
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Sepuluh
Pintu kamarku diketuk tiga kali, setelahnya terdengar suara Zio memanggil. "Mak … ada tamu di luar, Pak Gani sama Imran," kata Zio.
Pak Gani dan Imran? Ada apa lagi, ya?
••••••
Bang Hasyim menepuk pundakku, ternyata aku masih berdiri termenung di depan meja rias. Sudah tak terdengar lagi suara Zio dibalik pintu, mungkin dia sudah pergi meski tak ada sahutan dariku.
"Ngelamunin apa, sih? Atau lagi memikirkan sesuatu? " tanya Bang Hasyim dengan tatapan yang menyelidik.
"Ooh … tadi Zio kasih tahu, ada Pak Gani sama Imran. Ada apa lagi, ya, Bang?" Bang Hasyim menggelengkan kepalanya, dia pun lantas bergegas memakai pakaian.
Aku memakai jilbab instanku, Bang Hasyim sudah lebih dulu keluar kamar menemui Pak Gani dan Imran. Aku menuju dapur, menyiapkan minuman dan sedikit camilan. Setelah selesai, aku membawanya ke ruang tamu.
Bang Hasyim dan Pak Gani tampak sedang berbincang serius, tak ku lihat Imran di ruangan ini. Aku meletakkan nampan yang ku bawa, menyuguhkan tiga cangkir teh hangat dan tiga piring kecil brownies.
"Jadi ngerepotin … padahal saya nggak lama di sini. Tadi seperti yang baru saja saya sudah sampaikan sama Hasyim, bahwa Imran ingin menunggu di sini bersama Zio selagi menunggu pihak keluarga dari Laura menjemputnya," terang Pak Gani.
"Kalau Kurdi sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Bang Hasyim pada Pak Gani.
__ADS_1
"Setelah kami membawa paksa Kurdi dari sini ke rumahnya, dia sempat mengamuk karena tidak terima kami melarangnya untuk keluar dari rumahnya. Bahkan barang apa saja yang dia temukan dilempar begitu saja ke segala arah, terpaksa akhirnya kami amankan dengan mengikat kedua tangannya ke belakang menggunakan tali. Saya dan Imran baru ke sini setelah terlebih dahulu membereskan barang-barang Imran dan pihak keluarga Kurdi datang untuk membawanya ke rumah orang tuanya" kata Pak Gani.
"Apa saat Bang Kurdi mengamuk, Imran juga ada di sana?" tanyaku cemas.
"Saat Kurdi mengamuk, Imran baru saja datang dari bermain bersama Akbar dan Fadli, tapi saya minta dia duduk di teras menunggu kami menenangkan Kurdi. Kasihan anak itu, tampak gemetar juga menutup kedua telinganya dengan tangan," jelas Pak Gani.
"Astaghfirullah …." Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, aku teringat saat melihat Imran pulang ke rumahnya tadi sore, harusnya aku mengajaknya ke sini agar tidak perlu menyaksikan hal seperti yang diceritakan Pak Gani tadi.
"Silahkan dinikmati teh dan kuenya, Pak Gani. Oh iya, Imrannya dimana? Kata Zio tadi, Pak Gani datang bersama Imran." Di dekat pintu depan yang terbuka, ada satu buah tas ransel dan satu buah koper berukuran sedang. Mungkin itu barang-barang kepunyaan Imran. Aku tidak keberatan jika Imran ingin menunggu di sini, Zio dan Imran memang bersahabat dekat.
"Itu yang di depan pintu barang-barang kepunyaan Imran, ya?" Pak Gani menganggukkan kepala, sembari menikmati suguhan.
"Tadi Zio mengajak Imran pergi ke kamarnya, kasihan anak itu, kata Pak Gani dia belum mandi dan makan," ungkap Bang Hasyim.
"Kalau keadaan Laura di rumah sakit seperti apa, apakah lukanya parah?" tanya Pak Gani pada Bang Hasyim.
"Waktu saya mau pamit pulang dengan keluarga Laura tadi, sepertinya Laura sudah sadar. Luka terkena pecahan gelas tidak terlalu dalam, alhamdulillah bisa cepat ditangani," tukas Bang Hasyim.
