Ingin Tenang, Dengan Menumpang

Ingin Tenang, Dengan Menumpang
Bab Sembilan Belas


__ADS_3

Ingin Tenang, Dengan Menumpang


By KhaRa_Asha


Bab Sembilan Belas


Belum sempat aku akan memulai bercerita tentang Kak Deli, kalimat yang Bapak ucapkan mampu membungkam mulutku hingga tak sanggup berkata-kata lagi.


¤¤¤¤¤


"Bapak dan Anto nanti malam berangkat menuju ke rumah Dena, jangan cerita soal kedatangan kami ini sama Kakakmu. Dena tahu, baru saja ada yang lapor sama Bapak, Kakakmu itu baru 3 hari di sana sudah menggemparkan Kampung lagi dengan berita bahwa dia menjadi perusak rumah tangga orang! Anto ikut Bapak ke sana karena ingin menjatuhkan talak pada Deli di hadapan Bapak secara langsung. Sekarang Bapak masih menyelesaikan urusan panen kebun, kalau tidak detik ini juga berangkat ke sana!"


"Dena … halo, Dena!" Suara Bapak terdengar memanggilku.


"I–iya … Bapak! Sebenarnya ada yang mau Dena ceritakan, tapi lebih baik nanti saja kalau Bapak sudah sampai di sini." Sedikit rasa lega memenuhi rongga dadaku, aku tak mengira kabar itu malah lebih dulu sampai ke Kampung.


"Ya, sudah. Bapak sudah hampir sampai di kebun. Sinyal kurang baik di sini, assalamu'alaikum." Nada panggilan berakhir terdengar setelah aku membalas salam Bapak.


Wajah Bang Hasyim tampak keheranan melihat ke arahku, mungkin dia penasaran apa yang ku bicarakan dengan Bapak. Aku beranjak mendekatinya, sebenarnya ingin langsung bercerita tapi kondisi toko yang sedang ramai membuatku harus menundanya.


"Adek pamit mau pulang ke rumah, tapi mau mampir ke supermarket dekat sini sebentar. Nanti malam kita bicarakan apa yang Bapak bilang sama Adek di telepon tadi, assalamu'alaikum" ucapku seraya mencium takzim tangan Bang Hasyim.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan!" Bang Hasyim tampak kembali sibuk dengan pekerjaannya, aku keluar dari toko menuju supermarket. Selesai membeli semua yang ku perlukan, aku menunggu taksi online yang sudah ku pesan di depan supermarket.


Sesampainya di rumah, terasa sangat sepi karena anak-anak masih berada di rumah Amel. Aku akan menjemput mereka nanti menjelang makan siang, kalau di jemput sekarang pasti akan protes karena sedang asyik bermain bersama anak-anak Amel.


Tak terasa sudah dua jam berlalu, makan siang sudah terhidang di meja makan. Aku memasak tumis kangkung, ayam goreng lengkuas, tempe dan tahu goreng, juga sambal terasi. Dapur sudah bersih dan rapi, kulihat jam di dinding, masih ada waktu untuk menyetrika pakaian. 


Tumpukan tinggi cucian bersih dalam wadah besar, sedikit demi sedikit berkurang dan akhirnya semua selesai ku setrika. Aku pun mulai memasukkan semua pakaian itu ke lemari di kamarku, kamar anak-anak, pastinya juga ke kamar tamu.


Saat akan memberikan pakaian bersih milik Kak Deli, ketukan yang ku lakukan berulang kali di pintu kamar tamu tak berujung sahutan sama sekali dari penghuni di dalamnya. Apa Kak Deli pergi keluar rumah lagi tanpa memberitahuku, seolah-olah rumah ini adalah rumahnya dan tak perlu berpamitan pada siapapun untuk pergi. Gagang pintu kamar tamu coba ku putar, ternyata tak di kunci, kamar tampak masih berantakan tapi Kak Deli tidak ada di dalam.


Aku meletakkan pakaian milik Kak Deli di dalam lemari, telingaku samar mendengar suara seseorang sedang berbicara di dalam kamar mandi yang baru ku sadari dalam keadaan tertutup rapat. 

__ADS_1


Aku melangkah mendekat ke arah depan pintu kamar mandi, yang terdengar hanya suara jawaban dari Kak Deli, tapi tak bisa mendengar apa yang dibicarakan lawan bicaranya di telepon.


"Iya … enak tinggal di sini, tenang, sesuai pengenku." Aku menajamkan pendengaran, sepertinya Kak Deli sedang curhat dengan seseorang.


"Ya, rugi lah punya Adek kaya. Toh, selain aku, ada anak tetangga juga yang ikut menumpang hidup di rumah ini." Apa maksud Kak Deli dengan ucapannya itu?


"Lah, iya, nggak perlu capek mikirin cari uang sama ngerjain kerjaan rumah." Terdengar suara tawa Kak Deli, kemudian beberapa detik berlalu dalam keheningan, membuat aku mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang Kak Deli ucapkan sebelumnya.


"Jadi pengen tinggal di kota aja selamanya, di Kampung penuh dengan orang-orang sirik yang nggak suka lihat orang senang! Semoga saja proses cerai Kemal cepat selesai, dan aku akan segera menjadi Nyonya Kemal." Mataku membulat mendengar ucapan Kak Deli, berarti benar Kakak Kandungku seorang pelakor. 


"Iish … nggak usah ngomongin Anto, laki-laki nggak guna! Udah jelas aku minta cerai, malah ngemis-ngemis nggak mau pisah." Berulangkali aku mengucap istighfar dalam hati, mendengar semua kenyataan ini langsung dari mulut Kak Deli.


