
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Enam
"Eh Dena! Tadi pas acara aku dengar Rima dan Vita bicara kalau dia mendapat pinjaman modal usaha dari kamu, apa karena dia keponakanmu jadi kamu lebih memilih membantu dia saja dan tidak membantu aku tetanggamu yang sedang butuh bantuan, hah! Padahal jumlah uang yang mau ku pinjam tak sebanding dengan jumlah uang yang Rima belanjakan untuk semua produk yang dia tawarkan tadi," ketus Kak Laura.
Kak Laura mau pinjam uang? Gimana aku mau meminjamkan, Kak Laura sendiri tak pernah bicara mau meminjam sejumlah uang padaku. Baru selesai tentang Rima dan kamar tamu untuk Kak Deli, sekarang ditambah lagi Kak Laura yang tiba-tiba marah-marah karena merasa aku tak mau meminjamkan uang padanya.
"Kak Laura, sebelumnya Dena minta maaf, ya! Sepertinya ini ada kesalahpahaman, Dena nggak pernah dengar secara langsung dari Kak Laura kalau Kakak mau meminjam uang pada Dena. Tolong Kak Laura ceritakan lebih jelas lagi sama Dena, karena Dena benar-benar baru tahu sekarang dari Kak Laura," jelasku.
"Sebenarnya tadi siang sepulang gotong royong di ujung komplek, Bang Kurdi langsung menemui suamimu ke rumah dengan maksud mau meminjam sejumlah uang. Bang Kurdi bilang Bang Hasyim nggak bisa langsung memberikan pinjaman karena harus bicara dulu sama kamu, dan akan segera memberi kabar karena kami membutuhkan uang itu malam ini juga. Dan ini sudah sangat sore, kalau memang nggak mau meminjamkan, harusnya dikabari secepatnya jadi kami bisa cari pinjaman ketempat lain," cecar Kak Laura penuh emosi.
"Astaghfirullah … ternyata begitu, ya, Kak! Maaf sebelumnya, dari siang Dena baru sekali bertemu langsung dengan Bang Hasyim waktu ada pelanggan yang mau mengambil barang pesanan. Setelah itu pun langsung kembali lagi ke rumah Amel tanpa sempat mengobrol apapun dengan Bang Hasyim. Dena terlalu fokus mengurusi acara rujakan yang harus berpindah tempat ke rumah Amel, Dena yakin Bang Hasyim tidak akan lupa, pasti dia di rumah juga sedang menunggu untuk membicarakan tentang hal yang Kak Laura maksud."
"Baiklah, bagaimana kalau kita sekarang juga ke rumahmu. Biar semuanya jelas dan tidak akan ada salah paham lagi, maafkan Kakak yang tadi langsung marah-marah sama kamu," lirih Kak Laura.
"Hmm … Kak Laura tunggu di sini dulu, ya! Ada yang harus Dena bicarakan sama Amel, cuma sebentar saja. Dena juga mau ambil toples nastar jadi bisa sekalian dibawa pulang ke rumah." Kak Laura mengangguk setuju, wajahnya yang tadi kusut dan kesal mulai terlihat tenang.
__ADS_1
Ruang keluarga Amel sudah sangat rapi dengan perabotan yang tertata apik, tercium parfum ruangan beraroma segar membuat sangat nyaman berada di sini. Aku harus menanyakan pada Amel varian parfum ruangan yang digunakannya di ruangan ini, pasti Amel nggak akan keberatan aku juga memakai parfum ruangan yang sama dengannya. Sungguh aroma yang bisa membuat suasana hati jadi tenang. Aku tersentak saat menyadari Amel sudah berada di depanku, dia tertawa melihat ekspresi wajahku yang tadi sedang merem melek menikmati suasana.
"Ngapain tadi sampai matamu merem melek begitu, nggak lagi kesurupan, kan?" Amel tergelak sesekali dia meletakkan telapak tangannya berulangkali di dahiku.
"E–enak saja bilang kesurupan, Nyai Dena sedang merapal mantra biar awet muda!" Amel semakin tergelak, tubuhnya ku dorong-dorong pelan hingga sampai ke dapur.
"Amel … terimakasih banyak untuk hari ini, ya! Sebenarnya ada yang mau aku curhatin, tapi terpaksa ditunda dulu karena Kak Laura nungguin aku di depan, katanya ada perlu sedikit sama Bang Hasyim." Aku meraih kardus berisi toples kosong, mengucapkan salam berpamitan pada Amel.
Kak Laura langsung beranjak dari duduknya ketika melihat aku keluar dari pintu garasi rumah Amel, aku memberi isyarat anggukan kepala pada Kak Laura untuk mengikutiku menuju rumah.
"Kak Laura tunggu di sini sebentar, ya! Sepertinya pintu depan dikunci." Kak Laura hanya menganggukkan kepalanya, aku pun bergegas masuk ke rumah lewat pintu samping.
