
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Lima Belas
Setelah melewati ruang keluarga, langkah kakiku terhenti. Paper bag di tanganku terjatuh begitu saja, isinya berhamburan di lantai tempatku berdiri. Mataku membulat, kedua tanganku saling bertautan hingga gemetar berusaha sekuat tenaga menahan amarah.
¤¤¤¤¤
Di depan mataku, aku melihat pemandangan yang sangat tidak ingin aku lihat ada di dalam rumahku. Kak Deli duduk di meja makan dengan santainya, dia memakai celana pendek yang menunjukkan jenjang kakinya hingga paha dengan atasan kaos ketat yang mencetak ketat lekuk bagian atas tubuhnya. Aku sadar, amarahku sekarang nantinya hanya akan membuat anak-anakku mencontoh hal yang tidak baik dari diriku sendiri.
Mungkin karena suara televisi yang agak keras, tak satupun yang ada di meja makan menyadari kehadiranku, meskipun jarak antara ruang keluarga dan meja makan tak terlalu jauh. Terlihat Zio, Imran dan Nisa duduk membelakangiku, mereka asyik makan sambil mengobrol. Sedangkan Kak Deli, posisinya menghadap ke arahku tapi tatapannya fokus ke layar ponsel, dan di telinganya menempel earphone yang terhubung dengan ponselnya.
Setelah dapat menguasai diri, aku memungut semua gamis yang terjatuh dan memasukkannya kembali ke dalam paper bag. Aku beranjak menuju meja makan, paper bag berisi gamis tadi sudah ku letakkan di atas rak buku di ruang keluarga.
Aku berdiri di samping Kak Deli yang masih duduk dan asyik menatap layar ponsel, "Kak, sudah selesai makannya? Dena mau ngomong sebentar di kamar tamu," ucapku pada Kak Deli. Tak ada sahutan sama sekali, mungkin Kak Deli tak mendengar suaraku karena sedang memakai earphone. Nisa, Zio dan Imran saling berpandangan, ketiganya menunjuk ke arah telinga mereka masing-masing, memberi isyarat padaku kalau Kak Deli tidak mendengarku.
Kak Deli baru akan beranjak dari meja makan ketika aku menepuk bahunya pelan, dia tersentak hingga ponsel di tangannya terlepas dan jatuh membentur ujung meja makan hingga akhirnya jatuh ke lantai.
Kak Deli buru-buru mengambil ponselnya di lantai, layar ponselnya tampak retak. Saat Kak Deli coba menyentuh layar ponselnya, ternyata masih bisa digunakan. Kak Deli menatap tajam ke arahku, aku pun membalas tatapannya dengan pandangan polos tanpa dosa.
"Dena! Ponsel ini baru 2 bulan Kakak beli, sekarang sudah retak begini layarnya. Kenapa harus ngagetin kayak tadi, ngomong, kan, bisa!" hardik Kak Deli padaku di depan Nisa, Zio dan Imran. Kedua kakinya dihentak-hentakkan, matanya mulai berkaca-kaca, tangannya terus mengusap-usap layar ponselnya yang retak.
Nisa, Zio dan Imran terpana melihat Kak Deli yang menghardikku begitu kerasnya. Aku menarik lengan Kak Deli, mengajaknya pergi dari meja makan ke kamar tamu. Di dalam kamar tamu, Kak Deli mulai menangisi ponselnya yang rusak. Aku meminta Kak Deli untuk duduk di sofa kamar tamu sebelum mulai berbicara padanya.
"Sebelumnya Dena minta maaf, karena tepukan pelan Dena di bahu Kakak, jadinya malah ponsel Kakak jatuh dan retak. Dena sudah ngomong, loh, sebelum menepuk bahu Kakak." Aku memberikan kotak tisu yang ku ambil di atas nakas kepada Kak Deli.
Kak Deli mengambil kotak tisu dari tanganku, mengambil beberapa lembar tisu kemudian meletakkannya di samping tubuhnya. Kak Deli sudah tampak sedikit tenang, tangannya terlihat sibuk mengetik pesan di aplikasi hijau miliknya.
