
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Sebelas
Saat aku akan menyuapkan makanan ke dalam mulutku, tanpa sengaja aku memperhatikan wajah dan leher Imran yang terlihat jelas saat dia mengangkat wajahnya ketika akan meminum air putih. Mataku membulat setelah menyadari apa yang baru saja ku lihat.
•••••
Pipi kanan dekat telinga Imran tampak lebam berwarna biru, di lehernya terlihat samar memar seperti bekas cekikan. Apakah yang telah dialami Imran sebenarnya, menurutku mungkin saja lebam di pipinya akibat tidak berhati-hati saat bermain. Tapi, apakah memar di lehernya juga karena kecerobohannya bermain layaknya anak-anak seperti biasa.
Aku mengambil nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Dalam kepalaku terlintas berbagai macam kemungkinan yang terjadi pada Imran, bila salah mengambil tindakan, semua niat baikku untuk menolong bukannya dihargai malah berbalik menjadi fitnah untuk diriku sendiri.
Aku akhirnya menghabiskan makananku juga, meski sedikit tak berselera karena terlalu memikirkan berbagai masalah yang ku alami hari ini. Bang Hasyim sudah menyelesaikan makannya sedari tadi, dan langsung kembali ke kamar.
Tadi aku perhatikan Zio dengan setia duduk disamping Imran, dia bahkan segera beranjak membantu Imran yang hendak menambahkan nasi dan lauk ke dalam piring. Senang melihat Imran tampak begitu lahap makan, semoga dia betah tinggal bersama keluarga kecilku selama menunggu keluarga Kak Laura datang menjemputnya.
Setelah Imran selesai makan, Zio mengajaknya ke ruang keluarga. Sekarang mereka tampak sedang asyik bersenda gurau di depan televisi, sedangkan Nisa ku perhatikan sedang fokus membaca buku novel kesukaannya yang baru ku belikan seminggu yang lalu.
Satu per satu piring dan semua peralatan makan ku bereskan, aku harus bergegas mengingat aku belum melaksanakan shalat isya. Setelah memastikan keadaan dapur dan meja makan sudah bersih dan rapi, aku beranjak menuju ruang keluarga.
"Nisa, Zio dan Imran sudah shalat isya?" Sambil bertanya, tanganku dengan cekatan bergerak membereskan beberapa buku bacaan juga koran yang berserakan, ini pasti ulah Zio yang sering lupa mengembalikan buku-buku ketempat semula setelah dia membacanya. Hobiku adalah membaca, seperti cerita bergenre romance ataupun misteri. Aku membiasakan anak-anakku untuk gemar membaca sedari mereka kecil.
__ADS_1
"Zio sama Imran sudah shalat isya, Mak! Setelah Zio kasih tahu Mamak kalau Pak Gani dan Imran datang, Zio langsung kembali ke ruang tamu. Zio minta izin sama Pak Gani untuk mengajak Imran ke kamar, Zio mau Imran mandi, berganti pakaian dan shalat isya bersama," jelas Zio yang dibalas anggukan kepala oleh Imran.
"Alhamdulillah, senangnya Mamak dengernya. Semoga persahabatan Zio dan Imran selalu terjaga baik hingga kalian dewasa nanti, aamiin." Zio dan Imran saling berpandangan, senyum manis tersungging di wajah mereka berdua.
"Aamiin …." sahut Zio, Imran dan Nisa bersamaan.
"Nisa juga sudah shalat isya, loh, Mak! Kita beresin kamar tamunya sekarang, ya?" tanya Nisa.
"Oh, iya, belum beresin kamar tamu! Mamak mau shalat isya dulu, Nisa sekarang tolong bantu Mamak ambilkan sprei dan juga selimut di lemari yang ada di gudang. Sama penyedot debu yang Mamak letakkan di samping rak alat-alat pancing Bapak, langsung saja bawa ke kamar tamu," pintaku pada Nisa.
Di dalam kamar, Bang Hasyim sepertinya sedang memeriksa laporan hasil penjualan toko kami di laptopnya. Aku sempat melirik ke arah laptopnya untuk memastikan sebelum masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian dan berwudhu.
"Bang, Adek mau beres-beres kamar tamu sama Nisa. Jangan tidur duluan, ya! Ada yang mau Adek ceritakan, ini penting!" Selesai shalat isya, kebiasaanku selalu membersihkan tempat tidur dan menyemprotkan pengharum ke bantal, guling dan selimut. Bang Hasyim masih asyik dengan laptop di meja kerjanya, aku memeluk punggung Bang Hasyim, menyandarkan kepalaku di bahunya. Bang Hasyim mengusap-usap lembut lenganku, hal seperti ini saja sungguh terasa begitu menenangkan untukku.
