
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Delapan Belas
"Sebelum Kakak menjelaskan hal itu, Dena ingin tahu siapa yang menjemput dan mengantar Kakak tadi? Apa betul itu Pak Kemal Majeed pemilik Hotel Q!" Aku memandang tajam ke arah Kak Deli, entah kenapa kali ini Kak Deli tampak kikuk dan salah tingkah.
"I–itu …."
¤¤¤¤
"I–itu … apa, Kak? Benar, ya, itu Pak Kemal!" Aku menatap tajam ke arah Kak Deli, namun jauh di dalam hati berharap semua dugaanku ini salah.
"Memangnya kenapa kalau itu Pak Kemal pemilik Hotel Q, toh, dia nggak kenal juga sama kamu!" ketus Kak Deli.
"Jadi benar itu Pak Kemal, Kakak tahu dia siapa? Apa yang Kakak lakukan sekarang bisa berdampak besar pada usaha yang Dena dan Bang Hasyim bangun dengan susah payah, kami punya perjanjian bisnis memasok sejumlah barang untuk Hotel Q. Bisa saja kontrak perjanjian kami tidak akan dilanjutkan lagi tahun depan kalau Majeed Corp mengetahui masalah perselingkuhan Pak Kemal dengan Kak Deli yang tak lain adalah Kakak Kandung Dena. Bagaimana Kakak bisa berkenalan dengan Pak Kemal, Dena mohon jangan jadi perusak rumah tangga orang lain! Ingat Karma, Kak!"
"Siapa yang jadi perusak rumah tangga? Maksud kamu aku pelakor, gitu! Jangan asal ngomong kalau nggak tahu yang sebenarnya. Lagian apa hubungannya semua ini dengan usahamu, nggak usah mengada-ada kamu, Dena," dalih Kak Deli.
"Loh, kenyataannya bagaimana? Kakak baru saja pulang setelah pergi berbelanja dan entah ngapain aja sama suami orang lain, kiriman ponsel baru yang tadi juga dari Pak Kemal, kan? Siapa yang mengada-ada, yang ada Kakak bikin perkara!" Kak Deli mendengus sebal mendengar jawabanku.
"Kamu baca kartu ucapan yang ada di kamar tamu, lancang sekali! Apa segitu keponya sampai berani membaca yang bukan milikmu, mulai sekarang jangan ikut campur urusan Kakak! "
"Bukannya Kakak yang tadi pergi tergesa-gesa sampai lupa menutup pintu kamar, Dena cuma berniat membuang sampah plastik pembungkus paket, dan kartu ucapan itu ada diantaranya." Aku menghela nafas, menahan gemuruh emosi yang mulai memuncak.
__ADS_1
"Dena harus dan wajib mencampuri urusan Kakak, karena kita saudara kandung dan saat ini Kakak tinggal bersama Dena di rumah ini. Pakaian ini, kapan Kakak menggantinya, usia sudah tua bukan menutup aurat malah mengumbarnya!" Aku menumpahkan kekesalan ku seketika itu juga, geram rasanya melihat sikap Kak Deli yang merasa tak berbuat salah sedikitpun.
"Kenapa semua orang selalu saja mau mencampuri urusanku, ini hidupku, terserah aku mau berbuat apapun!" pekik Kak Deli.
Kak Deli beranjak mengambil semua barang belanjaannya, karena tergesa-gesa dan sedang dalam keadaan penuh emosi, berkali-kali barang-barang itu dipungutnya hingga masuk ke kamar karena selalu terjatuh.
Aku masih memperhatikan Kak Deli sampai di depan pintu kamar tamu, sepertinya aku harus membicarakan hal ini dengan Bang Hasyim sekarang. Setelah mengunci pintu depan, aku bergegas pergi ke kamar.
Setelah selesai berganti pakaian dan membersihkan diri, aku ikut duduk bersandar di sofa bersama Bang Hasyim. Di layar televisi sedang menayangkan acara bincang politik, tayangan yang selalu di tonton Bang Hasyim setiap harinya.
"Sudah bicara dengan Kak Deli?" Bang Hasyim memulai pembicaraan sambil menikmati keripik singkong.
"Sudah, tapi belum jelas apa masalah sebenarnya antara Kak Deli dan Bang Anto. Sekarang ada masalah yang lebih besar, Abang tahu siapa orang yang mengantar Kak Deli tadi?"
"Pak Kemal Majeed, dari Majeed Corp, kan?"
"Abang mengenali plat mobil merah tadi, apa Kak Deli punya hubungan khusus dengan Pak Kemal?" tebak Bang Hasyim.
