Ingin Tenang, Dengan Menumpang

Ingin Tenang, Dengan Menumpang
Bab Tujuh


__ADS_3

Ingin Tenang, Dengan Menumpang


By KhaRa_Asha


Bab Tujuh


"Aaarrgh … Bang Kurdi!" Kak Laura pergi terburu-buru meninggalkan kami menuju rumahnya, teriakannya memanggil nama suaminya dengan penuh amarah terdengar semakin nyaring.


Aku bergegas keluar rumah hendak mengikuti Kak Laura, namun lenganku tiba-tiba dicekal Bang Hasyim. 


"Di rumah saja, nggak perlu ikut campur, biar Laura menyelesaikan masalahnya sendiri," pinta Bang Hasyim.


Tak berselang lama tetangga sekitar terlihat berhamburan keluar dari rumah mereka karena mendengar teriakan Kak Laura, beberapa dari mereka langsung mendatangiku yang masih berdiri di depan pagar rumahku. Mereka menanyakan apa yang sebenarnya barusan terjadi. Aku menatap Bang Hasyim yang sedang duduk di kursi teras meminta persetujuannya, yang dijawab dengan gelengan kepala. 


Mereka mulai saling berbisik satu sama lain, mungkin penasaran dengan apa yang terjadi sehingga Kak Laura berteriak seperti itu.


Mbak Ulfa mendekatiku dengan mimik wajah sangat penasaran, tapi dia sangat mengenalku yang tak pernah mau menjawab bila ditanya soal aib orang lain. 


"Kayaknya aku tadi lihat Laura masuk ke rumahmu pas aku lagi terima paket dari kurir, artinya dia tadi teriak-teriak setelah keluar dari sini dong," tebak Mbak Ulfa dengan mimik serius. 


Aku hanya tersenyum dan memilih untuk tetap diam tak menjelaskan apapun yang ingin diketahui Mbak Ulfa, dia tampak tersinggung karena merasa aku mengabaikannya.


"Maaf, ya, Mbak Ulfa! Dena nggak bisa bercerita apapun, nanti jatuhnya fitnah karena Dena sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Kak Laura," terangku pada Mbak Ulfa. 


"Mana mungkin kamu nggak tahu apa-apa, kan tadi Laura berteriak dari dalam rumahmu terlebih dahulu," tuduh Mbak Ulfa. Dia tampak tak puas dengan jawaban yang ku berikan, mulutnya tampak komat kamit beranjak meninggalkanku   mendekati Kak Vita dan Dek Julia yang berdiri tak jauh dari halaman Kak Laura.

__ADS_1


Masih terdengar suara pertengkaran dari rumah Kak Laura, bahkan sekarang suara bantingan pintu yang sangat keras yang membuatku tersentak mendengarnya. Semua pasang mata serentak langsung mengarah ke sana, tiba-tiba Kak Laura keluar dari rumahnya dan berlari ke arahku, wajahnya sembab dan terlihat sangat berantakan. Padahal saat datang ke rumah tadi, pakaian dan wajahnya tertata rapi dan cantik.


Bukannya menolong, mereka malah tampak asyik bergunjing, seolah-olah Kak Laura adalah tontonan menarik yang harus dikomentari. Tanpa memperdulikan mereka, aku menggandeng tangan menuntunnya duduk di kursi teras. Pandangan matanya terlihat kosong, tangannya *******-***** ujung kemejanya yang tampak sedikit robek.


Ku papah Kak Laura masuk ke dalam rumahku, Nisa yang sejak peristiwa tadi berdiri di depan pintu, ku minta untuk membawakan handuk bersih  dan baskom berisi air hangat. Kak Laura duduk bersandar di sofa dengan tangan yang terus memijat kepalanya. Entah masalah apa yang sedang dihadapi Kak Laura sehingga harus mengalami hal seperti ini, Nisa memberikan semua yang ku minta yang diletakkannya di atas meja tamu. Mata Kak Laura tetap terpejam ketika aku membersihkan wajahnya menggunakan handuk kecil yang sudah dibasahi terlebih dahulu dengan air hangat, berarti dia nggak menolak niat baikku untuk membantunya.


