tadi.
"Suara seperti apa, ya? Nisa nggak bisa niruinnya, udahlah Mak, Lapar nih. Nisa mau panggil Tante Deli sekarang! Tuh lihat, Zio malah sudah makan duluan," rajuk Nisa.
Zio dengan lahapnya makan, mungkin sudah tak sabar melihat aku dan Nisa yang mengobrol lama sejak tadi. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat Nisa yang pergi menuju kamarnya dengan wajah masam.
"Iissh … biasanya makan nungguin Mamak dulu. Sebelum Mamak lupa, nanti kalau sampai jam 8 malam Bapak belum pulang dari rumah sakit, tolong bantu Mamak periksa semua kunci pintu dan jendela, ya," pintaku pada Zio.
"Siap … Mak! Semoga Zio nggak ketiduran, ya, hehehe …."
"Tidur terus … tambah gembul tuh pipi! Pokoknya kamu malam ini harus temani Kakak, kita tunggu sama-sama sampai Bapak pulang. Nggak boleh bantah, kasian Mamak nggak bisa istirahat kalau harus nungguin Bapak pulang buat bukain pintu," celoteh Nisa panjang lebar. Tangannya sibuk menuangkan nasi dan lauk pauk, kemudian mengambil sendok dan garpu dan langsung melahapnya dengan cepat.
Aku tersenyum haru, namun langsung tersadar kenapa Nisa kembali nggak bersama Kak Deli. "Tante Delinya, mana? Kok sendirian aja, trus langsung makan nggak nungguin Mamak juga." Aku pura-pura sedih, biar Nisa merasa bersalah.
"Lapar banget … udah nggak sanggup nunggu! Pingsan kayaknya Tante Deli di dalam, Nisa ketok dan panggil berkali-kali tapi nggak ada jawaban juga!"
__ADS_1
Sekarang aku sudah di depan pintu kamar Nisa, aku pun sudah mengetok pintu dan memanggil berulang kali tapi nggak ada juga jawaban dari dalam. Ku coba memutar pegangan pintu, alhamdulillah tidak terkunci. Kenapa tadi Nisa nggak langsung masuk memanggil Kak Deli, nanti ku tanyakan langsung saja pada Nisa apa alasannya.
Di depan pintu kamar, ku perhatikan kamar Nisa terlihat sangat berantakan. Koper Kak Deli dalam keadaan terbuka, sedangkan isinya berserakan di lantai. Dari dalam kamar mandi ku dengar suara gemericik air dari pancuran, juga suara-suara aneh yang nggak bisa ku jelaskan seperti apa. Suara itu juga kah yang di dengar Nisa tadi sore? Daripada menduga-duga, ku ketok pintu kamar mandi berkali-kali dengan keras.