"Assalamu'alaikum … Zio nggak jadi pergi main sepakbola? O iya, kamu Nisa kapan pulang dari rumah Tante Amel, kok tiba-tiba sudah di sini aja! Sebelum pulang pamit dulu nggak sama Tante Amel? Kalian sudah mandi dan shalat ashar, kan?" Melihatku tampak kerepotan Zio menghampiriku untuk mengambil kardus yang kubawa, dan diletakkannya diatas meja dapur. Belum sempat mereka menjawab semua pertanyaanku, aku sudah bergegas menuju ruang tamu. Setelah membuka pintu depan, aku mempersilahkan Kak Laura masuk ke ruang tamu dan terpaksa memintanya kembali menungguku.
"Silahkan duduk Kak Laura, Dena tinggal ke dapur mau ambilkan minum sekalian panggil Bang Hasyim dulu, ya, Kak!" Sebenarnya tak enak hati dari tadi aku selalu meminta Kak Laura menunggu, tapi harus bagaimana lagi, semoga Kak Laura mau memaklumi.
Di dapur, Nisa sedang mencuci gelas sambil mendengarkan musik menggunakan earphone. Agar tak membuat Kak Laura menunggu lama, sebaiknya aku meminta bantuan Nisa untuk menyuguhkan minuman dan camilan ke ruang tamu untuk Kak Laura yang sedang menungguku dan Bang Hasyim. Sebelum bicara aku perlahan melepaskan earphone di telinga Nisa, kalau tidak dilepas dulu walaupun aku berteriak dengan keras Nisa nggak akan mendengar suaraku.
"Nisa, bisa bantu Mamak, kan? Tolong bawakan tiga botol minuman dingin, dua toples camilan dan tiga air mineral kemasan ke ruang tamu. Jangan lupa, tiga gelas kosong juga, ya! Bawa pakai nampan biru yang di lemari, terimakasih, Sayang." Nisa hanya menjawab dengan isyarat tangan oke, meletakkan gelas di rak piring dan mulai menyiapkan semua yang ku pinta tadi.
__ADS_1
Di kamar, rupanya Bang Hasyim baru selesai mandi dan sudah berpakaian rapi. Wangi sabun mandi kesukaanku terkuar memanjakan hidung, ingin rasanya segera mandi menyegarkan tubuh yang sudah sangat lelah ini. Tapi rasanya tak nyaman kalau harus mandi terburu-buru, juga jadi merasa tak enak hati dengan Kak Laura yang sudah menunggu dari tadi.
"Tadi Bang Kurdi datang ke sini, ya, Bang? Kak Laura cerita, katanya dari siang menunggu kabar dari Abang, tentang bisa atau tidaknya mereka mendapatkan pinjaman uang. Sekarang Kak Lauranya ada di ruang tamu menunggu kita berdua, karena tadi sempat terjadi salah paham antara Kak Laura dengan Dena." Aku menggamit tangan Bang Hasyim hendak mengajaknya keluar bertemu Kak Laura.
"Sekarang Dena temui Laura, minta tolong dia untuk menghubungi suaminya agar bisa datang ke rumah kita juga sekarang. Abang jam tiga sore tadi sudah mengirimkan pesan ke ponsel Kurdi, mengabarkan bahwa Abang bersedia memberikan pinjaman uang untuk mereka. Pesan abang sudah terkirim tapi belum dibaca juga sampai sekarang ini. Salah paham apa Laura sama kamu, Sayang?" Bang Hasyim menuntunku untuk duduk bersamanya di sofa yang berada di sudut kamarku.
Aku ceritakan semua yang terjadi di teras rumah Amel, tanpa ditambah atau dikurangi sedikitpun. Bang Hasyim hanya tersenyum menanggapi ocehanku, jemari tangannya mulai menggelitiki bawah lenganku. Aku yang tak sempat menghindar, hanya bisa tertawa lepas menahan geli yang teramat sangat.
Bang Hasyim menghentikan kelitikannya di lenganku dan memintaku segera menemui Kak Laura yang sedang menunggu di ruang tamu. Semoga saja Nisa sudah menyuguhkan minuman dan camilan untuk Kak Laura.
Di ruang tamu Kak Laura sedang asyik menikmati kue kering cokelat buatanku, dia hampir tersedak karena kaget dengan kehadiranku yang tiba-tiba.
"Minum dulu, Kak! Maaf karena harus menunggu lama, Bang Hasyim sebentar lagi ke sini. Tadi Bang Hasyim berpesan, minta tolong Kak Laura menghubungi Bang Kurdi agar datang ke sini juga sekarang." Kak Laura tampak sedang mencoba menghubungi suaminya, setelah dicoba berulang kali sampai Bang Hasyim sudah berada di ruang tamu, hanya suara operator yang menjawab panggilan.
"Kenapa nomer ponsel Bang Kurdi tak bisa dihubungi, ya?" Kak Laura beranjak dari duduknya hendak berpamitan memanggil suaminya langsung ke rumah. Tapi Bang Hasyim memintanya untuk duduk kembali.
"Sebenarnya begini, Laura! Abang sudah mengirimkan pesan dari jam tiga sore ke ponsel Kurdi, sudah terkirim tapi belum dibaca juga sampai sekarang!" Bang Hasyim memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan pesan yang sudah terkirim ke ponsel Bang Kurdi tapi belum dibaca.
"Aaarrgh … Bang Kurdi!" Kak Laura pergi terburu-buru meninggalkan kami menuju rumahnya, teriakannya memanggil nama suaminya dengan penuh amarah terdengar semakin nyaring.
__ADS_1