Di luar rumah Bang Hasyim mencoba untuk memberi pengertian kepada para tetangga untuk segera kembali ke rumah mereka masing-masing, meski sempat ku dengar agak berdebat tapi akhirnya mereka membubarkan diri dengan sendirinya.


Kak Laura sudah tampak sedikit tenang setelah meminum segelas teh hangat yang baru saja diberikan oleh Nisa, wajah dan tampilannya pun sudah sedikit rapi setelah ku bantu menyisir rambut dan merapikan pakaiannya. 


Di benakku terbersit banyak hal yang ingin ditanyakan pada Kak Laura, sepertinya sekarang saatnya kurang tepat. Baru kali ini aku melihat Kak Laura berteriak penuh amarah, karena sehari-harinya yang ku tahu, Kak Laura orang yang periang, tak pernah berkata kasar dan cenderung lebih suka berdiam diri di dalam rumah. Kak Laura dan Bang Kurdi sudah berumah tangga selama delapan tahun, namun belum dikarunia buah hati.


Sudah setengah jam Kak Laura di rumahku, tapi tak tampak Bang Kurdi datang menyusul ke sini. Ponsel Kak Laura berdering nyaring hingga terdengar sampai ke dapur, apa yang Kak Laura lakukan sampai dering berakhir dan kembali berdering lagi berulang kali. Nisa ke luar dari kamar tamu ke dapur karena merasa terganggu dengan suara dering ponsel Kak Laura, begitupun Zio dan Bang Hasyim. Yang ku heran Kak Deli sama sekali tak keluar dari kamar Nisa, apa dia nggak mendengar peristiwa sebelumnya dan juga deringan telepon barusan.


"Gimana ini, Abang? Nggak tega rasanya melihat Kak Laura seperti ini, tapi nggak mungkin juga kita membiarkannya disini dalam keadaan begini. Bang Kurdi juga kenapa nggak menyusul istrinya ke sini." 


"Dena sama Nisa gantian jaga Laura di sini, Abang mau ke rumah Pak Danu. Masalah ini harus diselesaikan dan Abang mau Pak Danu sebagai ketua RT di komplek sini menjadi saksi, karena kita sendiri nggak tahu seperti apa masalah yang sebenarnya," tutur Bang Hasyim.


Setelah Bang Hasyim pergi ke rumah Pak Danu, aku meminta Nisa menemani Kak Laura. Makanan yang sudah ku siapkan untuk Kak Laura tadi belum sempat ku bawa ke ruang tamu.


Saat melewati kamar Nisa, tiba-tiba terbersit di benakku ingin tahu apa yang dilakukan Kak Deli di dalam sana, masih tidurkah atau jangan-jangan malah pingsan. Ku ketuk pelan pintu kamar Nisa, hingga ku ulangi ketukan yang ketiga kalinya tak ada juga sahutan dari dalam. Aku memutuskan untuk membuka saja pintu kamar Nisa yang tak terkunci, di atas sofa kamar tampak Kak Deli dalam posisi tengkurap. Telinganya memakai earphone yang tersambung ke ponsel, sesekali kakinya dinaik turunkan seperti sedang menikmati alunan musik. Tangannya sibuk mengetik sesuatu di ponsel, pantas saja nggak keluar kamar sama sekali bahkan sampai nggak menyadari kehadiranku yang sedari tadi memperhatikannya di depan pintu kamar.


Ku tutup kembali pintu kamar Nisa dan bergegas mengambil makanan untuk Kak Laura. Sesaat sebelum aku sampai di ruang tamu, suara Nisa terdengar sedang berbincang dengan seseorang. Di ruang tamu yang kulihat hanya ada Kak Laura yang masih tertidur, sedangkan Nisa ada di pintu pagar bersama Mbak Ulfa yang tampak salah tingkah karena melihatku sudah berada di pintu depan rumah.