"Kenapa Kakak keluar berpakaian seperti ini, Dena kecewa sama Kakak! Padahal Dena baru saja dari rumah Kak Dinar membelikan gamis untuk Kakak pakai saat keluar dari kamar, bagaimana kalau tiba-tiba Bang Hasyim pulang!" tegas kepada Kak Deli dengan tatapan tajam.
"Salah kamu sendiri, kenapa lama banget baru belikan gamis buat aku. Dari pada kelaparan, ya, mending aku keluar kamar. Kan, di luar sana Hasyim sama anak-anakmu juga sering lihat orang lain berpakaian seperti Kakak sekarang. Ribet banget jadi orang, dalam rumah aja harus ada aturan berpakaian," hina Kak Deli padaku.
__ADS_1
"Ini rumah Dena, Kak! Terserah orang lain mau berpakaian apa di luar sana, tapi orang yang ada di dalam rumah ini harus menaati peraturan yang sudah Dena dan Bang Hasyim buat," tegasku lagi. Aku memejamkan mata setelah menjatuhkan bobotku di pinggiran ranjang, berusaha menguatkan diri untuk tetap tegas pada Kak Deli.
"Iya … iya, nggak perlu banyak omong. Sekarang mana gamisnya, kayak di penjara aja rasanya nggak boleh keluar kamar!" Kak Deli menatapku dengan pandangan kesal, kedua tangannya ditadahkan ke arahku.
"Sebentar Dena ambilkan, tadi Dena taruh di atas rak buku." Aku beranjak keluar dari kamar tamu. Di ruang keluarga sudah ada Nisa, Zio dan Imran yang sedang bermain monopoli bersama-sama.
"Kalian sudah selesai makannya? sebentar lagi adzan dzuhur, nanti sholat dulu baru dilanjutkan lagi mainnya, ya!" pintaku pada Nisa, Zio dan Imran. Ketiganya menoleh ke arahku kemudian kompak menganggukkan kepala mereka dengan cepat.
Aku sudah berada di depan kamar tamu membawa 3 gamis untuk Kak Deli, belum sempat masuk ke dalam, aku mendengar suara ketukan pintu depan. Aku menunda masuk ke dalam kamar tamu, gamis untuk Kak Deli ku letakkan di atas meja tamu sebelum melangkah membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum!" Terdengar suara tepat saat aku sudah membuka lebar pintu depan.
"Wa'alaikumsalam, sudah lama menunggu di sini, Narto?" Narto adalah karyawan toko kami yang akan mengambil makan siang untuk Bang Hasyim.
"Nggak, Bu! Baru saja sampai, saya mau mengambil makan siang untuk Bapak," jawab Narto dengan sopan.
"Silahkan duduk dulu, ya! Saya ambilkan sebentar ke dalam," ucapku dengan senyum ramah.
"Rantang ini tolong berikan pada Bapak, sedangkan wadah ini untuk Narto, ya!" Aku menyerahkan semuanya pada Narto, yang disambutnya dengan senyuman dan anggukan kepala.
"Terima kasih banyak, Bu. Saya malah jadi kebagian rezeki hari ini, saya pamit, Bu. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam, hati-hati!" Aku masuk kembali ke dalam rumah setelah Narto melesat pergi dengan motornya.
Gamis yang ku letakkan di atas meja tamu tadi sudah ada di tanganku, ku ketuk pintu kamar tamu sebelum membukanya. Di dalam kamar Kak Deli tampak bersandar di sofa, memakai earphone dan seperti sedang berbicara di telepon.
Aku meletakkan gamis di atas ranjang, Kak Deli tampak tidak mempedulikanku. Dia tetap asyik berbicara dengan seseorang di telepon, aku memilih untuk pergi ke kamar karena sudah terdengar suara adzan berkumandang.
Saat melewati ruang keluarga, Nisa, Zio dan Imran sudah tidak ada. Mungkin mereka sudah masuk ke kamar masing-masing. Aku bergegas ke kamar untuk bersiap melaksanakan sholat.
Selesai sholat, dzikir dan bersholawat. Aku keluar kamar menuju ke dapur untuk makan siang, mengisi piring dengan nasi dan lauk pauknya. Aku menikmati makan siang sambil menonton televisi dari jarak jauh, setelah selesai aku pun mulai membereskan dapur dan meja makan agar rapi dan bersih kembali.
