Ingin Tenang, Dengan Menumpang

Ingin Tenang, Dengan Menumpang
Bab Dua Belas


__ADS_3

Ingin Tenang, Dengan Menumpang


Bu KhaRa_Asha


Bab Dua Belas


Bukan kalimat penjelasan yang ku dengar dari mulut Imran, yang terdengar malah isakan tangisnya yang semakin lama semakin keras. Aku semakin terheran-heran, karena Zio pun ikut menangis sambil memeluk Imran.


¤¤¤¤


Aku spontan memeluk Imran dan Zio, sejenak ku biarkan mereka berdua menangis menumpahkan rasa yang mereka rasakan. 


"Loh … kok jadi nangis bareng-bareng gini. Gimana, masih pengen nangis lagi, atau … mau cerita sesuatu sama Tante?" Aku duduk di tengah-tengah antara Imran dan Zio, memandang mereka bergantian.


"Mau cerita sama Tante aja," sahut Imran setengah berbisik padaku. Matanya masih berkaca-kaca dengan pandangan terus menatap pada Zio.


"Alhamdulillah Imran mau cerita sama Tante, nggak perlu takut dan sungkan. Imran sudah Tante anggap seperti anak Tante sendiri," ucapku tulus.


"Gimana keadaan Ibu di rumah sakit, Imran kangen …." Imran menyandarkan kepalanya di bahuku, aku mengusap-usap punggungnya untuk menenangkan.


"Kata Om, tadi Ibunya Imran sudah sadar. Do'akan Ibu bisa cepat pulih, jadi bisa berkumpul bersama Imran lagi." 


"Alhamdulillah …, aamiin! Kasihan Ibu, dua hari lalu, Ibu hampir di pukul Bapak. Kebetulan Imran ada pas Bapak mau mukul, Imran langsung peluk Ibu …," ungkap Imran dengan polosnya. Raut wajahnya begitu sendu, tatapan matanya kosong memandang ke arah lantai.


"Imran baru selesai mandi, waktu Ibu dan Bapak bertengkar. Yang Imran sempat dengar, Bapak butuh uang buat bayar utang sama temannya," sambung Imran.

__ADS_1


Aku mencoba mencerna dan menyimak perkataan Imran dengan baik, kedua tanganku menggenggam erat tangan kanan Imran.


"Jadi, maksudnya Bapak tidak sengaja memukul Imran, ya?" Imran menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca kembali. 


"Bu–bukan begitu Tante, karena Imran peluk Ibu, Bapak jadi tambah marah. Bapak hampir saja menarik tangan Imran, tapi tiba-tiba Ibu sudah mendorong Bapak hingga terjungkal ke belakang. Handuk Imran sampai lepas karena Ibu meminta Imran cepat-cepat lari bersembunyi di kamar. Karena buru-buru, Imran malah dua kali jatuh dan terbentur, juga tergores sesuatu saat di depan pintu kamar," terang Imran sembari terisak pelan.


"Astaghfirullah … sabar, ya. Semoga Bapak Imran segera sadar dari perbuatan yang salah, tetap selalu do'akan Ibu sama Bapak, ya!" 


"I–iya, Tante. Tante tahu nggak kapan Imran dijemput, sebenarnya Imran masih mau di sini saja bersama Zio selama liburan," resah Imran.


"Tante belum tahu, nanti coba Tante bicarakan dulu sama Om. Sekarang Zio sama Imran masuk kamar dan tidur, istirahat, ya!" Imran dan Zio mengangguk dan langsung beranjak menuju kamar.


Sebelum kembali ke kamarku, aku menyimpan kembali kotak P3K ketempat semula. Aku teringat Nisa, sebaiknya aku memeriksa dia terlebih dahulu. Biasanya kalau tidak diingatkan, pasti akan lambat tidur karena asyik membaca novel.


Di kamarku, Bang Hasyim sudah berbaring di ranjang sambil menonton film di televisi. Aku masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan memakai rangkaian produk perawatan muka yang ku pesan dari Rima. 


Setelah selesai membersihkan diri, aku berbaring disamping Bang Hasyim. Aku pun ikut menonton film drama yang sedari tadi ditontonnya.


"Bang … hari ini luar biasa banget rasanya! Mulai dari datangnya Kak Deli, acara promosi produk jualan Rima, masalah Kak Laura. Abang pasti nggak nyangka, ternyata Imran juga kena imbas dari amarah Bang Kurdi, loh," jelasku dengan penuh semangat. Aku memulai bincang malam kami sebelum tidur, hal ini biasa aku dan Bang Hasyim lakukan agar selalu saling terbuka dan bisa lebih saling memahami.


"Imran terkena imbas, maksudnya Kurdi menganiaya Imran juga? Tadi Abang sempat perhatikan, ada memar di wajah Imran," tanya Bang Hisyam.


