
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Tiga Belas
Aku benar-benar terpana dengan sosok yang berdiri di hadapanku sekarang, bahkan sampai nggak tahu harus berkata apa. Di sampingku, Nisa menutup mulutnya dengan tangan seperti sedang menahan tawanya. Aku mencubit pinggang Nisa, sebagai tanda jangan membuat Tantenya itu murka.
¤¤¤¤
Di depan pintu kamar Kak Deli berdiri dengan riasan wajah ala korea, juga memakai pakaian yang menurutku tidak sesuai dengan usianya. Kak Deli seperti ingin bergaya layaknya anak muda, bahkan terkesan memaksakan diri meski sebenarnya terlihat bagus karena tubuhnya yang langsing.
Kak Deli memakai celana jeans berwarna biru tua yang sangat ketat, atasan kemeja berwarna putih yang dimasukkan sebagian ke dalam celana jeans dan tas selempang kecil yang juga berwarna putih. Rambutnya memakai syal yang diikatkan menyerupai bando, tangannya menenteng sepatu kets berwarna putih yang senada dengan warna bajunya.
Berbeda dengan penampilanku yang mengenakan gamis dan jilbab instant, aku mengenakan hijab semenjak menikah dengan Bang Hasyim. Suamiku dengan sabar mengajari dan menuntunku hingga sekarang merasa sangat nyaman dengan hijab yang ku pakai.
Kemarin siang saat Kak Deli datang, penampilannya masih sama seperti dulu. Memakai setelan yang agak longgar dengan riasan wajah tipis. Tampilannya sekarang di hadapanku ini, membuatku berpikir apakah Kak Deli mengalami puber.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat, saat ini yang terlintas di kepalaku adalah kami akan jadi pusat perhatian di pasar nanti. Untungnya Nisa bisa menahan diri untuk tidak menertawakan Tantenya. Meskipun wajah Kak Deli cantik dan bertubuh seksi, pasti akan ada sebagian orang yang sependapat denganku yang memandang aneh dengan penampilannya ini.
"Yah … Nisa jadi nggak bisa ikut Mamak ke pasar. Mau beli apa sih Tante Deli?" Nisa masih terus memandang ke arah Kak Deli dengan tatapan keheranan.
"Anak kecil pengen tahu aja, kamu di rumah aja jagain Zio," protes Kak Deli pada Nisa.
Nisa dengan wajah cemberut melangkah pergi ke ruang keluarga setelah memberikan helm yang dipegangnya kepada Kak Deli.
__ADS_1
"Yakin mau ikut Dena ke pasar, Kak?".
"Loh … emang kenapa, nggak boleh kalau aku ikut!" Kak Deli menatap tajam ke arahku, mulutnya komat kamit terlihat sangat kesal dengan pertanyaanku.
"Boleh … boleh banget! Kakak sebenarnya mau beli apa, kalau Dena mau beli lauk juga sayuran buat persediaan di rumah. Selain Kak Deli, di rumah ini ada Imran anaknya Kak Laura yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Jadi harus ada persediaan yang cukup buat seminggu ke depan."
"Ooh … ada orang lain juga yang numpang di rumah ini, lihat saja nanti apa yang mau aku beli," sungut Kak Deli.
"Iya, Kak. Imran anak Kak Laura tetangga Dena di komplek ini, teman akrabnya Zio. Kita berangkat sekarang, Kakak masih ada yang mau dibawa mungkin?"
"Udah siap, kok? Nanti kalau uangku nggak cukup, kamu bayarin dulu, ya! Ayo cepetan, keburu panas," titah Kak Deli.
Kak Deli sudah menungguku di depan pintu pagar, aku baru saja akan menghidupkan mesin motorku.
"Kemaren Ulfa, masih capek jadi baru sekarang keluar rumah, nih mau ikut Dena ke pasar. Kak Dena tampak memperbaiki tatanan rambutnya yang tertiup angin sebelum memasangkan helm ke kepalanya.
"Tambah cantik aja kamu Deli, apa rahasianya biar tetap langsing dan awet muda. Bagi tipsnya, lah," puji Mbak Ulfa pada Kak Deli.
"Nanti saya bisikin tipsnya, ya, Ulfa! Sekarang mau ke pasar dulu, keburu habis lauk pauk yang mau di beli sama Dena." Kak Deli duduk diboncengan motorku, kami berangkat setelah berpamitan pada Mbak Ulfa.
