
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Dua
"Assalamu'alaikum …," Suara serak khas Bang Anto terdengar diseberang telepon.
"Wa'alaikumsalam …," sahutku lirih.
"Sudah dibaca pesanku Dena? Kok kamu mau saja menerima istriku datang ke rumahmu? Aku sudah hubungi Bapak tadi malam, dan ada amanah dari beliau buat kamu yang harus aku sampaikan!" berondong Bang Anto.
Loh, bagaimana bisa aku menolak Kak Deli yang ingin datang ke rumahku.
"Tu–tunggu sebentar, Bang! Dena nggak paham apa yang barusan Bang Anton sampaikan! Pesan yang tadi juga, Dena benar-benar nggak mengerti!" potongku.
"Sekarang di mana Deli? Tolong berikan ponselmu ke Deli, aku mau bicara! Dari tadi malam aku nggak bisa menghubungi Deli, nomerku di blokirnya!" resah Bang Anto.
"Tolong Abang jelaskan dulu, sebenarnya ada apa? Amanah apa dari Bapak yang mau Abang sampaikan?" tanyaku.
Bang Anto adalah suami kedua Kak Deli, mereka baru menikah dua bulan lalu. Aku turut serta menghadiri acara lamaran waktu itu. Tapi saat pernikahan mereka aku nggak bisa hadir, karena Nisa harus mengikuti lomba di sekolahnya.
"Deli nggak cerita apapun sama kamu, Den?" tanya Bang Anto.
"Nggak cerita apa-apa, Bang! Tadi malam Kak Deli menelpon Dena. Kak Deli bilang dia sedang dalam perjalanan ke sini, cuman itu! Dena nggak berani menyanggah atau bertanya, takut Kak Deli tersinggung dan marah," jelasku.
"Kakakmu meminta cerai padaku! Aku ingin menyelesaikan semuanya baik-baik, tapi Deli malah pergi melarikan diri begini! ungkap Bang Anto lantang.
__ADS_1
Mulutku membulat, kepalaku rasanya tiba-tiba sangat pusing. Kenapa tiba-tiba jadi begini, tapi tadi Kak Deli terlihat senang dan bahagia seolah tak ada masalah apapun yang terjadi padanya.
"Bisa kamu tolong bujuk Deli, kami berdua harus bicara!" desak Bang Anto.
"Bang Anto tenang dulu, ya! Kak Deli sedang istirahat di kamar Nisa, nanti biar Dena coba bicara dulu sama Kak Deli. Tentang amanah Bapak, apa terkait masalah ini juga, ya, Bang?"
"Baiklah, Den. Semoga Deli mau mendengarkan kamu. Soal amanah Bapak, kata beliau kamu harus bisa tega dan tegas meminta Deli untuk pulang kembali ke kampung. Agar masalah ini tak berlarut-larut, Bapak sangat malu pada keluarga besar di kampung." papar Bang Anto.
Ingin sekali rasanya bertanya lebih banyak lagi pada Bang Anto, tapi ku urungkan niat itu. Nanti saja ku minta bantuan Bang Hasyim untuk bicara lagi dengan Bang Anto.
"Maaf, ya, Den! Abang malah jadi mengganggu dan merepotkan kamu, hubungi Abang secepatnya, ya! Aku sudah nggak tahan menanggapi pertanyaan semua keluarga di kampung," keluh Bang Anto.
"Insya'Allah … Dena nggak merasa terganggu atau direpotkan, semoga masalah ini bisa cepat terselesaikan, ya, Bang! Aamiin …."
"Aamiin … Assalamu'alaikum!" Bang Anto mengakhiri panggilan.
[Assalamu'alaikum Dena, Deli sekarang ada di rumahmu kan? Harusnya kamu menolak kedatangan Deli dengan alasan apapun, jadi dia nggak punya tempat untuk melarikan diri!]
Ku letakkan ponsel di nakas. Bismillah … kucoba menjernihkan pikiran dengan membaringkan badan di ranjang, tanganku memijat kepala yang tiba-tiba saja terasa sakit karena masalah Kak Deli.
Usia Kak Deli sudah lima puluh tahun, wajahnya cantik, tubuhnya langsing dan sangat terawat. Dari pernikahan pertama, Kak Deli dikaruniakan dua orang putera. Anak pertama bernama Bian, sudah menikah dan memberikan dua orang cucu untuk Kak Deli. Bian tinggal bersama di rumah Kak Deli, dia juga membantu Kak Deli mengelola usaha warung makan. Sedangkan anak kedua bernama Leon bekerja di kota, sudah menikah tapi belum memiliki anak.