"Kata Imran, waktu Kak Laura dan Bang Kurdi bertengkar, Bang Kurdi mau menarik tangan Imran saat dia memeluk erat Kak Laura yang hendak dipukul sama Bang Kurdi. Kak Laura tiba-tiba mendorong tubuh Bang Kurdi hingga terjungkal, dan meminta Imran untuk cepat lari bersembunyi di kamar, karena terburu-buru Imran malah terjatuh dan terbentur. Kasihan Imran, padahal niatnya hanya ingin melindungi Kak Laura." Dadaku terasa sesak, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.


"Adek … Abang tahu, istri Abang ini paling nggak bisa melihat kalau anak-anak disakiti. Alangkah baiknya, biar Kak Laura dan Bang Kurdi menyelesaikan masalah rumah tangga mereka tanpa campur tangan kita yang bahkan tidak tahu sama sekali inti permasalahannya." Bang Kurdi menasehatiku, dia bisa membaca pikiranku yang sangat ingin membantu Kak Laura dan Imran. Aku mengusap air mata yang sudah mulai membasahi pipiku.

__ADS_1


"Lebih baik, Adek fokus sama masalah Kak Deli saja. Abang sudah mendengar langsung dari Bang Anto, waktu Adek beres-beres kamar tamu tadi Abang menerima telepon dari Bang Anto. Tapi untuk sekarang Abang belum bisa memberikan saran, kita harus mendengar dari banyak pihak dulu sebelum mengambil tindakan," sambung Bang Hasyim.


Mataku menatap langit-langit kamar, sepertinya rencanaku untuk mengajak anak-anak berlibur ke tempat wisata harus di tunda. Sempat terpikir untuk mengakali Kak Deli dengan mengatakan kami akan liburan di kampung beberapa hari, jadi Kak Deli mau tak mau harus ikut kami pulang ke kampung.


Ujung hidungku di sentil Bang Hasyim, aku pun tersentak karena terlalu asyik dengan pikiranku sendiri. Andai semudah itu memulangkan kembali Kak Deli ke kampung, agar dia mau menyelesaikan masalah rumah tangganya.


"Abang perhatikan, kok, Adek banyak melamun! Lancarkan, acara Rima tadi?" tanya Bang Hasyim mengalihkan pembicaraan. Lengannya di lebarkan, dengan isyarat mata, dia memintaku membaringkan kepalaku di lengannya. 


"Iya ya, tadi lagi mikirin gimana caranya biar Kak Deli mau pulang kampung. Alhamdulillah, acara Rima tadi berjalan lancar, banyak juga yang akhirnya beli produknya. Waktu Adek lagi di kamar Nisa, Adek lihat Kak Deli juga pakai merk produk yang sama. Memang merk itu lagi terkenal dan banyak peminatnya, semoga saja usaha Rima semakin berkembang pesat," harapku. Pandangan ku dan Bang Hasyim masih fokus pada tayangan film di televisi.


"Aamiin …," sahut Bang Hasyim. Aku sudah merasa sangat mengantuk, mulutku terus menguap. Tanpa kusadari, aku tertidur di lengan suamiku.


○○○○○


Aku, Bang Hasyim, Nisa, Zio dan Imran sedang menikmati sarapan bersama di meja makan. Pagi ini, aku dibantu Nisa memasak nasi uduk dengan lauk ayam goreng, telur dadar, bihun goreng dan sambal goreng kentang.


Selesai sarapan dan membereskan dapur, aku dan Nisa sedang bersiap-siap pergi ke pasar. Bang Hasyim sudah berangkat ke toko lebih pagi dari biasanya, katanya sudah ada janji sama pelanggan yang akan memesan barang untuk dibawa keluar kota.


Zio dan Imran ku izinkan bermain game di komputer yang ada di ruang keluarga, dengan batas waktu hanya dua jam saja. Mereka berdua bersorak kegirangan, maklum Zio dan Nisa hanya diperbolehkan bermain game satu kali dalam seminggu.


Aku dan Nisa berjalan beriringan menuju pintu depan, saat melewati kamar Nisa, Kak Deli keluar dari kamar. 


"Mau pergi ke pasar, ya. Kakak mau ikut, ada yang mau di beli. Kalau titip kamu, nanti nggak sesuai yang aku mau!" ucap Kak Deli.


Aku benar-benar terpana dengan sosok yang berdiri di hadapanku sekarang, bahkan sampai nggak tahu harus berkata apa. Di sampingku, Nisa menutup mulutnya dengan tangan seperti sedang menahan tawanya. Aku mencubit pinggang Nisa, sebagai tanda jangan membuat Tantenya itu murka.

__ADS_1


__ADS_2