Aku berdiri di depan pintu kamar tamu, terdengar suara penyedot debu yang baru dinyalakan. Ku lihat Nisa sedang membersihkan kasur, seprai dan sarung bantal guling sudah dilepasnya yang ditumpuknya begitu saja di dekat pintu kamar mandi.
Setiap kamar di dalam rumahku ada kamar mandi didalamnya, saat akan membangun rumah ini, aku dan Bang Hasyim memang merancangnya seperti itu. Menurutku itu penting, agar saat beraktivitas pagi tidak perlu saling berebut kamar mandi. Apalagi Nisa yang mempunyai kebiasaan mandi sangat lama.
Nisa hampir selesai membersihkan kasur kemudian memasang seprei, aku membantunya memasang sarung bantal dan guling. Lantai kamar sudah tampak bersih dan berbau harum, cepat juga Nisa membersihkan kamar ini, atau mungkin aku tadi yang terlalu lama di kamar.
"Akhirnya … selesai juga!" Nisa menjatuhkan bobotnya di atas ranjang, aku tertawa geli melihat tingkahnya yang berguling-guling diatas kasur.
"Kalau begitu, Mamak kembali ke kamar, ya! Kalau Nisa masih capek, besok subuh saja cucian kotor dan yang lainnya di bereskan. Tidur sekarang, besok pagi kita pergi ke pasar. Mamak pengen masak ketupat pakai opor ayam buat makan siang. Gimana, atau Nisa pengen dimasakin apa?"
__ADS_1
"Wah … enak itu, Mak! Minumnya es cincau, jadi ngiler …." Mulut Nisa terbuka lebar, sepertinya dia sedang membayangkan nikmatnya kalau minum es di siang hari yang panas.
Aku hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Nisa yang masih bertingkah seperti anak kecil di atas tempat tidur.
Di ruang keluarga, aku menghentikan langkah ketika melihat Zio sedang mengoleskan sesuatu ke lengan Imran. Kancing baju tidur yang dipakai Imran dibuka separuhnya, lengan baju sebelah kanan di singkap ke belakang. Terlihat jelas lebam membiru di dekat ketiak Imran, tapi aku tak langsung mendatangi mereka berdua.
Setelah mengambil kotak P3K yang ku simpan di dekat meja dapur juga segelas air putih, perlahan aku mendekati Imran dan Zio.
"Eh … Mamak!" Zio tersentak menyadari kehadiranku. Imran bergegas menarik bajunya berusaha menutupi lengannya, kancing baju pun dipasangnya dengan terburu-buru.
"Maaf … tadi Mamak nggak sengaja lihat waktu lewat dari kamar tamu mau ke dapur. Yang Zio olesin ke lengan Imran tadi apa, ya?" Zio menunjukkan padaku botol minyak kayu putih yang dipegangnya sedari tadi.
"Emangnya kenapa lengan Imran? Ada yang sakit? Sini, Tante bantu buat obatin. Boleh kan Tante membantu Imran, kalau nggak diobati nanti Imran bisa demam," pintaku tulus pada Imran.
Imran mulai membuka satu per satu kancing baju tidurnya, aku memintanya untuk melepasnya saja. Ternyata bukan hanya lebam di dekat ketiaknya, ada beberapa luka bekas goresan di dekat perut dan dadanya, terlihat jelas karena Imran tidak memakai kaus dalam.
Dengan telaten aku mengompres lebam yang ada di tubuh dan wajah Imran, meski sedikit meringis karena merasa sakit, Imran tak memberontak sama sekali. Aku memberikan obat pereda nyeri dan segelas air putih pada Imran, awalnya dia termangu memandang ke arahku, tapi akhirnya diminum juga tanpa bertanya sedikit pun.
"Sekarang Imran pakai kembali bajunya, ya? Imran kalau Tante bertanya, Imran bersedia nggak untuk menjawab dengan jujur," tanyaku pada Imran.
"Tan–Tante, mau … tanya apa sama Imran?" Kepalanya menoleh ke arah Zio, seolah memastikan sesuatu pada sahabatnya itu. Zio menggelengkan kepalanya dengan kuat, aku menduga mereka berdua sedang merahasiakan sesuatu.
"Imran bersedia jujur sama Tante, kan? Kenapa di tubuh dan wajah Imran penuh luka dan lebam?" Kuusap pelan pundaknya, berharap Imran bercerita apa yang sebenarnya dialaminya.
__ADS_1
Bukan kalimat penjelasan yang ku dengar dari mulut Imran, yang terdengar malah isakan tangisnya yang semakin lama semakin keras. Aku semakin terheran-heran, karena Zio Pun ikut menangis sambil memeluk Imran.