Suami pertama Kak Deli meninggal dunia dua tahun lalu karena sakit, pernikahan dengan Bang Anto terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh saudara Bapak.
Awalnya aku mengira Kak Deli tidak akan mau menikah lagi, selain usianya yang sudah berumur, yang kutahu rasa cinta dan baktinya pada almarhum Bang Muhsin sangat besar. Saat mendapat kabar dari Kak Deli bahwa aku harus hadir di acara lamarannya, aku sangat kaget dan nggak percaya tapi hanya berani mengiyakan dan menuruti semua apa yang disampaikannya diseberang telepon.
Ternyata rasa gengsi yang terlalu besar seolah mengharuskan diri Kak Deli membuat acara layaknya lamaran wanita yang belum pernah menikah. Rumahnya dihias mewah, di depan rumah dipasang dua buah tenda untuk tamu. Bahkan Kak Deli dirias oleh MUA yang terkenal di kampungku. Untuk acara pernikahan ternyata lebih mewah lagi, aku hanya bisa melihat semua dari foto-foto yang dikirimkan Kak Deli setelah selesai acara.
__ADS_1
Suara Zio mengucap salam terdengar dari arah pintu belakang rumah, mungkin sudah selesai gotong royongnya. Ku rapikan sedikit seprai yang tergeser dan menyalakan pendingin ruangan, juga menutup semua jendela kamar.
Aku baru selesai memghidangkan makanan di meja makan, Zio keluar dari kamarnya, wangi harum sabun tercium sampai dihidungku.
"Mak … lapar," ringis Zio. Kedua tangannya meremas perut dengan ekspresi memelas.
"Bapak mana, Zio? Panggil Kak Nisa dulu, ajak makan bareng. Selesai makan, langsung sholat!"
"Bapak lagi ngobrol di teras sama Bapaknya Imran. Dimana Kak Nisanya? Zio capek banget nih, Mamak aja lah, ya, yang panggilkan," pinta Zio.
Baru selangkah aku akan mencari Nisa, ku dengar suara sendok dan garpu yang berjatuhan di meja makan. Zio tersenyum kecut menatapku, tangannya yang tak sengaja menyenggol tempat sendok kini terlihat sibuk membereskan kembali.
"Mak … Zio makan duluan, ya? Setelah makan mau tidur sebentar, soalnya nanti sore mau main sepak bola sama teman-teman," dalih Zio. Belum sempat aku menjawab, Zio sudah membuka tudung saji dan mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.
"Sudah cuci tangan, kan? Mau kerupuknya, nggak? Kalau mau, ambil di lemari dekat kulkas, ya," tunjukku.
"Iya, Mak." sahut Zio sebelum memulai makannya.
Aku kembali ke kamar karena mendengar dering ponsel, belum sempat menekan tombol hijau, panggilan sudah terhenti. Ku usap layar ponsel, tertera nama Rima di panggilan tak terjawab. Tak berselang lama kembali ponselku berdering, Rima lagi yang menelpon.
Rima adalah keponakanku, dia tinggal di kota yang sama denganku. Aku baru teringat memesan salah satu produk yang dijual di toko onlinenya, dan hari ini Rima berjanji akan mengantarkan ke rumah.
"Assalamu'alaikum Tante Dena!" Salam Rima diseberang telepon.
"Wa'alaikumsalam … Rima jadi mau ke sini, kan? Gimana produk pesanan Tante, sudah ada atau belum?" cecarku.
"Tante Deli ada di rumah, ya, Tante? Produknya besok Rima kirimkan pakai kurir aja, ya? Tadi pas Rima mau ke rumah Tante, Mama telepon ceritain sesuatu. Maaf, ya, Tante. Mama melarang Rima ke rumah Tante Dena, kata Mama nanti jelasin sama Tante lewat telepon," ungkap Rima.
__ADS_1
Kok Kak Yuni sampai melarang Rima ke rumahku, hanya karena Kak Deli ada di sini. Apa sih sebenarnya yang dilakukan Kak Deli. Sekarang bukan hanya kepalaku yang sangat pusing, perutku tiba-tiba mulas karena merasa cemas.