"Halah, yang penting sekarang senang dan tenang. Do'akan saja aku sukses dan menjadi Nyonya Kemal Majeed, kapan kamu pulang dari kota J?" Aku sudah tak tertarik mendengarkan apa yang diucapkan Kak Deli, dengan langkah gontai aku keluar dari kamar tamu menuju ruang keluarga.


Ponsel ku berdering nyaring saat aku baru duduk di sofa depan televisi, tertera nama Amel di layar. Astaghfirullah, aku baru ingat belum menjemput anak-anak dari rumah Amel.


"Assalamu'alaikum, Amel. Maaf, tadi ada sesuatu, pas kamu menelepon baru ingat kalau anak-anak belum ku jemput," berondongku pada Amel di seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam … Ini baru mau kabarin kalau anak-anakmu ku ajak ke tempat Mertua. Kebetulan Keisha bikin pesta ulang tahun kecil-kecilan, biar ramai anak-anakmu ku ajak sekalian. Nggak apa-apa, kan, Dena? Maaf, loh, baru kasih tahu," ucap Amel.


"Nggak repot, malah senang rumahku jadi tambah rame. Mungkin kami pulangnya agak sore dari sini, nggak perlu dijemput biar kami antar langsung ke rumahmu nanti."


"Iya, Amel. Titip salam buat Mertua dan keluargamu yang lain, ya. Selamat ulang tahun buat Keisha, bilang nanti kadonya nyusul."


"Oke, salam dan pesannya insya'Allah disampaikan. Udah dulu, ya, acaranya mau dimulai. Assalamu'alaikum!" 


"Wa'alaikumsalam," sahutku. Terdengar nada panggilan yang terputus, aku mengambil remote televisi dan menyalakannya untuk mengalihkan perhatianku dari masalah Kak Deli.


Aku berulang kali mengganti chanel televisi, rasanya tak ada satupun tayangan yang menarik. Akhirnya aku memilih menonton berita saja, perlahan rasa kantuk pun mulai menguasaiku. 


Entah sudah berapa lama, rupanya aku ketiduran saat sedang menonton televisi. Kak Deli membangunkanku karena dia merasa lapar dan ingin ditemani makan siang, kok, aku malah merasa aneh dengan permintaannya itu, ya?


"Ayo, lah, Dena! Sudah laper banget nih, kamu masak apa aja? Anak-anak pada kemana, tumben sepi," celoteh Kak Deli

__ADS_1


"Anak-anak ikut Amel ke rumah mertuanya, kata Amel lagi ada acara ulang tahun keponakannya. Kakak makan duluan saja, Dena mau sholat dzuhur dulu," elakku.


"Nggak bisa, temani Kakak makan sekarang! Susah banget, sih, dibilangin," pekik Kak Deli.


"Kakak ini kenapa? Kalau ada yang mau dibicarakan, langsung saja bilang."


Kak Deli mendengus sebal, tangannya bersedekap. Saat hendak beranjak menuju ke kamar, Kak Deli mencegatku.


"Kakak nggak mau tidur di kamar tamu lagi, pokoknya mulai sekarang kamar Nisa jadi kamar Kakak!" 


"Hmm … Kak Deli, kan, tamu di sini. Jadi, mohon jangan mengatur-atur apa yang ada di rumah ini!" tegas Bang Hasyim. 


Aku tersentak, sejak kapan Bang Hasyim datang. Kak Deli beranjak pergi ke kamar tamu sambil menghentak-hentakkan kakinya, sedangkan Bang Hasyim berlalu menuju kamar tanpa memperdulikan tingkah Kak Deli yang sudah sangat kami hafal.


Aku menyusul Bang Hasyim ke kamar, ternyata dia pulang hanya untuk mengambil beberapa surat perjanjian pelanggan yang akan diperbarui kembali. Aku mengantarkan Bang Hasyim sampai di depan pintu pagar, dia bergegas kembali ke toko karena sedang ditunggu pelanggan kami. 


Cuaca cukup terik, suasana sekitar komplek pun terlihat sepi. Aku mengambil semua jemuran pakaian di samping rumah, kali ini aku membawanya ke kamar. Bahkan aku juga makan siang di dalam kamar tepatnya ingin menghindar dari Kak Deli untuk sementara.


Adzan ashar berkumandang, aku beranjak dari sofa bergegas mandi dan melaksanakan shalat. Selesai shalat, aku menuju dapur hendak membuat camilan.


Saat sedang mempersiapkan bahan-bahan camilan, terdengar samar suara isak tangis yang makin lama semakin jelas. Aku tersentak karena tiba-tiba saja ada yang memelukku dari belakang, suara tangis itu ternyata suara Nisa yang sedang menangis.


Aku berbalik arah, memeluk Nisa erat. Saat isak tangisnya mulai mereda, aku mengurai pelukan dan menatap lekat manik mata Nisa.


"Ada apa, Sayang? Baru pulang, malah nangis begini," tanyaku kebingungan.


Bukan jawaban yang ku dengar, air mata Nisa mulai membasahi pipinya lagi. Apa ada yang terjadi di rumah Mertua Amel, atau karena Zio, tapi Nisa tak pernah menangis seperti ini kalau lagi tidak akur dengan Zio.


"Pasti Mak kira Kakak nangis karena Zio, kan?" Zio berdiri dekat meja makan, tangannya membawa bungkusan berbagai macam snack.


Aku tersenyum geli, karena Zio bisa menebak apa yang ada dalam pikiranku.


"Cerita, dong! Biar Mamak nggak bingung begini," ucapku pada Zio dan Nisa.

__ADS_1


"Tante Deli, tuh …." 


__ADS_2