Tiba di pasar, Kak Deli memilih untuk menunggu ku di warung yang menjual makanan saat aku sedang berbelanja lauk dan sayuran. Ketika aku sudah selesai berbelanja dan mendatanginya, ku lihat Kak Deli sedang mengobrol akrab dengan seorang laki-laki.
"Kak … sekarang kita cari barang yang Kakak mau beli, Dena sudah selesai belanja." Kak Deli menyerahkan sejumlah uang untuk membayar pada penjual, tapi tangannya di singkirkan laki-laki itu yang kemudian membayarkan dengan uangnya sendiri.
"Udah, saya saja yang bayar! Sudah simpan, kan, nomer ponsel saya. Senang berkenalan dengan Deli, jangan lupa balas pesan saya, ya!" Laki-laki berpostur tinggi, berpakaian dinas, berkulit putih dan berparas lumayan tampan itu tersenyum sumringah pada Kak Deli.
__ADS_1
Terimakasih, sudah ditraktir. Tenang, sudah disimpan. Nanti saya balas pesannya kalau sudah sampai di rumah," ucap Kak Deli. Terdengar suara Kak Deli yang terkesan agak genit, aku hanya bisa memperhatikan dalam diam.
"Ini, ya, Adeknya Deli. Cantik, sama seperti Kakaknya," rayu laki-laki itu dengan tatapan genit.
Aku hanya menjawab dengan menangkupkan tangan dan tersenyum tipis, dan bergegas menarik tangan Kak Deli mengajaknya pergi dari warung itu.
Kak Deli menepis tanganku dengan cepat, berbalik arah dan melambaikan tangannya pada laki-laki itu. Aku jadi geram melihat tingkah Kak Deli pada orang yang baru saja di kenalnya.
Percuma rasanya memaksa Kak Deli untuk segera beranjak dari tempat itu, yang ada malah kami akan jadi pusat perhatian. Dengan wajah masam Kak Deli mengikuti langkahku yang pergi begitu saja tanpa menunggunya, aku berpura-pura tidak tahu kalau dia sudah tertinggal jauh di belakangku.
Dengan nafas tersengal-sengal, Kak Deli sudah berada di sampingku yang sedang melihat-lihat di depan etalase jilbab di sebuah toko pakaian muslim.
"Nggak sopan banget, main tinggal aja! Bang Alif tadi orang baik, loh. Jangan suka su'udzon sama orang baru dikenal, malah aku yang jadi nggak enak sama dia gara-gara kamu!" Kak Deli memarahiku seolah tak peduli dengan orang-orang di pasar yang mulai memperhatikan kami berdua, membuatku semakin geram dibuatnya.
"Jadi mau beli yang Kakak inginkan atau tidak!" tegasku. Tanganku kembali menarik lengan Kak Deli, membawanya kearah parkiran motor.
"Nggak jadi aja, udah nggak pengen beli apa-apa! Gara-gara sikap kamu yang sok suci begini!" Kak Deli menghempaskan bobotnya di jok motorku, tangannya bersedekap dan kepalanya berpaling kearah samping, persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Aku melajukan motorku setelah memberikan uang parkir ke tangan tukang parkir di pasar, Kak Deli masih menunjukkan sikap bahwa dia marah kepadaku. Aku teringat bensin motorku yang harus diisi karena tinggal setengahnya, ini kebiasaanku untuk mengisi bensin agar selalu siap untuk dipakai saat dibutuhkan.
Motorku sudah memasuki area pom bensin, ternyata lumayan banyak antrian kendaraan yang akan mengisi bensin juga . Aku meminta Kak Deli untuk menunggu di dekat gerbang keluar pom bensin, Kak Deli beranjak pergi saat aku mulai memasuki antrian.
Kurang lebih lima menit, akhirnya antrianku pun tiba. Selesai menutup jok motor dan menyerahkan sejumlah uang pada petugas pom bensin, aku pun melaju ke arah gerbang keluar pom bensin.
Mendekati gerbang keluar pom bensin, aku melambatkan laju motorku. Aku tersentak begitu menyadari Kak Deli tidak berada di gerbang keluar pom bensin, aku pun segera memperhatikan ke segala arah mencari-cari sosok Kak Deli diantara ramainya lalu lalang orang dan kendaraan bermotor di jalan raya ini.
__ADS_1