Ingin Tenang, Dengan Menumpang

Ingin Tenang, Dengan Menumpang
Bab Empat


__ADS_3

Ingin Tenang, Dengan Menumpang


By KhaRa_Asha


Bab Empat


[Di mana kamu Dena? Ada tamu, bukannya dilayani malah kamunya keluyuran nggak ada di rumah! Suaraku sampai serak memanggil kamu berjali-kali dari kamar Nisa!  Kamu nggak siapin makanan buat aku, apa harus aku bilang lapar dulu baru kamu kasih makan, begitu! Bawakan sekalian sama minuman dingin ke kamar, aku tunggu sekarang!]


Tadi sebelum ke rumah Amel, harusnya aku meminta Nisa menyiapkan makanan untuk Kak Deli di meja makan. Semoga saja teriakan Kak Deli tak membuat Zio dan Bang Hasyim terganggu tidurnya. Belum sehari di sini, Kak Deli sudah membuat Nisa sangat kesal begitupun juga aku. Ku hela nafas dan mempercepat langkah, memasuki dapur dari pintu samping rumahku. Di meja makan sudah tidak ada tudung saji, sepertinya Nisa membereskan semuanya seperti yang biasa kulakukan. Lauk yang tersisa akan disimpan di lemari makan, sebenarnya aku sudah memisahkan lauk dan sayur untuk Kak Deli yang ku simpan di lemari. 


Sepiring Nasi, lauk dan sayur di wadah terpisah sudah tersaji di nampan. Ku ambil minuman dingin kesukaan Kak Deli dari dalam kulkas, membuka tutup botol dan menuangkan ke dalam gelas. Ku ketuk pintu kamar Nisa sebelum memutar gagang pintu dan membukanya. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi di dalam kamar Nisa. Ku letakkan nampan di atas nakas, menutup pintu dan menuju kamar tidurku.


Di dalam kamar kami, Bang Hasyim tertidur pulas. Aku tersenyum lega, ku ambil dompet kecil dari dalam lemari dan mengisinya dengan beberapa lembar uang merah dan biru, buat jaga-jaga siapa tahu perlu nanti. Sejenak mematut diri di cermin meja rias, merapikan jilbab dan gamisku. Ku ambil ponsel dari saku gamis, teringat harus mengetik pesan untuk Kak Deli.


[Maaf, Kak Deli tadi sedang di kamar mandi. Makanan dan minuman sudah siap ada di atas nakas, Dena buru-buru ada acara di rumah tetangga. Tadi mau kasih tahu tapi Kak Deli sedang tidur, lupa mau kirim pesan karena tadi lagi bantu siapin acaranya. Semoga Kakak suka gulai ikan sama ]

__ADS_1


Tanda centang dua di aplikasi hijau, mungkin Kak Deli masih di kamar mandi. Ku tekan tombol memanggil nomer ponsel Amel, pasti dia bingung aku tiba-tiba menghilang dari rumahnya. Aku sudah berada di teras, menutup pintu pagar dengan ponsel masih di telingaku mendengarkan nada panggilan yang tak kunjung dijawab hingga terhenti dengan sendirinya. Ku lihat kembali aplikasi hijau, pesanku sudah dibaca Kak Deli tapi dia tak membalasnya.


Kebetulan Mbak Ulfa tetangga seberang rumahku juga baru keluar dari rumahnya, dia tersenyum ramah menyapaku. Setelah menutup pintu pagarnya, Mbak Ulfa berjalan menghampiriku yang masih fokus melihat layar ponsel. Kami tetangga di sini memanggilnya dengan panggilan Mbak, karena dia berasal dari pulau Jawa. 


"Baru mau ke rumah Amel, ya? Kalau begitu, kita barengan saja. Ini saya bawa daster-daster adem baru datang dari Jawa. Nggak apa-apa, kan, saya sekalian tawarin juga nanti." Pertanyaan Mbak Ulfa ku jawab dengan senyum dan anggukan kepala, dan menyimpan kembali ponsel ke saku gamis. Mbak Ulfa berjalan agak lambat karena kantong plastik besar yang dia bawa sepertinya sangat berat, saat aku ingin membantu Mbak Ulfa malah menolak dengan halus uluran tanganku.


Sampai di depan rumah Amel, ternyata sudah banyak tetangga yang datang. Aku mempersilahkan Mbak Ulfa masuk terlebih dahulu dari pintu depan, aku sendiri memilih masuk dari garasi Amel yang terhubung langsung ke ruangan dapurnya.


