
Ingin Tenang, Dengan Menumpang
By KhaRa_Asha
Bab Sembilan
Gedoran keras di pintu kamar mandi terus ku lakukan, terdengar suara gemericik air dan suara aneh yang terhenti berganti sahutan dari dalam kamar mandi.
"Nisa, ya? Ngapain gedor-gedor begitu, Tante, kan, lagi mandi! Sudah pergi sana, sekalian bilang Mamakmu, makan malamnya antar ke kamar seperti tadi siang. Kamu nanti jangan tidur di sini, Tante capek, nggak mau diganggu," pekik Kak Deli.
"Ini Dena, Kak! Masih lama mandinya? Ada yang mau Dena bicarakan, Dena tunggu di meja makan, ya!" Pintu kamar mandi di buka, Kak Deli keluar mengenakan baju tidur yang menurutku terlalu mengumbar aurat. Rambutnya dililit dengan handuk hingga leher jenjangnya terlihat jelas, di tangan kanannya memegang ponsel yang diberi pengaman berbahan plastik anti air.
Kak Deli melewatiku begitu saja yang masih tercengang melihat penampilannya, aku nggak bisa membiarkan Kak Deli berpakaian seperti itu selama dia berada di rumahku. Aku dan Bang Hasyim membiasakan diri dan juga anak-anak untuk tetap berpakaian yang menutup aurat meskipun hanya di dalam rumah saja.
"Mau bicara apa? Sekarang, kan, juga bisa!" tolak Kak Deli. Handuk yang melilit di rambutnya dilepaskan, tampaklah rambut panjangnya yang berwarna pirang.
"Maaf, tadi Dena dengar suara-suara aneh waktu Kakak dalam kamar mandi. Ka–Kakak ngapain?" tanyaku ragu.
__ADS_1
"Apa maksud kamu? Ya … mandi, lah! Memangnya kenapa!" ketus Kak Deli tak suka dengan pertanyaanku. Kak Deli memandangku dengan tatapan sangat sinis, kalau dia tak berbuat seperti dugaanku, harusnya dia tak perlu bersikap seperti ini padaku.
"Dena, kan, nanya baik-baik! Maaf kalau Kakak jadi tersinggung, tapi yang Dena dengar tadi seperti suara orang mendesah-desah," sanggahku.
"Hah … jangan asal nuduh, ya! Tadi tuh Kakak putar lagu dangdut di ponsel, mau dengar? Nih kalau nggak percaya!" Kak Deli menunjukkan padaku di layar ponselnya aplikasi y**tube, tampak seseorang sedang menyanyikan lagu dangdut sambil bergoyang dengan lirik yang membuatku beristighfar di dalam hati.
Ku buang jauh prasangka buruk yang pernah terlintas sebelumnya, semoga Kak Deli bisa menjaga kehormatan dirinya sendiri. Tapi suara yang ku dengar tadi berbeda dengan tayangan di aplikasi y**tube, aku harus membuat Nisa tak sering berdekatan dengan Kak Deli. Aku tak mau Nisa menjadi rusak moral dan mentalnya dengan melihat tayangan seperti tadi dari Tantenya sendiri.
Aku memang tak terlalu dekat dengan Kak Deli, meskipun aku anak bungsu, tapi yang lebih dimanja dan disayang kedua orang tuaku adalah Kak Deli. Mengingat tabiatnya yang mudah marah, egois dan tak pernah mau mendengar nasihat orang lain, biasanya aku akan lebih memilih untuk mengalah daripada terjadi konflik dengan Kak Deli.
Sebelum Kak Deli buru-buru menarik ponselnya dari hadapanku, sempat ku lihat di layar ponselnya ada panggilan video dari aplikasi hijau, tampak foto seorang laki-laki tapi bisa ku pastikan itu bukan Bang Anto suaminya. Panggilan itu dibiarkan saja terus berdering oleh Kak Deli, gerak geriknya mulai gelisah dan salah tingkah.
"Kalau begitu, kamu belikan saja besok. Aku nggak bawa gamis seperti yang kamu pakai sekarang, lagian ukuran badan kita nggak sama, jadi nggak mungkin aku pake baju punyamu selama aku tinggal di sini. Tuh, lihat koper sebesar itu cuman cukup untuk baju-baju jalan, dua pasang sepatu kesayanganku juga dua tas dengan warna senada," dalih Kak Deli. Seperti takut ketahuan, Kak Deli menutupi layar ponselnya yang kembali berdering karena panggilan video.