Sekarang waktunya memeriksa jemuran pakaian di samping rumah, aku mengambil satu per satu pakaian yang sudah kering. Setengah jam berlalu, akhirnya aku selesai melipat dan menyetrika pakaian.
__ADS_1
Aku bersantai duduk bersandar di sofa menonton tayangan berita di televisi, samar kudengar suara dari pintu depan. Aku beranjak ke ruang tamu, sebelum membuka pintu, aku mengintip dari balik gorden.
"Paket …." Suara lantang seorang pria muda yang ternyata kurir berjaket hijau dengan logo G terdengar jelas di telingaku.
Pintu depan ku buka lebar, kurir itu menungguku didepan pintu pagar. Seingatku, aku nggak ada memesan barang lewat online sama sekali. Apakah Bang Hasyim yang memesan, atau paket tetangga yang nyasar ke rumahku.
"Benar ini rumah Ibu Deli?" tanya kurir itu sambil membaca nama yang tertera di paket yang dipegangnya.
Aku mengernyitkan dahi, ternyata ini paket untuk Kak Deli. "I–iya, benar disini rumahnya," gagapku.
"Maaf, Bu, saya foto Ibu sebagai bukti penerimaan barang." Kurir itu langsung memfoto ku dengan kamera ponselnya.
"Silahkan tanda tangan di sini, Bu!" Sekarang layar ponselnya di serahkan kepadaku, jarinya menunjukkan di mana aku harus melakukan tanda tangan di layar ponselnya.
"Sekarang yang terakhir, ya, Bu! Silahkan buka paketnya di hadapan saya, saya akan merekam video dan menyaksikan langsung bahwa kondisi barang yang saya kirimkan dalam kondisi baik dan tidak ada kerusakan," terang kurir itu dengan senyum ramah. Dia menyerahkan sebuah kotak yang berukuran tidak terlalu besar, aku menerimanya, dalam benakku masih menduga-duga apa sebenarnya isi didalamnya.
"Maksudnya ini COD, ya? Kalau iya, saya panggilkan dulu yang memesan barang ini!" sanggahku cepat.
"Bukan begitu, Bu! Barang ini sudah dibayar lunas, ini hanya prosedur untuk pengiriman cepat dengan asuransi. Mohon kerjasamanya," lanjut kurir itu dengan tetap tersenyum ramah.
"Sebaiknya saya panggil yang memesan barang ini, nanti bisa ada salah paham." Aku mengeluarkan ponsel dari saku gamisku, dan menghubungi nomor ponsel Kak Deli. Kurir itu menganggukkan kepala, kemudian tampak sibuk dengan ponselnya.
Terdengar nada sambung di telingaku, "kak Deli bisa ke teras sekarang, ada paket untuk Kak Deli!" Tak terdengar suara sahutan di seberang telepon, sepersekian detik yang terdengar malah nada berakhirnya panggilan telepon.
Aku tersentak saat menyadari Kak Deli sudah berada di sampingku, dia sudah memakai gamis yang ku beli tadi, wajahnya tampak berbinar-binar menatap paket yang ada di tanganku.
"Sini paketnya," perintah Kak Deli. Aku tersentak saat Kak Deli tiba-tiba saja langsung merebut paket yang ada di tanganku. Saat Kak Deli hendak langsung beranjak pergi ke dalam rumah, dengan sigap aku menarik lengannya.
"Apa lagi, sih!" hardik Kak Deli.
"Paketnya harus Kak Deli buka di depan kurir ini, kalau Kak Deli buka sendiri di dalam ternyata barangnya rusak, nggak akan bisa klaim nanti." Aku berusaha menjelaskan kepada Kak Deli, meski dengan wajah masam akhirnya Kak Deli mau juga membuka paket itu di depan kurir.
Satu per satu plastik pembungkus paket itu dibuka oleh Kak Deli yang direkam langsung oleh kurir, aku mengerjapkan mata berulang kali saat melihat isi paket milik Kak Deli. Bahkan aku sampai mencubit tanganku, saking tidak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang
__ADS_1