
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Tujuh Belas
Tanpa sengaja, aku menemukan sebuah kartu ucapan. Tertulis kalimat manis untuk Kak Deli, seperti dari seorang pengagum. Aku membaca hingga akhir, dan tertegun dengan kalimat terakhir yang juga tertera jelas nama sang pengirim.
¤¤¤¤¤
" 'Semoga suka dengan hadiah yang Abang berikan, dijaga dan dirawat dengan baik, ya! Seperti hati kita berdua yang selalu akan kita jaga dan rawat dalam cinta' "
" 'Kemal Majeed' "
Tenggorokanku rasanya tercekat, apa benar nama orang yang ku duga ini adalah nama pengusaha ternama di kota tempat tinggalku ini. Seingatku toko kami menjadi salah satu pemasok beberapa barang untuk Hotel miliknya, bahkan aku adalah pelanggan tetap butik busana muslim yang dikelola oleh istrinya.
Aku baru menyadari mobil sedan merah yang menjemput Kak Deli tadi bermerk mobil mewah yang sangat mahal, yang menjadi pertanyaanku, bagaimana bisa Kak Deli berkenalan dengan Pak Kemal?
Saat ini Kak Deli masih sah sebagai istri Bang Anto, bagaimana bisa dia sekarang menjadi perusak rumah tangga orang lain. Aku tak bisa membayangkan reaksi Bapak dan Ibu di kampung bila mengetahui hal ini, masalahnya dengan Bang Anto saja belum terselesaikan.
Kepalaku tiba-tiba saja rasanya berputar-putar, kartu ucapan itu ku biarkan saja terjatuh ke lantai. Dalam benakku terlintas kata pelakor, yang sekarang pantas disematkan pada diri Kakak Kandungku. Aku mengurungkan niat untuk membereskan kamar tamu, lebih baik aku kembali ke kamar dan melaksanakan shalat ashar.
Selesai melaksanakan shalat ashar, aku mulai menggoreng donat di dapur bersama Nisa. Zio dan Imran juga membantu kami menyiapkan minuman dingin untuk dinikmati bersama.
Rencana awalku yang ingin menikmati donat sambil menonton televisi di ruang keluarga gagal, karena saat ini aku, Nisa, Zio dan Imran memilih untuk bercengkrama dan menikmati donat bersama-sama di samping rumah dengan beralaskan tikar plastik.
__ADS_1
Cuaca sore ini cerah dan berangin, aku meninggalkan anak-anak untuk mengambil jemuran yang tersisa dan membawa masuk ke dalam rumah. Saat menuju ke ruang keluarga aku berpapasan dengan Bang Hasyim yang baru pulang dari toko.
"Di mana anak-anak? Tumben sepi, biasanya kalau Abang pulang, kalian lagi nonton televisi," tanya Bang Hasyim padaku.
"Ada di halaman samping rumah, lagi pada makan donat," jawabku sambil meletakkan cucian kering ke dalam wadah besar sebelum ku lipat dan setrika nanti.
"Ooh … Abang mandi dulu, nanti ikut nimbrung makan donat sama anak-anak," sahut Bang Hasyim langsung berlalu menuju kamar.
Bang Hasyim sudah berkumpul bersamaku dan anak-anak, kami saling mengobrol dan bercanda satu sama lain. Dari arah pintu pagar terdengar suara seseorang mengucap salam. Aku dan Bang Hasyim beranjak menuju ke teras depan rumah.
"Assalamu'alaikum … Bang Hasyim!"
"Wa'alaikumsalam!" Aku dan Bang Hasyim menyahut salam bersamaan. Ternyata Aan yang merupakan penjaga keamanan komplek kami yang datang, dia tampak tersenyum pada kami berdua.
"Silahkan masuk dulu, Aan!" ucap Bang Hasyim.
"Insya'Allah kami hadir nanti, terimakasih atas undangannya," ucap Bang Hasyim. Aan berlalu menuju rumah lainnya, aku dan Bang Hasyim kembali ke samping rumah.
●●●●
Aku dan Bang Hasyim baru saja sampai di depan pagar rumah dari acara tahlilan di rumah Aan. Sebuah mobil sedan merah berhenti tak jauh dari rumahku, Kak Deli keluar dari pintu depan mobil itu. Tak lama berselang, mobil itu pun berbalik arah dan melaju ke luar dari komplek perumahanku.