"Ini yang terakhir kali makan malam untuk Kakak Dena bawakan ke kamar ini, mulai besok pagi sarapan dan seterusnya kita makan sama-sama di meja makan. Pengecualian untuk besok pagi, Kakak sarapan setelah Bang Hasyim berangkat kerja sekitar jam delapan pagi, ya! Besok pagi Dena belikan gamis yang bisa Kakak pakai selama ada di sini, kebetulan ada tetangga di sini yang jualan gamis seperti yang Dena pakai sekarang. Mohon maaf kalau Kakak merasa tidak nyaman, tapi ini demi kebaikan bersama," ungkapku pada Kak Deli. Lebih baik mengalah mengeluarkan uang untuk membelikan Kak Deli gamis harian, karena untuk memintanya pulang kampung besok, aku belum punya alasan yang tepat juga keberanian untuk itu.
"Terserah kamu saja, tapi aku minta Nisa tidur di kamar lain. Anakmu itu cerewet, terlalu banyak tanya, aku pengen istirahat dengan tenang." Kak Deli membuka tas kecil yang diambil dari dalam kopernya, memulai rutinitas memakai serangkaian produk perawatan wajah. Kulihat merk yang dipakai sama seperti salah satu produk yang dijual Rima, aku bersyukur berarti memang produk itu sedang laris dan diminati banyak orang.
__ADS_1
Tanpa memperdulikanku lagi, Kak Deli sibuk dengan aktivitasnya sendiri di kamar Nisa. Aku pun bergegas keluar kamar, perutku sudah terasa sangat lapar. Di depan televisi, Nisa asyik menonton tentunya ditemani setoples kecil stik rasa keju kesukaannya. Aku membawa piring yang sudah ku isi lengkap nasi dan lauk pauk tak lupa segelas air putih ke meja kecil di depan televisi, niatku ingin sekalian mengobrol dengan Nisa.
"Nisa, tadi Mamak sudah siapkan nampan berisi makanan dan minuman buat Tante Deli di atas meja makan, Bisa tolong antarkan sekarang? Nisa ketok pintu, terus bilang saja makanannya ditaruh di depan pintu. Nisa nggak perlu tunggu Tante Deli keluar kamar, langsung tinggalkan saja setelah ditaruh, oke!" perintahku pada Nisa.
Nisa beranjak ke dapur, membawa nampan perlahan pastinya karena takut isinya tumpah. Di sela suapan makanku, ku perhatikan Nisa yang sedang melakukan perintahku tadi. Sepersekian detik Nisa membalikkan badan kembali menuju ke depan televisi, Kak Deli tampak berdiri di depan pintu, mengambil nampan kemudian masuk dan menutup pintu.
Aku tenang, Nisa tak melihat pakaian yang di pakai Kak Deli. Meski Nisa kadang melihat tetangga yang berpakaian seperti itu, aku hanya ingin mencontohkan kebiasaan baik dalam berpakaian kepada anak-anakku di dalam rumah kami sendiri. Aku pernah mendengar, Ibu adalah Madrasah pertama bagi anaknya. Semoga aku bisa mendidik anak-anakku menjadi muslim yang taat, pribadi yang kuat, percaya diri dan juga lembut.
"Nisa, ya, yang bawa nampan makan siang Tante Deli dari kamar," tanyaku.
"Iya, selesai mandi sore tadi, Nisa lihat nampannya ada di lantai dekat ranjang. Ada sedikit sisa makanan berserakan di lantai, juga bekas tumpahan minuman. Untungnya belum disemutin, jadi Nisa langsung beresin dan bersihkan. Tante Delinya malah asyik maen ponsel terus," keluh Nisa.
"Terimakasih, ya, Sayang! Pintarnya sudah mengerti pentingnya menjaga kebersihan rumah. Malam ini Nisa tidur di kamar tamu dulu, nanti habis sholat isya kita beresin sama-sama." Nisa menganggukkan kepala tanda setuju pada ucapanku. Besok pagi setelah Bang Hasyim berangkat kerja, Kak Deli sudah bisa pindah dari kamar Nisa ke kamar tamu.
Zio keluar dari kamarnya mendatangiku untuk mengingatkan bahwa sebentar lagi adzan isya, aku yang sudah selesai makan bergegas mencuci piring dan sedikit membereskan meja makan. Tepat saat adzan isya berkumandang, terdengar suara klakson mobil di luar rumah. Zio yang mengenali suara itu segera keluar membukakan pintu pagar. Bang Hasyim langsung masuk le kamar, aku pun menyusulnya untuk mempersiapkan pakaian ganti.
Di kamar aku menunggu Bang Hasyim yang sedang mandi, pikiranku mengawang pada peristiwa Kak Laura tadi. Semoga saja Kak Laura tidak mengalami luka yang parah di kepalanya, dan kembali cepat pulih seperti semula.
__ADS_1
Pintu kamarku di ketok tiga kali, setelahnya terdengar suara Zio memanggil. "Mak … ada tamu di luar, Pak Gani sama Imran," kata Zio.
Pak Gani dan Imran? Ada apa lagi, ya?