"Tadi Adek tidak sengaja membaca kartu ucapan dari Pak Kemal untuk Kak Deli, dia mengirimkan ponsel baru bermerk terkenal yang sangat mahal untuk Kak Deli. Waktu Adek tanyakan tadi, Kak Deli marah-marah karena merasa Adek terlalu mencampuri urusannya."
"Memang begitu, kan, tabiat Kak Deli. Sudah dipikirkan apa yang mau Adek lakukan, konsekuensinya terlalu besar untuk usaha kita. Saran Abang, kita bicarakan saja ini dengan Bapak di Kampung."
"Insya'Allah besok Adek telepon Bapak untuk membicarakan masalah Kak Deli yang sekarang, Abang tadi sudah lihat anak-anak di kamar mereka masing-masing?"
"Sudah, anak-anak sudah bersiap tidur waktu Abang ke kamar mereka. Adek nggak bilang, ya, ke Kak Deli untuk berpakaian lebih sopan?"
__ADS_1
"Sudah, bahkan Adek sudah membelikan 3 gamis harian untuk Kak Deli pakai di dalam rumah. Adek nggak mengira Kak Deli sekarang berani berpakaian sangat terbuka saat pergi ke luar rumah, waktu Adek minta memakai gamis di dalam rumah, Kak Deli sempat menolak."
"Sebaiknya segera minta Kak Deli untuk pulang ke Kampung, Abang khawatir dengan sikap Kak Deli yang arogan akan berdampak pada anak-anak kita."
"Baik, Abang. Adek sangat berharap perbuatan yang dilakukan Kak Deli tidak berakibat buruk pada toko kita, Adek tidur dulu, ya!" Aku melangkah ke ranjang, membaringkan tubuh dan menarik selimut hingga lengan.
●●●●●
Pagi menjelang, matahari tampak malu-malu memancarkan cahayanya. Semua pekerjaan rumah sudah ku lakukan setelah melaksanakan shalat subuh, juga menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk Bang Hasyim.
Anak-anak sedang sarapan bersama-sama Kak Deli saat ku tinggalkan mereka untuk ikut Bang Hasyim ke toko, atas usul Bang Hasyim saat bangun tidur tadi, kami akan menelepon Bapak pagi ini juga di toko. Kalau di rumah, khawatir didengar oleh Kak Deli.
Sebelum pergi, Nisa ku minta untuk pergi ke rumah Amel bersama Zio dan Imran setelah mereka selesai sarapan. Amel sudah terlebih dahulu ku hubungi, meminta tolong untuk menjaga anak-anak selama aku di toko. Entah kenapa aku merasa tidak tenang kalau menitipkan anak-anak kepada Kak Deli.
Wajah Kak Deli yang sempat kulihat sebelum berangkat tadi tampak biasa saja, seolah-olah tak ada masalah apapun dalam hidupnya. Kejadian tadi malam saja masih membekas diingatanku, bagaimana bisa sang pembuat masalah malah terlihat tenang dan baik-baik saja. Kak Deli tampak sibuk dengan ponsel dengan earphone yang menempel di telinganya, bahkan terlihat aneh karena senyum-senyum sendiri.
Bang Hasyim dan beberapa karyawan toko kami sedang bersiap-siap untuk membuka toko, alhamdulillah sepagi ini sudah ada beberapa pelanggan yang menunggu untuk berbelanja. Bang Hasyim sudah duduk di meja kerjanya, suamiku itu mulai disibukkan dengan nota-nota sambil sesekali mengawasi kinerja para karyawan terutama kasir.
Aku duduk di kursi dekat meja kerja Bang Hasyim, ponsel yang ada di genggaman tanganku bergetar, di layar terlihat pesan masuk dari Amel yang memberi kabar kalau anak-anak sudah ada di rumahnya. Aku membalas pesan Amel dengan ucapan terimakasih dan emoticon tersenyum.
Entah kenapa tiba-tiba rasanya sangat gugup, saat ini di layar sudah tertera nama Bapak, aku hanya tinggal menekan tombol panggil. Harus ku lakukan, apapun yang terjadi nanti, mau tak mau harus dihadapi.
Nada panggilan terhubung sudah terdengar, namun hanya suara berisik seperti suara hembusan angin kencang. Beberapa detik berlalu, aku yang awalnya ingin mengakhiri panggilan mengurungkan niatku setelah mendengar samar suara Bapak di seberang telepon.
"Assalamu'alaikum …," salamku pada Bapak.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam!" sahut Bapak dengan suara yang mulai terdengar jelas.
Belum sempat aku akan memulai bercerita tentang Kak Deli, kalimat yang Bapak ucapkan mampu membungkam mulutku hingga tak sanggup berkata-kata lagi.