Bang Hasyim yang sempat tampak sangat serius memperhatikan mobil sedan itu, langsung beranjak masuk ke dalam rumah ketika melihat orang yang turun dari mobil itu adalah Kak Deli dengan pakaian yang sangat ketat. Aku mengenali mobil itu sama dengan mobil yang menjemput Kak Deli tadi.
Tangan Kak Deli tampak penuh dengan barang belanjaan dengan merk yang terkenal, aku yang tadinya terpaku memandangnya karena baju yang dipakainya sudah berbeda dengan saat berangkat, memutuskan untuk langsung masuk ke rumah tanpa membantu Kak Deli yang tampak kepayahan membawa barang-barangnya.
__ADS_1
Sebelum pergi ke kamar, aku berhenti sebentar dan memeriksa jendela-jendela di ruang tamu, ternyata sudah terkunci dengan baik. Kak Deli menghempaskan begitu saja belanjaannya di depanku, aku tersentak karena sama sekali tak menyadari kehadirannya.
"Bantuin angkat ke kamar, lihat Kakaknya repot bawa barang malah ditinggal begitu saja!" Ketus Kak Deli dengan wajah masam.
Aku hanya diam sambil memperhatikan semua barang-barang yang berserakan di lantai, tak ada keinginan untuk membantu dan mengalah lagi dengan semua sikap Kak Deli. Aku duduk bersandar di sofa ruang tamu, wajah Kak Deli sudah terlihat merah padam melihat dengan tatapan tajam kepadaku. Ini adalah saat yang tepat untuk berbicara dengan Kak Deli, karena kalau dia sudah mengurung diri di kamar, entah kapan aku akan punya kesempatan lagi.
"Dena mau bicara sama Kakak, ini penting!"
"Mau bicara apa? Sudah ada dari Kampung yang lapor sesuatu ke kamu tentang aku, kan? Terus kamu percaya sama omongannya begitu saja!" hardik Kak Deli keras.
Aku bahkan belum memulai bicara apapun sama sekali, tapi Kak Deli sudah menanggapi dengan penuh emosi. Aku menghela nafas panjang, mencoba memikirkan kata yang tepat untuk disampaikan pada Kak Deli.
"Bang Anto menelpon Dena kemarin waktu Kakak sedang istirahat di kamar Nisa, dia meminta untuk bisa berbicara dengan Kakak, karena katanya nomer Kakak tidak bisa dihubungi. Dena bilang untuk beri waktu sampai Kakak mau berbicara langsung dengan Bang Anto, selain itu Bang Anto hanya bicara kalau Kakak minta cerai, dan secara tidak langsung menyalahkan Dena yang mau saja menerima kedatangan Kakak ke sini." Kak Deli masih berdiri di antara barang-barangnya yang berserakan di lantai, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan atas apa yang baru saja ku sampaikan.
"Iya, Kakak memang minta cerai! Siapa yang sudi punya suami yang mulutnya lemes kayak Bang Anto, dan ngakunya orang kaya, ternyata bohong besar!" sungut Kak Deli penuh emosi.
"Dena nggak memihak Kakak ataupun Bang Anto, tapi apa Kakak nggak bisa menyelesaikan dulu masalah dengan Bang Anto secara baik-baik. Bahkan Bapak beramanat, Dena harus tegas meminta Kakak untuk pulang ke kampung. Semua keluarga besar kita menganggap Kakak sedang melarikan diri dari masalah," ungkapku pada Kak Deli.
"Apa! Enak saja kalau ngomong, siapa yang lari dari masalah. Iya, Kakak salah! Biarkan saja semua orang menganggap Kakak salah, timpakan saja semua kesalahan itu pada Kakak. Kalian sudah termakan omongan palsu Bang Anto!" geram Kak Deli.
Aku bingung menghadapi emosi Kak Deli yang tak kunjung mereda, bisa-bisa tetangga berdatangan mendengar suara Kak Deli yang seperti setengah berteriak.
"Duduk dulu, Kak! Tenang, nggak perlu terlalu emosi. Dena malah semakin nggak mengerti masalah apa yang sebenarnya terjadi antara Kakak dan Bang Anto?"
"Sebelum Kakak menjelaskan hal itu, Dena ingin tahu siapa yang menjemput dan mengantar Kakak tadi? Apa betul itu Pak Kemal Majeed pemilik Hotel Q!" Aku memandang tajam ke arah Kak Deli, entah kenapa kali ini Kak Deli tampak kikuk dan salah tingkah.
__ADS_1
"I–itu …."