Aku tersenyum kecut melihat Amel berkacak pinggang dengan wajah seolah-olah sedang marah, tapi jadi terlihat lucu karena Amel sekarang menggoyang-goyangkan pinggangnya dan bertingkah konyol. Tawa kami pun pecah, wajah Amel sampai memerah karena tertawa berlebihan.


"Nggak usah merasa bersalah begitu, senyum manisnya mana? Temani Rima tuh, kasian dia kewalahan meladeni cerewetnya Bik Sari," ucap Amel. Nanti akan ku jelaskan pada Amel setelah acara selesai, sekarang aku harus membantu Rima.


"Ini Nastar buatan Amel atau buatan kamu Dena," tanya Bu Desi. Mulutnya penuh mengunyah nastar, tangannya memegang toples nastar yang isinya sudah tersisa setengah. 


"Buatan saya, Bu Desi. Kemaren Amel lagi banyak pesanan nasi kotak, jadi Dena bikin sendiri dibantu Nisa tentunya. Maaf kalau rasanya nggak seenak buatan Amel," lirihku.

__ADS_1


"Oh, ya. Pantesan rasanya beda dari yang ku beli sama Amel lebaran haji tadi, nanti Ibu minta sedikit buat kasih Hesti. Dia nggak bisa ikut, lagi pergi sama adeknya beli buku ke tokonya Mbak Ulfa." Bu Desi masih sibuk mengunyah, sesekali matanya memperhatikan Rima yang sedang menjelaskan tentang manfaat dan cara penggunaan produk perawatan wajah.


"Sebentar Dena ambilkan kantong plastik, Ibu-Ibu yang lain mau saya ambilkan juga nggak?" Mbak Ulfa, Dek Julia, Kak laura dan Kak Dinar menyahut bersamaan, perhatian pun jadi teralih padaku. Aku menangkupkan tangan memohon maaf, ternyata aku sudah mengganggu Rima yang sedang memberi contoh mengaplikasikan produk ke wajah Bu Wilda. Sekilas ku dengar tadi Bu Wilda memang sudah lama memakai produk yang sama dengan yang dijual Rima, bahkan dia menawarkan diri untuk menjadi contoh pengaplikasian produk.


Aku kembali dari dapur Amel setelah mengambil kantong plastik. Kuberikan beberapa buah pada Bu Desi, Mbak Ulfa, Dek Julia,.Kak Laura dan Kak Dinar. Sisanya ku letakkan di atas meja, mungkin nanti ada yang perlu kantong plastik lagi.


Tak terasa satu jam lebih sudah berlalu. Rima terlihat sudah selesai menjelaskan tentang produk jualannya, dan mulai terlihat sibuk melayani pembelian. Aku sangat bersyukur, acara rujakan berjalan lancar. Rima pun senang karena barangnya lumayan banyak dibeli tetanggaku. Aku mendekati Mbak Ulfa yang sedang mengeluarkan semua daster bawaannya tadi, lumayan murah harganya lima puluh ribuan saja. Aku tertarik dan mengambil dua buah daster motif bunga berwarna biru dan merah, mengeluarkan satu lembar uang merah dan memberikannya pada Mbak Ulfa.


"Terimakasih Dek Dena, penglaris ini. Sini, biar saya masukin kantong plastik dulu. Nggak sekalian beli buat Nisa, ini ada loh yang buat remaja," tawar Mbak Ulfa. Tangannya cekatan memilah-milah daster yang dimaksud, kemudian memberikannya padaku.


Model dasternya memang cocok untuk Nisa, satu set bawahan celana panjang dan atasan lengan panjang dengan motif kartun yang menarik. Ku pilih dua warna kesukaan Nisa, merah muda dan hijau. 


"Harga yang ini sama, ya, Mbak Ulfa? Aku mau dua yang ini, jadikan satu saja kantong plastiknya sama punya saya ini." Aku memberikan daster itu kembali ke Mbak Ulfa,


"Oh, kalau yang ini tujuh puluh ribu satu setnya. Jadi kalau dua buah, seratus empat puluh ribu," terang Mbak Ulfa.

__ADS_1


Ku berikan satu lembar uang merah dan satu lembar uang biru, Mbak Ulfa menerimanya dan menyerahkan kembalian beserta kantong plastik berisi empat daster yang sudah ku bayar tadi. Mbak Ulfa tersenyum senang, dasternya juga laku banyak dibeli tetangga yang lain. 


"Dena, kok dadakan acaranya jadi pindah ke rumah Amel?" Kak Vita menatapku penuh tanya, Aku bingung harua menjawab seperti apa, nggak mungkin menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada semua tetanggaku ini. Aku sudah menduga pasti akan ada yang bertanya, tapi belum sempat memikirkan jawaban yang tepat.


__ADS_2