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Terimakasih sudah bersedia menerima Imran tinggal sementara di sini, saya sudah memberikan nomor ponsel Hasyim pada pihak keluarga Laura. Jadi nanti mereka akan langsung menghubungi Hasyim saat akan menjemput Imran. Assalamu'alaikum!" Pak Gani menangkupkan kedua tangannya di dada dan tersenyum ramah padaku sebelum melangkah keluar rumah.
"Wa'alaikumsalam …," sahutku dan Bang Hasyim bersamaan. Pak Gani sudah pergi meninggalkan rumah kami, Bang Hasyim mengantarnya sampai di depan pintu pagar. Aku memperhatikan dari depan pintu, Bang Hasyim memasukkan mobil kedalam garasi setelah memastikan pintu pagar terkunci dengan baik.
Tas ransel dan koper Imran ku bawa ke dalam ruang keluarga sebelum memasukkannya ke kamar Zio, entah apa yang sedang mereka lakukan berdua di dalam kamar. Sebaiknya aku meminta tolong pada Zio, untuk memberitahu Imran agar mandi dan berganti pakaian.
Setelah pintu kamar Zio ku ketuk tiga kali, terdengar suara pintu kamar dibuka. "Imran sama Zio, ya, di dalam? Boleh Mamak masuk, ada yang mau Mamak bilang sama Imran," ucapku pada Zio yang masih berdiri di depan.
__ADS_1
"Imran boleh menginap di sini, kan, Mak? Tadi Pak Gani bilang, Imran mau menunggu bersama Zio saja sampai keluarganya datang menjemput," pinta Zio padaku dengan wajah memelas.
"Iya, Sayang. Nanti bantu Mamak bawa barang-barang Imran ke dalam kamar kamu, ya! Sekarang Mamak boleh masuk, kan, ke dalam?"
Zio melangkah masuk ke dalam kamarnya, aku pun mengikutinya, pintu kamar kubiarkan terbuka lebar. Di atas ranjang, Imran sedang duduk dengan menekukkan kedua kakinya. Dia memakai baju tidur milik Zio, wajahnya tertunduk seolah tak ingin aku melihatnya.
"Imran belum makan, kan? Ayo, kita makan sama-sama. Kebetulan Om dan Tante juga belum makan malam, Zio temani Imran di meja makan, ya!" Ku tinggalkan mereka berdua di kamar, biar Zio saja yang membujuk Imran agar tidak perlu malu dan sungkan makan bersamaku.
Aku penasaran bagaimana keadaan Imran saat datang kesini tadi, apakah masih sama seperti yang ku lihat sekilas tadi sore sebelum masuk ke dalam rumah. Nanti saat di meja makan, aku akan menanyakan hal itu pada Zio.
Makan malam sudah siap, aku dan Bang Hasyim duduk di meja makan menunggu Imran dan Zio. Tak lama tampak Zio menuntun tangan Imran yang wajahnya masih terus menunduk.
Aku dan Bang Hasyim duduk berdampingan, sedangkan Zio dan Imran duduk berhadapan dengan kami. Aku berjalan memutari meja agar lebih dekat dengan imran, niatku ingin membantunya agar tidak sungkan mengambil nasi dan lauk.
Ku letakkan piring dihadapan Imran, juga segelas air putih hangat.
"Nasinya cukup segini?" tanyaku pada Imran yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Lauknya mau Tante ambilkan atau ambil sendiri," tawarku pada Imran.
"A–ambil sendiri …," gagap Imran.
Aku kembali ke tempat dudukku semula, dan mulai melayani Bang Hasyim dengan mengambilkan nasi juga lauk pauk untuknya. Setelah itu juga mengisi piringku sendiri, Zio tampak memperhatikan Imran yang hanya mengambil sedikit sayur sop dan sepotong ayam goreng.
Saat aku akan menyuapkan makanan ke dalam mulutku, tanpa sengaja aku memperhatikan wajah dan leher Imran yang terlihat jelas saat dia mengangkat wajahnya ketika akan meminum air putih. Mataku membulat setelah menyadari apa yang baru saja ku lihat.
__ADS_1