"Ada perlu apa, Mbak Ulfa? Maaf kami sedang menunggu Pak Danu datang, jadi maaf sekali lagi nggak bisa menerima tamu lain." Aku menangkupkan kedua tangan di depan dada, berharap Mbak Ulfa mau mengerti dan segera pergi.

__ADS_1


"Halah kamu ini, sudahlah! Kayak nggak ngerti aja, apa susahnya sih cerita sedikit aja, biar aku nggak penasaran," sungut Mbak Ulfa sambil bersedekap.


"Jangankan Mbak Ulfa, Dena saja nggak ngerti apa-apa, loh! Jadi mohon jangan berasumsi sendiri kalau belum mendapat kebenarannya, ya, Mbak."


Pak Danu, Bang Kurdi dan Bang Hasyim tampak sedang berjalan menuju rumahku, Mbak Ulfa memilih pergi tak membantah lagi saat menyadari kedatangan mereka. Aku menghembus nafas lega, tak harus berdebat lebih lama lagi sama Mbak Ulfa yang jiwa kepo nya terlalu tinggi.


Nisa sudah masuk ke rumah terlebih dahulu sebelum Mbak Ulfa kembali ke rumahnya. Meja tamu sudah tampak bersih, hanya tersisa nampan berisi makanan untuk Kak Laura. Tak lama Nisa datang kembali membawa minuman dan camilan padahal aku belum memintanya, semoga Nisa tetap menjadi pribadi yang santun dan mengerti adab saat ada orang yang bertamu.


Kak Laura tersenyum melihatku, dia memintaku untuk duduk di dekatnya. Wajahnya terus menunduk menyadari kehadiran suaminya, tangannya ku lirik mulai meremas ujung kemejanya lagi.


Aku tak sengaja memperhatikan wajah Bang Kurdi ketika memasuki rumah, matanya merah seperti orang yang sedang teler. Rambutnya acak-acakkan, dari tempatku duduk bisa tercium aroma alkohol yang agak kuat. Bang Kurdi memilih duduk di sofa yang berseberangan dengan Kak Laura, tak ada terlihat raut khawatir ataupun sedikit rasa peduli pada istrinya. Mungkin karena sedang mabuk, jadi tak ada rasa belas kasihan bahkan untuk istri yang sudah menemaninya selama delapan tahun.


"Saya selaku tuan rumah membawa Pak Danu ke sini sebagai saksi untuk mencari penyelesaian masalah yang terjadi antara Kurdi dan Laura, bisa kalian ceritakan apa yang terjadi sebenarnya!" Bang Hasyim memulai pembicaraan setelah sebelumnya mempersilakan Pak Danu untuk duduk.


"Iya, benar kata Pak Hasyim. Saya sebagai Ketua RT merasa wajib membantu masalah yang terjadi di komplek perumahan kita ini, apalagi tadi saya dengar semua warga komplek keluar rumah karena mendengar pertengkaran kalian," tegas Pak Danu.


"Warga sini saja yang terlalu ikut campur masalah rumah tangga orang lain, kayak nggak punya kerjaan aja! Mau saya apakan istri saya, ya, terserah saya! Istri nggak becus begini, kok, bisa-bisanya kalian bela," tuding Bang Kurdi.


Aku, Bang Hasyim dan Pak Danu saling bertatapan. Bang Hasyim terlihat sangat kaget, karena saat ingin meminjam uang tadi siang, Bang Kurdi bersikap sangat baik seperti yang biasa dia kenal. Saat ini dia berusaha memaklumi Bang Kurdi yang sedang dalam.pengaruh alkohol.


"Hasyim, mana uang yang kamu janji mau pinjamkan tadi siang! Malam ini uang itu harus ada, jadi, mana uangnya berikan padaku sekarang," pinta Bang Kurdi pada Bang Hasyim.


"Jangan! Laura mohon, jangan berikan pinjaman sepeserpun pada Bang Kurdi," jerit Kak Laura.


Tiba-tiba Bang Kurdi beranjak dari duduknya, dengan penuh emosi mengambil gelas berisi teh kemudian melemparkannya ke arah Kak Laura. 

__ADS_1


__ADS_2